Hari ketiga
di bulan Maret. Izinkanlah Nisa bertanya, apa yang membuat hari-hari barumu di
bulan ini berbeda dengan hari-hari yang telah berlalu di bulan
Februari kemarin, kawan?
Kawan-kawanku,
jawaban dari pertanyaan diatas bisa dijadikan bahan introspeksi diri
masing-masing, tidak perlu saya ketahui jawabannya. 😊
Ada kerabat
yang mengatakan "Jika kamu tidak merasa lelah, berarti kamu tidak
sedang memperjuangkan sesuatu dalam hidupmu"
Terimakasih
telah lelah-lelah membaca tulisan ini kawan.
Pun, tulisan
ini merupakan sebuah introspeksi diri Nisa terkait target tahun 2016, saya
berniat untuk menulis di blog yang sekarang kawan-kawan baca yaitu menulis
setiap bulan. Namun, target tersebut hanyalah menjadi catatan introspeksi diri
dari tahun 2016 dan menambah hal yang harus direalisasikan di tahun 2017 (semoga
tulisan Nisa tidak bersifat sampah ya wkwkwk).
Jadi jangan
mengambil keputusan lebih dahulu daripada tindakanmu. Jangan patah semangat dahulu
sebelum kau mengubah dirimu, memperkaya-nya dengan hal-hal yang menjadikanmu
lebih baik kawan.
Belum
terlambat untuk mengejar asa dan
harapanmu. Selalu ada waktu untuk
perubahan. Dan... selalu
ada harga yang harus dibayar untuk sebuah perubahan ya kawan-kawanku.
Voilaa, it is D-day for my 1st mentoring with Tidar, my Facilitator in
XLFutureLeaders program.
Entah
mengapa sebelum mentoring, saya sangat gugup. Saya mencoba meredupkan kegugupan
itu dengan mengirimkan pesan pada Tidar. Saya ingin mengaplikasikan tips yang
Tidar share di workshop pertama yaitu kenali lingkunganmu,
biasakan dirimu dengan lingkungan barumu. Kenali lingkungan barumu lebih dahulu
sebelum mulai bekerjasama dengan mereka. Misalnya, Tidar datang satu jam lebih
awal sebelum workshop dimulai sehingga dia dapat berdiskusi kecil atau
sekedar mengobrol santai dengan teman-teman XLFutureLeaders Batch
5. Sederhananya kawan, tak kenal maka tak sayang. Maka dari itu, yuk
kenalan wkwkwk.
[14.10 WIB]
Nisa :
"Assalamualaikum Tidar. I want to ask u. We will have mentoring session
one hour again, right?"
[14.42 WIB]
Tidar :
"Hi Nisa. Yes... at 3 WIB."
Nisa :
"9 minutes left. Dag dig dug 😄"
Tidar :
" Dag dig dug..."
[14.59. WIB]
Saya
kemudian menelepon Tidar. Tenang untuk kalangan FutureLeaders, kami
tidak perlu memikirkan mahalnya biaya ngobrol via telepon karena gratis
#Eaa #AyoDaftarXLFL wkwkwk. Tiba-tiba teringat canda dari workshop pertama "Pacaran
sesama anak XLFL saja supaya irit duit hahaha"
Jangan
terlalu serius kawan-kawan, kalimat diatas hanya candaan semata.
Mentoring
kami akhirnya dimulai...
Sebagai
kalimat pembuka, Tidar berkata "Kenapa Nisa deg-deg-an
sekali?"
Jujur saya
tidak tahu jawaban yang tepat untuk pertanyaan Tidar. Tapi saya akui, saya
memang sangat deg-deg-an. Bahkan satu jam sebelum waktu mentoring
yang telah kami sepakati. Mungkin dikarenakan Tidar merupakan "orang
baru" bagi saya.
Lalu, saya
menjawab pertanyaan yang diajukan Tidar dengan menceritakan hal yang
membuat saya resah belakangan ini. Saya bercerita tentang keadaan yang
mengharuskan saya untuk melakukan hal yang tidak saya inginkan yaitu memprioritaskan
hal lain dan membuat pandangan saya menjadi buram pada
fokus utama saya. Hal ini membuat saya geram, namun saya sangat sulit mengatakan
tidak. Hal ini terkait etika dan profesionalisme.
In the end, Tidar berkata "Nisa semua masalah harus diselesaikan.
Jangan kehilangan dirimu dikarenakan orang lain."
Saat
mendengar perkataan tersebut, saya menyadari hal itu benar adanya.
Sadar atau
tidak, saat kita menghindari sesuatu, kita akan melakukan hal-hal yang dapat
membuat kita melupakan jati diri atau values kita. Kita membuat ilusi
diri kita dengan cara mengabaikan masalah tersebut.
Saya harus
menghadapi ini. Sesulit apapun itu, semua hal bisa dikomunikasikan. Benar kan?
"Siap
Tidar, saya akan lakukan!" kalimat itu spontan terucap untuk menanggapi
rentetan wejangan dari Tidar.
Hal lain
yang berkesan pada mentoring kali ini adalah saat saya ragu. Tidar tidak hanya
menawarkan banyak nasihat terkait permasalahan saya. Tidar juga melemparkan
pertanyaan pada saya. "Bagaimana Nisa? Apa pendapat Nisa tentang hal
ini?"
Pertanyaan
itu menjadikan mentoring kami bersifat effective communication,
komunikasi dua arah, dan juga secara tidak langsung, hal itu menstimulasi
otak saya untuk memikirkan langkah yang dapat saya lakukan untuk
menyelesaikan masalah. Dan akhirnya, saya menyatakan persetujuan dengan
pendapat Tidar. Hal ini tidak lagi dikarenakan Tidar adalah mentor
saya sehingga saya harus mengikuti seluruh instruksinya tetapi
karena saya telah memikirkan dan menyadari bahwa itu salah satu cara
penyelesaian masalah yang patut dicoba.
"And
it was tricky way to get someone's YES answer by delivering questions"
Di bagian
akhir tulisan ini, saya akan sedikit berbagi sesuatu tentang Tidar.
Saya
bersyukur bisa menjadi bagian dari XLFutureLeaders, dan Tidar berkata
bahwa "I believe it’s part of
Allah’s plan why I am here". Fasilitator ini membuat saya belajar
banyak hal, merasa banyak hal yang masih harus diperbaiki dan diubah namun
tetap ada hal yang perlu dipertahankan. Ada hal yang mesti kita perjuangan di
dunia ini tetapi ada hal yang tidak boleh terlupakan termasuk kepercayaan pada
Yang Maha Kekal.
"God,
I couldn't asked for more"
Best Regard,
Putri Khairunnisa
Mahasiswa Fakultas
Kedokteran Gigi, UNHAS
Line : nisapkh
WhatsApp :
082343536818
"Even if it is small think, it
still need to be prepared well"