Ya Allah ampuni aku…
Begitulah belasan kali mulut kita menggurimin (menggumam) mengucapkan
kalimat singkat tersebut dalam do’a kita didalam shalat. Namun saat
kita ditanya: “bagaimana jawaban Allah terhadap do’a kita tersebut?”.
Kita biasanya hanya bisa tersenyum kecut menjawabnya. Seakan-akan kita
menyembunyikan sesuatu yang tidak jelas didalam jawaban kita itu.
Sesuatu yang kita sendiri tidak yakin akan adanya jawaban Allah itu.
Kita seperti berada di dalam dunia absurditas. Dunia antara ada dan
tiada.
Karena belum puas berdo’a didalam shalat tersebut, makanya setelah
shalat biasanya kita kemudian kembali berdo’a dan berdo’a dengan
semangat empat lima untuk minta ampun kepada Allah. Kadangkala kita
sebutkan satu persatu kesalahan dan dosa-dosa masa lalu yang mungkin
pernah kita lakukan. Kita kadang juga merintih: “kalaulah tidak Engkau
maafkan aku ya Allah, maka aku akan menjadi orang yang sangat merugi dan
menderita…”. Tidak jarang do’a minta ampun kita itu begitu panjangnya
(lebih panjang dari durasi shalat kita), dan kadang diiringi pula dengan
deraian airmata kita yang membanjir. Semakin kita ingat akan dosa kita,
biasanya sedu-sedan penyesalan kita juga akan bertambah hebat.
Kalau sudah begini, biasanya barulah kita “merasa” puas. Seakan-akan
kita sudah curhat habis kepada Allah. Kita menganggap bahwa do’a kita
itu sudah diterima oleh Allah. Apalagi setelah bertangis-tangisan itu
ada segumpal rasa lega yang menggelayuti dada kita. Puas sekali rasanya.
Makanya dimana ada pengajian atau Ustadz yang bisa membuat orang
menangis seperti ini, biasanya akan dicari-cari orang. Sejauh apapun
tempatnya, akan dijambangi orang dengan mata berbinar-binar.
Ustadznyapun kemudian akan dielu-elukan dan dihormati orang dengan kadar
yang lebih dari orang biasa. Bahkan tidak jarang kita minta do’a kepada
sang Ustadz, seakan-akan kalau sudah dido’akan oleh Beliau semua urusan
tentang kesalahan dan dosa-dosa masa lalu kita itu sudah selesai. Kita
merasa sudah aman….
Namun saat kita kembali ditanya orang: “sebenarnya jawaban Allah atas
do’a-do’a mu yang berbalut oleh air mata tadi apa?”. Jawaban kita mulai
sedikit agak berbentuk. “Setelah menangis tadi, aku jadi puas…, aku
lega…, aku tenang…, dsb…”. “Lalu bagaimana…?”. “Ya besok-besok, kalau
ada acara yang sama aku ingin ikutan lagi”, kata kita dengan raut wajah
sumringah. Seakan-akan kalau kita berdo’a sendirian dirumah itu tidak
afdal. Tidak keren.
Anehnya tidak lama berselang, sambil terheran-heran, kita tiba-tiba
telah melakukan kembali dosa-dosa yang kemaren-kemaren kita minta
ampunkan oleh Allah. Dosa itu seperti terjadi begitu saja, walau kita
tahu bahwa itu adalah dosa, dan kita telah minta ampun pula kepada
Allah. Misalnya betapa sering kita kembali dan kembali bergunjing,
berbohong, iri, dengki, bertengkar dan marah yang nggak karuan, sampai
kepada perbuatan maksiat, mencuri, korupsi, setelah kita tadinya berdo’a
dengan diiringi tangisan pula.
Lalu bagaimana ini ?. Apa yang terjadi dengan do’a-do’a kita kalau
yang terjadi adalah seperti itu?. Sebenarnya jawaban Allah atas do’a
kita diatas itu apa sih bentuknya?.
Mau tahu….?.
Bersambung…
Rabbigfirlii…, ya Allah ampuni aku…
Kalau dalam mengucapkan kalimat diatas, keadaan atau suasana yang
kita temui adalah yang seperti diatas, maka dengan terapi tertawa
nggakak sampai keluar airmata juga akan sama hasilnya. Buat sesaat dada
kita akan terasa lapang. Beban yang menindih dada kita rasa terlepas
buat beberapa waktu. Ada rasa lega yang muncul. Hal seperti ini pernah
saya lihat di discovery channel bahwa ada sekelompok orang yang sering
berkumpul untuk “stress release” dengan cara mereka menciptakan suasana
lucu sehingga pesertanya bisa tertawa terpingkal-pingkal. Walaupun
kadang tidak lucu, tapi kalau urat syaraf tertawanya sudah kena, maka
mereka akan tetap tertawa terbahak-bahak. Kalau keadaannya seperti ini,
namanya kita tengah mengolah dan memakasa otak kita agar otak kita ini
percaya betul bahwa kita lagi senang, kita lagi gembira, atau kita lagi
sedih, kita lagi menyesal, dan sebagainya.
Fitrahnya, otak kita ini kan tidak bisa membedakan apakah kita ini
tengah berimajinasi, melamun, atau mengalami kejadian yang sebenarnya.
Reaksi otak kita sama saja. Masalah ini akan saya bahas lebih lanjut
dalam artikel “Suka-sukamulah”. Apakah kita beragama atau tidak, otak
kita tidak bisa membedakannya. Juga, sekresi hormon yang dikeluarkan
oleh otak sama saja antara kita membayangkan sedang memakan jeruk nipis
dengan sedang memakan jeruk nipis benaran. Kalau kita merasa punya dosa,
lalu kita merintih dan menghiba-hiba penuh penyesalan, maka otak kita
akan meresponnya dengan mensecresikan hormon penyebab airmata kita
keluar. Setelah kita menangis, otomatis hormon pembentuk rasa bahagia
juga mengalir kedalam dada kita, sehingga beban yang selama ini ada
didalam dada kita seperti menghilang. Lalu sejenak dua jenak kemudian
mucul rasa senang dan bahagia didalam dada kita. Sehingga kita merasa
bahwa apa yang kita lakukan barusan adalah sudah benar. Kalau tadinya
kita merasa berdosa dan tertekan, setelah bedo’a, dan bertangis-tangisan
itu kita merasa tenang dan bahagia, kita lalu merasa proses tobat dan
rasa penyesalan kita itu sudah benar adanya. Raut wajah kita sumringah,
mata kita berbinar. Kitapun dengan bangga berkata bahwa apa yang telah
kita lakukan itu sudah benar adanya.
Akan tetapi sayangnya rasa puas dan bahagia seperti itu tidak bisa
bertahan lama. Tidak berapa lama kemudian kita sudah lupa kembali.
Begitu sebuah keadaan yang sangat mendukung kita untuk berbuat buruk
seperti sebelumnya muncul, maka kitapun dengan mudahnya akan kembali
melakukan berbagai perbuatan buruk seperti sebelum-sebelumnya itu. Lho…,
tiba-tiba saja kita sudah terpuruk kembali melakukan perbuatan nestapa.
Rasa bersalah kita kembali mengharu biru.
Inilah salah satu jebakan atau hijab yang sangat halus kalau kita
dalam beragama ini semata-mata hanya berpedoman kepada proses olah otak
atau olah pikir saja dan olah tubuh semata, walau didalamnya ada
perubahan-perubahan fisik dan kejiwaan yang mengikutinya.
Alhamdulillah…, sepengalaman saya, islam telah memberikan kemudahan
yang amat sangat kepada siapapun yang mau mencobanya untuk bisa terbebas
dari segala duka nestapa akibat rasa bersalah dan rasa berdosa atas
perbuatan buruk yang pernah dia lakukan dimasa lalu. Proses itu begitu
sederhananya, yaitu sebentuk do’a pendek yang selalu kita ucapkan dalam
posisi duduk diantara dua sujud. Do’a itu adalah: “Rabbigfirlii…, ya
Allah ampuni aku…”. Sangat-sangat sederhana.
Bersambung…
Dalam kalimat yang sangat sederhana ini, kita tidak perlu
sekelebatpun untuk mengingat-ngingat berbagai kesalahan dan dosa-dosa
masa lalu yang pernah kita lakukan. Sebab begitu kita mengingat berbagai
kesalahan dan dosa kita itu, biasanya objek fikir dan kesadaran kita
akan berpindah kembali kepada kesalahan demi kesalahan kita itu. Begitu
kita ingat sebuah kesalahan dan dosa yang dulu pernah kita lakukan, maka
secara otomatis suasana saat kita sedang melakukan kesalahan dan dosa
itu akan di recall kembali dari memori kita. Kesalahan dan dosa itu
seperti baru saja kita lakukan dan menyata kembali. Namun pada saat yang
sama rasa takut kita akan hukuman dan siksaan dari Allah atas dosa dan
kesalahan itu juga meningkat, sehingga perasaan kita seperti terombang
ambing tak menentu. Dada kita seperti ditekan dari atas dan dari bawah.
Ilmu kita (olah pikir) mengatakan itu dosa, tapi suasana jiwa kita
terlempar keruangan masa lalu yang penuh dosa yang kita ingat kembali.
Suasana seperti ini membuat kita seperti orang dengan kepribadian ganda.
Sehingga kita sering dipanggil sebagai TOMAT BALI, habis (TO)bat
ku(MAT) kem(BALI). Tersiksa sekali sebenarnya.
Namun, kalau membaca Rabbigfirlii itu kita lakukan dengan positioning
yang tepat, maka hasilnya akan sangat berbeda. Proses positioning itu
adalah sebagai berikut:
• Pertama proses persiapan. Ketika sujud.
Saat sujud sebenarnya rohani kita sedang berada pada posisi yang
sangat rendah dihadapan Allah. Kalau positioning kita tepat, maka Rohani
kita dipegang oleh Allah. Akan muncul suasana kerendahan rohani kita
dihadapan Allah. Kerendahan rohani itu bukanlah hasil dari sebuah olah
fikir dan olah emosi. Yang kita dapatkan itu adalah keadaan rendah yang
dituntun, rendah yang bersuasana, rendah yang diperjalankan. Pada saat
yang samapun kita akan dihadapkan pada kenyataan bahwa kita sedang
berjumpa dengan Sang Maha Tinggi.
Biasanya sujud kita yang seperti ini akan menjadi lama. Kita tidak
rela buru-buru untuk duduk. Karena saat itu rohani kita tengah duduk
pada posisinya yang sebenarnya, yaitu posisi yang selalu ingin merendah,
meringkuk, dipegang dan dituntun oleh Allah. Saat sujud itu kita
biarkan rohani kita berserah total kepada Allah. Suasananya seperti
orang yang sedang bergantung dan kita tidak ingin gantungan kita itu
copot. Posisi seperti orang yang sedang terpesona dan kita tidak ingin
keterpesonaan kita itu copot. Tidak jarang muncul sedikit suara
menggeram halus yang keluar bersamaan dengan keluarnya nafas kita.
Itulah suara rohani kita. Sungguh suasana yang sangat pribadi sekali.
Setelah itu dari “DALAM” akan mengalir daya yang begitu halus yang
merambat dan menyentuh pita suara kita sehingga kemudian membentuk bunyi
dalam bentuk bahasa manusia.
“Subhanarabbial a’la wa bihamdihi…”, ungkap kita dengan suara berbisik yang sangat santun dan lirih.
“Sungguh hamba bersaksi akan kemahasucian Allah, Sang Maha Tinggi”.
Ungkapan kita itu adalah sebentuk pernyaan persaksian rohani kita
atas sebuah kebenaran tentang Allah. Sungguh benar hadist Rasulullah SAW
yang menyatakan bahwa saat yang paling dekat seorang hamba dengan Allah
adalah saat sujud itu. Sungguh ucapan pujian kita itu bukan hanya
ungkapan sekedar pemanis lidah saja. Tapi sebuah kebenaran yang menyata.
Sampai pada saatnya, suasana itu akan berakhir dengan sendirinya.
Muncul suasana seperti selesai. Dess begitu…!. Dengan itu kita seperti
dipersilahkan oleh Allah sendiri untuk duduk iftirasy.
“Ya… sudah wahai hambaku…, sekarang tenanglah”.
“La Khaufun…, janganlah takut…, LaTahzan…, janganlah khawatir dan
bersedih hati. Ada Aku yang akan menjagamu…”. Sangat pribadi sekali
suasananya.
Ketika kita dijaga oleh seorang pengawal pribadi saja rasanya begitu
nyaman dan tenang, masak sih SAAT dijaga dan dituntun oleh Allah tidak
ada rasanya sama sekali. Kelewatan sekali memang membatunya hati kita
ini.
CATATAN: Akan tetapi kalau prosesi perendahan rohani kita dihadapan
Allah ini tidak sampai tuntas, artinya sujud itu kita lakukan secara
cepat dan sekelebatan saja, maka rohani kita seperti terlempar di
kegersangan gurun pasir. Rohani kita menggelepar kehausan dan merintih
dengan memilukan. Akibatnya pun segera akan terasa. Sujud kita itu jadi
hambar dan itu akan berpengaruh pula pada perilaku dan perbuatan kita
selanjutnya. Kita akan menjalani hari-hari kita dengan kegersangan dan
kegaringan perilaku pula. Perilaku orang-orang yang hatinya telah
membatu dan mati kata Al Qur’an.
Bersambung…
Nah…, dalam keadaan rohani yang masih bening seperti itu, barulah
kemudian kita duduk IFTIRASY untuk bermohon kepada Allah. Kita bermohon
pertolongan Allah atas hal-hal terpenting yang kita perlukan didalam
hidup kita.
Rabbigfirlii…, Duhai Allah…, ampunilah hamba….
Dalam keadaan rohani seperti diatas, ungkapan permohonan ampun kita
ini terasa begitu dalam. Begitu menghunjam menembus kedalaman rohani
yang tak terbatas. Setelah ucapan itu kita tinggal duduk diam sejenak
untuk menunggu Allah memproses jawaban-Nya atas do’a minta ampun kita
itu. Kita jangan buru-buru untuk pindah mengucapkan do’a yang
berikutnya. Diamlah sejenak.
Dalam sehirupan nafas kemudian, akan ada daya lembut yang turun
membasuh rohani kita. Rohani kita seperti di celup (di shibgah) oleh
daya yang turun tersebut. Segala beban rohani kita tercabut sampai
keakar-akarnya. Dalam sehirupan nafas berikutnya, daya itu seperti
diambil kembali oleh Allah dengan membawa serta semua beban, rasa
bersalah, rasa berdosa yang tadinya ada dalam rohani kita. Yang tersisa
kemudian hanyalah sebentuk rohani yang begitu lapang, tenang dan bening.
Rohani yang pekat dengan rasa diampuni.
Munculnya rasa diampuni inilah jawaban Allah yang sangat jelas bisa
kita rasakan. Andaikanlah kita bersalah kepada seorang yang jauh lebih
kuat dari kita. Kita merendah mohon ampun kepadanya. Kita
menunggu-nunggu jawaban orang tersebut atas permintaan maaf kita. Begitu
orang tersebut memberi kita maaf. “Ya sudah…, kamu saya maafkan”.
Alangkah lega rasanya dada kita ini. Masak jawaban Allah tidak punya
bekas sedikitpun bagi kita. Sunguh benarlah kata Al Qur’an bahwa untuk
bisa membaca bahasa Allah itu memang perlu rohani yang bening dan
lapang. Bukan rohani yang keras membatu dan mati.
Dan yang sangat-sangat mencengangkan sebenarnya adalah, ketika kita
dikemudian hari dihadapkan pada keadaan dimana 100 % atau bahkan lebih
kita sangat-sangat punya kesempatan untuk melakukan keburukan yang sama
dengan yang pernah kita lakukan dulu, namun anehnya tidak sedikitpun
muncul rasa kita ingin kita untuk kembali melakukan perbuatan buruk itu.
Kita seperti dihalangi Allah oleh untuk berbuat buruk itu. Yang namanya
tidak ingin, walau kesempatan untuk itu sangat ada, ya…, kita tidak
capek dan lelah sedikitpun.
Inilah sebagai tanda bahwa do’a kita: rabbigfirly…, dikabulkan oleh
Allah. Dan ini akan sangat sesuai dengan Al Hadist. Bahwa salah satu
syarat dari “taubatan nasuha” itu adalah kita tidak lagi melakukan
kejahatan yang pernah kita lakukan dulu setelah kita bertaubat.
Dan ternyata ketidakmauan kita untuk melakukan ulang perbuatan buruk
itu bukanlah sebagai hasil dari rekayasa fikiran dan rekayasa emosi kita
sendiri. TIDAK sama sekali. Tapi itu adalah atas ampunan Allah dengan
cara Allah mencabut sendiri keinginan berbuat buruk itu dari rohani
kita. Proses itu berlangsung dengan tanpa daya dan tanpa usaha kita
sedikitpun.
Begitulah cara Allah menjawab dan mengabulkan do’a kita. Rabbgigfirlii…, DERR.
Subhanallah…, sungguh Rabbigfirlii adalah sepenggal kalimat
sederhana, namun dulu begitu sering terlontar dari celah bibir manusia
agung, Muhammad Salallaahuu ‘alaihii wa sallaam dan para sahabat-sahabat
terpilih Beliau.
________________________________________________________________________
CATATAN: Kenapa hanya para sahabat yang terpilih?. Jawabnya juga
sederhana saja. Andaikan posisi rohani semua sahabat yang hidup sesudah
wafatnya Rasulullah adalah tepat, maka tidak akan ada pembunuhan Usman
bin Affan, tidak akan ada pembunuhan Ali bin Abi Thalib, tidak akan ada
pembunuhan cucu-cucu Beliau yang sangat Beliau sayangi Hasan dan Husein,
tidak akan ada perang Shiffin, tidak akan ada Syi’ah dan Sunni berikut
dengan segala variannya. Tidak akan ada !. Tidak ada
penggolongan-penggolongan islam. Islam ya Islam. Titik. Karena memang
pada saat posisi rohani kita berada didalam “Rumah” yang sama. Semua
adalah satu. Karena memang semua berasal dari RUH yang satu. RUH Milik
Allah.
Sementara kalau kita berada didalam “Rumah Pikiran”, maka keramaian
dan keriuhrendahanlah yang akan tercipta. Kita menjadi tanah-tanah yang
selalu ramai dan ribut dengan berbagai perselisihan dan pertentangan
pikiran dan persepsi.
“Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan),
maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi
peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar,
untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka
perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang
yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada
mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka
sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada
kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya.
Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada
jalan yang lurus”, (Al Baqarah 213).
_______________________________________________________________________
Dan kalimat Rabbigfirlii itu ternyata akan mengantarkan siapapun yang
membacanya (pada posisi rohani yang TEPAT) untuk menjemput celupan daya
pengampunan total dari Allah.
Setelah itu barulah kita ungkapkan bait do’a iftirasy berikutnya…,
Warhamnii…, sampai celupan Rahmat Allah yang kita mohonkan itu turun
membasuh rohani kita dan setiap DNA kita.
Lalu adakah yang lebih baik dari Shibgah Allah (SHIBGATULLAH) …?.
Rabbigfirlii…, rabbigfirlii…, rabbigfirlii… DERR.
SELESAI….
Wallahu a’lam..
Deka
Jalan Kabel no 16, Cilegon
Jam 10:30, Hari 5, bulan 4, tahun 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar