Senin, 19 November 2012

Bukan Hanya Sekedar Bacaan

Pada mulanya aku lupa bahwa sebenarnya surat Al Fatihah bukanlah hanya sekedar bacaan yang selalu aku ulang-ulang dalam setiap shalatku. Aku juga telah terlalu lama lupa bahwa Surat Al Fatihah bukanlah hanya sekedar sebuah ayat-ayat yang sering kuhadiah-hadiahkan kepada orang lain, ayat-ayat yang sering aku berkomat-kamit dengannya saat aku berdo’a diawal kegiatanku sehari-hari. Ternyata sebenarnya bukan begitu… Ternyata surat Al Fatihah itu sebenarnya merupakan sebuah tuntunan agar aku bisa berada dalam posisi bersikap dihadapan Allahku. Setiap ayat dari surat al fatihah itu sebenarnya adalah sebuah tuntunan tanpa henti (isti’anah) yang mampu membawaku selangkah demi selangkah untuk berubah dan bermetamorfosis dihadapan Allahku. Aku yang tadinya adalah seorang hamba yang angkuh dan sombong, mau atau tidak, dipaksa oleh Allahku untuk menjadi seorang hamba yang sangat rendah dan tak berdaya dihadapan Allahku Yang Sangat Agung. Walau proses itu kadang-kadang kurasakan masih sangat tertatih-tatih dan terbata-bata karena kebodohan dan kejahilanku sendiri.

Ternyata surat Al Fatihah ini sebenarnya adalah untaian langkah perjalanan spiritual seorang manusia menuju posisi duduk seorang hamba sahaya dihadapan Allah, abdi dalem Allah, kurir Allah, pesuruh Allah, duta besar Allah, pembantu Allah, wakil Allah (khalifatullah) dihadapan Allah Yang Maha Mencekam.
Dimulai dari mulaaqu rabbihim…
“…Alastu birabbikum…, … bukankah aku ini Tuhanmu…”, seperti ada sebuah desakan yang sangat kuat didalam dadaku untuk menjawab pertanyaan ini…
Karena aku memang sudah capek dan lelah mencari-cari Dzat yang tak perlu dicari-cari sedikitpun, karena aku sudah tidak bisa lagi berpaling kelain Wajah, tidak mau berharap kelain Wujud, maka kuteguhkan saja pengakuanku:
“Bala syahidna…, laa ilaha illallah…”, benar ya Allah, hamba bersaksi bahwa hanya dan hanya Allahlah Tuhan hamba…”, aku menjawabnya sambil tercekam.
Allahku lalu memegang dan menuntun tanganku:
Bersambung…
Salam
Deka


”Wahai hamba-Ku, ulurkanlah tanganmu, begitu juga matamu, telingamu, hatimu, kakimu, lidahmu, dan otakmu untuk Ku-pakai sebagai alat-Ku, sebagai sarana-Ku, sebagai kurir-Ku dalam menyampaikan segala sesuatu yang Ku-inginkan untuk dirimu sendiri, untuk keluargamu, untuk istrimu, untuk anakmu, untuk tetanggamu, untuk perusahaanmu, untuk karyawanmu, untuk atasanmu, untuk rakyatmu, untuk bumimu, dan untuk alammu yang memang seluruhnya telah kuserahkan pengelolaannya kepadamu. Lalukanlah semua tugas itu atas nama-Ku. Janganlah atas nama-nama yang lain, apalagi atas namamu sendiri”.
”Wahai hamba-Ku, terimalah aliran Kasih dan Sayang-Ku ini sebagai bekalmu dalam menjalankan tugas-tugas dari-Ku tadi. Karena Akulah Sang Maha Pengasih (Ar Rahman) atas apapun juga yang kau butuhkan untuk kelancaran tugas-tugasmu itu. Apapun juga Kuberikan kepadamu. Apapun juga. Dan semua yang Kuberikan kepadamu itu, Kuiringi pula dengan segenap rasa Sayang-Ku. Karena Aku memang adalah Sang Maha Penyayang (Ar Rahim)”, sabda Sang Ada menuntun kita dalam sebuah prosesi serah terima mandat tentang pengelolaan alam semesta yang memang telah diciptakan-Nya untuk kita.
Tiba-tiba saja dadaku dialiri oleh rasa kasih dan sayang dari Allah yang sangat mencekam…, kam…, kam…. Rasa itu ditarok oleh Allah sendiri, dan aku dibisakan oleh Allahku untuk menangkapnya. Walaupun kasih dan sayang Allah itu sebenarnya sudah ditarok oleh Allahku dalam liputan-Nya sejak dari dulu (Al Awwalu) dan sampai kapanpun juga (Al Akhiru), namun seringkali dadaku ditutup oleh Allahku untuk menyadari kasih sayang Allah itu karena aku memang telah mengisi dadaku dengan keangkuhan, pengakuan, dan kesombonganku. Walau aku sudah diberitahu bahwa pengakuan, sombong, dan angkuh itu pastilah menutup dan mengeraskan hatiku, namun aku lama sekali tidak bisa keluar dari kungkungan seluruh rasa keangkuhan itu.
Bersambung…
Wassalam
Deka

Lalu kusambut mandat daya kasih sayang Allah itu dengan sangat santun..
”Bismillahirrahmaanirrahiim…”,
”Hamba terima ya Allah segala mandat yang Allah serahkan kepada hamba.
Hamba akan akan bekerja demi Allah, atas nama Allah, dan mewakili Allah…
Hamba akan berkarya demi Allah, atas nama Allah, dan mewakili Allah…
Hamba akan bercipta-rasa demi Allah, atas nama Allah, dan mewakili Allah…
Hamba akan berkarsa demi Allah, atas nama Allah, dan mewakili Allah…
Hamba akan cintai istri dan anak-anak hamba demi Allah, atas nama Allah, dan mewakili Allah…
Hamba akan jalankan perusahaaan demi Allah, atas nama Allah, dan mewakili Allah…”
“Hamba akan alirkan kasih dan sayang yang Allah kepada lingkungan disekitar hamba sesuai dengan kadarnya masing-masing. Semua akan hamba alirkan kembali ketempat-tempat yang semestinya dengan penuh kepatutan dan kepantasan. Sehingga keberadaan hamba di dunia ini bisa dibedakan dengan keberadaan seekor binatang. Hamba terima Ya Allah”, ungkapku dalam keadaan tubuh yang penuh bersimbahkan cahaya kasih dan sayang.
Kubiarkan Allah menyelesaikan prosesi penyerahan kasih dan sayang-Nya itu kedalam dadaku. Akhirnya yang ada adalah rasa kasih sayang dari Allah yang sangat pekat yang memenuhi dadaku…
Kemudian Allahku bertanya kepadaku:
“Wahai hambaku, setelah engkau membaca bismillah…,
Masih sanggupkah engkau untuk melakukan semua aktifitasmu dengan kualitas sekedarnya saja?.
Masih beranikah engkau main-main…?.
Masih beranikah engkau berbohong ?.
Masih sanggupkah engkau melakukan ke fujuran??.
Kerongkonganku tercekat…, lidahku kelu…, nafasku serasa terhenti, mengingat selama ini kualitas aktifitasku jauh dari gambaran seseorang yang mewakili Allah. Jelas sekali ucapan bismillah ku selama ini masih hanya sekedar bacaan saja. “Duh betapa celakanya aku ini…”.
Segera kukeluarkan segala berhala yang selama ini mengisi hatiku. Lalu kupenuhi hatiku dengan janjiku kepada Allah. Dari hatiku yang sudah tidak memuat apa-apa, dari hatiku yang terdalam, aku berteriak sekeras-kerasnya tapi tanpa suara:
“bismillahirrahmanirrahiim…, “bismillahirrahmanirrahiim…, “bismillahirrahmanirrahiim…,
Bersambung
Salam
Deka

”Wahai hamba-Ku, mulai dari sekarang dan seterusnya, bukankah kepada-Ku saja engkau seharusnya berterima kasih?. Karena Aku telah berkenan memilih dirimu diantara jutaan sperma yang terpancar untuk Kujadikan sebagai wakil-Ku dimuka bumi ini untuk menjalankan semua aktifitas-Ku dalam mengelola bumi ini dengan segala isinya, termasuk dirimu sendiri. Dan untuk semua itu kau sebenarnya tidak perlu bersusah payah sedikitpun. Tidak sedikitpun…!. Karena Aku memang telah mengaliri dirimu dengan daya dari-Ku, sehingga dalam beraktifitas itu sebenarnya kau hanyalah sekedar bersandar kepada daya-Ku saja”, ungkap Allahku menimpali keraguan-raguanku atas bisa atau tidaknya aku menjalankan tugas yang sangat berat itu.
Kujawab dengan penuh takzim:
“Benar ya Allah…, Alhamdulillah hirabbil ‘alamin…, terima kasih dan segala pujian hamba hanya untuk Allah…”
Allahku menimpalinya:
“Sekarang, Wahai hamba-Ku…, inilahlah daya-Ku yang akan menuntunmu menebar kasih dan sayang dimanapun nanti kau berada wahai hamba-Ku. Karena Aku memang adalah Sumber dari Daya Kasih dan Sayang Semesta. Ku rembeskan daya ini kedalam dadamu…, Ku penuhi dadamu dengan daya kasih dan sayang-Ku. Terimalah…!, jadilah hamba-Ku yang akan Ku panggil sebagai Abdurrahman dan Abdurrahim”.
Tiba-tiba saja aku merasakan dadaku dialiri dengan getaran rasa kasih dan sayang yang amat sangat pekat. Ruang dadaku dialiri getaran rasa kasih dan sayang. Rasa dingin, sejuk, renyah merambat keseluruh tubuhku. Rasa damai dan sukacita yang dalam mengalir disetiap sel ragaku. Aku hanya bisa tertunduk dan tersujud. Semakin kuterima daya kasih, damai, dan sukacita itu, semakin dalam aku tertunduk dan menyungkur. Malah aku seperti dituntun pula untuk bisa sujud dan menyungkur itu. Orang menyebutnya ini dengan istilah tercerahkan, ya…, silahkan saja.
Sampai suatu ketika, Allahku bertanya kepadaku dengan sedemikian lembutnya:
“Wahai hamba-Ku, bukankah Aku ini Ar Rahmaan…, Ar Rahiim…?”.
”Ar Rahman…, Ar Rahim…”, lidahku berkata dengan menggigil.
Aku terpekik. Mataku terpekik, tubuhku terpekik, hatiku terpekik. Dengan merendah-rendah kusambut pertanyaan-Nya yang sebenarnya tidak perlu kujawab sedikitpun:
“Ya Rahmaan…, Ya Rahiim…, Ya Allah…, Ya Rahmaan, Ya Rahiim…”, lalu aku diam…
Bersambung
Salam
Deka

Sesaat kemudian, dalam setarikan nafas, Allahku meletakkan kepahaman kedalam dadaku: ”Wahai hamba-Ku, lihatlah sekarang. Akulah Sang Penguasa Masa, Akulah Sang Pemilik semua hari. Akulah Raja Yang Menguasai hari segala pembalasan. Akulah pemilik segala kasih dan semua sayang. Siapapun yang bersedia untuk mengalirkan kasih dan sayang-Ku kepada hamba-hamba-Ku yang lain, maka Akupun akan membalasnya dengan menambah dan melipatgandakan aliran kasih dan sayang-Ku kepadanya. Siapapun…!”.
“Karena dialah yang bersedia menjadi hamba-Ku, dialah pesuruh-Ku, dialah yang mau jadi kurir-Ku”.
“Kutegaskan kepadamu: dialah abdi-Ku, dialah pelayan-Ku, dialah prajurit-Ku”.
“Lihatlah…, mereka inilah sebagai contoh dari hamba-hamba-Ku yang bersimbah kasih dan sayang-Ku. Ada Idris, Ada keturunan Adam lain yang telah Aku beri nikmat, Ada keturunan Ibrahim dan Israil, ada orang-orang yang telah Aku beri petunjuk dan nikmat karena mereka telah bersedia menjadi abdi-Ku”.
“Mereka itu, tatkala Ku isi dada mereka dengan ayat-ayat-Ku, tanda-tanda-Ku, dan kemegahan-Ku, mereka itu pastilah menyungkur dengan bersujud dan menangis..”.
“Oleh sebab itu…, bukan-kah Aku ini Rajamu tempat engkau mengabdi juga…?. Akulah Al Malik…!. Akulah Al Malikul Mulk…”
Tiba-tiba saja, tanganku menggigil, mataku menggigil, suaraku menggigil, atom-atom tubuhku menggigil. Karena saat itu kedalam dadaku tengah dialirkan oleh Allah rasa kagum, rasa tercekam, rasa menghormat yang sangat pekat kepada-Nya. Selanjutnya dengan penuh rasa takjub aku hanya tinggal mengiyakan saja kesaksianku:
”Maaliki yau middiin…, benar ya Allah, Allahlah Rajaku yang menguasai segala hari-hari pembalasan”, bisikku dengan ta’zim.
“Iyya ka na’budu… hamba takluk ya Allah…, hamba menyerah ya Allah…, mulai sekarang hanya kepada Allah sajalah hamba seharusnya menghamba, kepada Allah sajalah hamba seharusnya menyembah, kepada Allah sajalah hamba seharusnya patuh…, kepada Allah sajalah hamba seharusnya mengabdi, kepada Daya Allah sajalah hamba seharusnya berpegangan…”.
“iyyaaka nasta’iin…, karena hamba sudah tidak punya apa-apa dan siapa-siapa lagi tempat hamba bergelantungan selain Allah, karena hamba sudah tidak punya ilmu apa-apa lagi yang bisa hamba bangga-banggakan, sekarang mohon tuntunlah hamba ya Allah…,
Mohon bimbinglah hamba ya Allah…,
Mohon alirilah hamba ya Allah,
Mohon rembesilah hamba ya Allah…,
Mohon celuplah hamba ya Allah…,
Ya Allah hamba mohon ya Allah…,
Ya Allah…, ya Allah…, ya Allah…, ya Allah…, ya Allah”.
Bersambung
Salam,
Deka
 
“Ihdinash shiraathal mustaqiim, shiratalladzi na an’am ta’alaihim waladh dhalliin…, Tunjukilah hamba jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Allah anugerahkan ni`mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang Allah murkai dan bukan (pula jalan) mereka yang Allah sesatkan”. Tiba-tiba saja…, aku sudah didudukkan oleh Allahku dalam posisi yang amat sangat rendah dan tidak bisa mengaku apa-apa. Aku didudukan oleh Allahku di ruangan Laa haula wala quwwata illa billah:
Otakku LOS,
dadaku LOS,
mataku LOS,
telingaku LOS,
lidahku LOS,
otot-ototku LOS,
tulang belulangku LOS,
sel-sel tubuhku LOS.
Semuanya mengurai…
Ya…, kulihat semuanya mengurai.
Semua itu kupandang sekilas pandang…
Hei…, semuanya ternyata tengah bersandar didalam Gerak.
Gerak yang didalamnya semua tetumbuhan juga bersandar.
Gerak yang didalamnya semua angin dan awan juga bersandar.
Gerak yang didalamnya semua gunung dan lautan juga bersandar.
Gerak yang didalamnya semua matahari, bulan, dan planet juga bersandar.
Gerak yang didalamnya semua bintang juga bersandar.
Gerak yang didalamnya semua materi bersandar.
Semua materi itu ternyata hanya diam didalam Gerak…
Gerak itulah yang aktif memutar semuanya untuk bergerak…
Gerak itu Maha Aktif mencipta, membangun, membentuk, berkreasi…
Gerak itu Maha Aktif menghancurkan, merevisi, memperbaiki, me-review…
Gerak itu Maha Meliputi…
Ya Muhith…, Ya Muhith…, Ya Muhith…
Gerak itu Maha Hidup…
Ya Hayyu…, Ya Hayyu…, Ya Hayyu…
Gerak itu punya Diri…
Diri itu punya Aku…
Sang Aku menyebut Diri-Nya ALLAH…
Huu… Allah…, Huu… Allah…, Huu… Allah…, Huu… Allah…,
“Laa haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyul ‘azhim…, hamba bersaksi ya Allah…, tidak ada daya, tidak ada upaya, tidak ada gerak, tidak ada tahu, tidak ada melihat, tidak ada mendengar, tidak ada hidup, tidak ada “ada”, kecuali sekedar apa-apa yang Allah alirkan kepada hamba. Karena memang hanya Allah lah yang Maha segala-galanya, Maha Agung…”, ungkapku merendah-rendah…
Bersambung
Salam
Deka

”Sekarang wahai hamba-Ku…
Siapkanlah otakmu untuk Ku-aliri dengan daya pencerahan dari-Ku…
Otakmu itu akan Ku-aliri dengan berbagai rencana-Ku…
Otakmu itu akan Ku-aliri dengan solusi dari berbagai problematika hidup-Mu.
Otakmu itu akan Ku-aliri dengan rancang bangun-Ku yang akan mempermudahmu dalam menjalani hidupmu…
Siapkan pulalah dadamu agar Ku-rembesi dengan kehendak-Ku…
Ya…, Dadamu akan Ku-rembesi dengan Kehendak-Ku…
Dadamu akan Ku-isi dengan Ingin-Ku
Dadamu akan Ku-osmosis dengan Mau-Ku…
Siap-siaplah…
Siap-siaplah…, Aku akan mengalirkan segenap tuntunan-Ku kepadamu…”.
“Wasta’iinu bishabri washalah…, mintalah tuntunan dan pertolongan kepada Allah dengan cara SABAR (DIAM, TENANG, WUQUF) dan dengan cara melakukan SHALAT…”, (al Baqarah 45).
Akupun lalu merunduk dihadapan Allahku untuk menyelami apa-apa yang akan menjadi tugasku yang harus kulakukan hari ini, detik ini, NOW:
“Tugas hamba selanjutnya apa ya Allah ?.
“Pekerjaan apalagi yang harus hamba lakukan ya Allah ?.
“Selanjutnya hamba harus bagaimana lagi ya Allah?.
Lalu akupun Diam…, Diam…, Hening…, WUQUF…..
Aku hanya bisa diam dan sabar menunggu. Sesabar seorang pasien dirumah sakit yang sedang ditangani kesembuhannya oleh seorang dokter. Be patien.
Bersambung kebagian terakhir..
Salam
Deka
 

Hasil yang mencengangkan…
Dari hening, ternyata ada daya yang mengajakku untuk mengamati suasana disekitarku.
Dalam hening, kurasakan ada daya yang memaksaku untuk berbuat sesuatu.
Dari diam, keperhatikan ada daya yang menggiringku untuk berkarya.
Dari diam, tenyata ada daya yang menggerakkan tanganku untuk menulis.
Dari hening, ada daya daya yang mendorongku untuk sibuk dan sibuk.
Dan untuk itu, Aku ternyata hanya tinggal diam…
Daya dari Allah lah yang sibuk mendorongku.
Daya dari Allah lah yang tanpa henti yang mengantarku menuju destiny-ku.
Ya…, daya itu adalah milik Allahku…
Aku hanya tinggal mengikuti saja daya tuntunan dari Allah ku itu disetiap waktu…
Kadangkali aku hanya bisa tercengang…
Sesekali aku bisa menangis bahagia…
Sesekali aku masuk kewilayah kebingungan…
Kadangkala Allahku tidak menyapaku sama sekali…
Lain kali Allahku kembali menarikku untuk mendekat kepada Allahku…
Lain kali Allahku mengirim sejuta masalah sebagai bahan bagiku untuk belajar…
Lain kali Allahku menimpakan penderitaan kepadaku…
Beberapa kali aku hanya bisa meringkuk menjalani hukuman dari Allahku…
Lain kali aku dituntun Allahku selangkah demi selangkah melewati segala rintangan…
Sungguh…, Allahku begitu CARE denganku, walau saat aku membandel sekalipun…
Begitulah cara Allahku menuntunku…
“laa haula wala quwwata illa billah…, laa haula wala quwwata illa billah…, laa haula wala quwwata illa billah. ”
Demikianlah pemahaman singkat saya yang sangat sedernana ini tentang makna jantungnya Al Qur’an, yaitu surat Al Fatihah. Ternyata setiap ayat Al Fatihah itu adalah ucapan lidah yang berasal atas suasana demi suasana yang muncul didalam dada. Lidah saya hanya tinggal mengiyakan suasana yang sudah ada didalam dada itu. Atau bisa juga bacaan itu mengantarkan saya masuk kedalam suasana demi suasana yang sangat khas…
“Duhai Allah…, maafkan hamba kalau hamba salah dalam memahami bahasa Allah…”
Semoga bermanfaat… Mohon diperbanyak maaf bagi yang tidak berkenan…
Wallahu a’lam…
Selesai…
Salam
Deka

 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar