Jumat, 03 Maret 2017

Don't Lose Yourself

Hari ketiga di bulan Maret. Izinkanlah Nisa bertanya, apa yang membuat hari-hari barumu di bulan ini berbeda dengan hari-hari yang telah berlalu di bulan Februari kemarin, kawan?
Kawan-kawanku, jawaban dari pertanyaan diatas bisa dijadikan bahan introspeksi diri masing-masing, tidak perlu saya ketahui jawabannya. 😊
Ada kerabat yang mengatakan "Jika kamu tidak merasa lelah, berarti kamu tidak sedang memperjuangkan sesuatu dalam hidupmu"
Terimakasih telah lelah-lelah membaca tulisan ini kawan.

Pun, tulisan ini merupakan sebuah introspeksi diri Nisa terkait target tahun 2016, saya berniat untuk menulis di blog yang sekarang kawan-kawan baca yaitu menulis setiap bulan. Namun, target tersebut hanyalah menjadi catatan introspeksi diri dari tahun 2016 dan menambah hal yang harus direalisasikan di tahun 2017 (semoga tulisan Nisa tidak bersifat sampah ya wkwkwk).
Jadi jangan mengambil keputusan lebih dahulu daripada tindakanmu. Jangan patah semangat dahulu sebelum kau mengubah dirimu, memperkaya-nya dengan hal-hal yang menjadikanmu lebih baik kawan.
Belum terlambat untuk mengejar asa dan harapanmu. Selalu ada waktu untuk perubahan. Dan... selalu ada harga yang harus dibayar untuk sebuah perubahan ya kawan-kawanku.

Voilaa, it is D-day for my 1st mentoring with Tidar, my Facilitator in XLFutureLeaders program.
Entah mengapa sebelum mentoring, saya sangat gugup. Saya mencoba meredupkan kegugupan itu dengan mengirimkan pesan pada Tidar. Saya ingin mengaplikasikan tips yang Tidar share di workshop pertama yaitu kenali lingkunganmu, biasakan dirimu dengan lingkungan barumu. Kenali lingkungan barumu lebih dahulu sebelum mulai bekerjasama dengan mereka. Misalnya, Tidar datang satu jam lebih awal sebelum workshop dimulai sehingga dia dapat berdiskusi kecil atau sekedar mengobrol santai dengan teman-teman XLFutureLeaders Batch 5. Sederhananya kawan, tak kenal maka tak sayang. Maka dari itu, yuk kenalan wkwkwk.

[14.10 WIB]
Nisa : "Assalamualaikum Tidar. I want to ask u. We will have mentoring session one hour again, right?"
[14.42 WIB]
Tidar : "Hi Nisa. Yes... at 3 WIB."
Nisa : "9 minutes left. Dag dig dug 😄"
Tidar : " Dag dig dug..."

[14.59. WIB]
Saya kemudian menelepon Tidar. Tenang untuk kalangan FutureLeaders, kami tidak perlu memikirkan mahalnya biaya ngobrol via telepon karena gratis #Eaa #AyoDaftarXLFL wkwkwk. Tiba-tiba teringat canda dari workshop pertama "Pacaran sesama anak XLFL saja supaya irit duit hahaha"
Jangan terlalu serius kawan-kawan, kalimat diatas hanya candaan semata.

Mentoring kami akhirnya dimulai...
Sebagai kalimat pembuka, Tidar berkata "Kenapa Nisa deg-deg-an sekali?"
Jujur saya tidak tahu jawaban yang tepat untuk pertanyaan Tidar. Tapi saya akui, saya memang sangat deg-deg-an. Bahkan satu jam sebelum waktu mentoring yang telah kami sepakati. Mungkin dikarenakan Tidar merupakan "orang baru" bagi saya.

Lalu, saya menjawab pertanyaan yang diajukan Tidar dengan menceritakan hal yang membuat saya resah belakangan ini. Saya bercerita tentang keadaan yang mengharuskan saya untuk melakukan hal yang tidak saya inginkan yaitu memprioritaskan hal lain dan membuat pandangan saya menjadi buram pada fokus utama saya. Hal ini membuat saya geram, namun saya sangat sulit mengatakan tidak. Hal ini terkait etika dan profesionalisme.

In the end, Tidar berkata "Nisa semua masalah harus diselesaikan. Jangan kehilangan dirimu dikarenakan orang lain."
Saat mendengar perkataan tersebut, saya menyadari hal itu benar adanya.
Sadar atau tidak, saat kita menghindari sesuatu, kita akan melakukan hal-hal yang dapat membuat kita melupakan jati diri atau values kita. Kita membuat ilusi diri kita dengan cara mengabaikan masalah tersebut.

Saya harus menghadapi ini. Sesulit apapun itu, semua hal bisa dikomunikasikan. Benar kan?

"Siap Tidar, saya akan lakukan!" kalimat itu spontan terucap untuk menanggapi rentetan wejangan dari Tidar.

Hal lain yang berkesan pada mentoring kali ini adalah saat saya ragu. Tidar tidak hanya menawarkan banyak nasihat terkait permasalahan saya. Tidar juga melemparkan pertanyaan pada saya. "Bagaimana Nisa? Apa pendapat Nisa tentang hal ini?"
Pertanyaan itu menjadikan mentoring kami bersifat effective communication, komunikasi dua arah, dan juga secara tidak langsung, hal itu menstimulasi otak saya untuk memikirkan langkah yang dapat saya lakukan untuk menyelesaikan masalah. Dan akhirnya, saya menyatakan persetujuan dengan pendapat Tidar. Hal ini tidak lagi dikarenakan Tidar adalah mentor saya sehingga saya harus mengikuti seluruh instruksinya tetapi karena saya telah memikirkan dan menyadari bahwa itu salah satu cara penyelesaian masalah yang patut dicoba.

"And it was tricky way to get someone's YES answer by delivering questions"

Di bagian akhir tulisan ini, saya akan sedikit berbagi sesuatu tentang Tidar.
Saya bersyukur bisa menjadi bagian dari XLFutureLeaders, dan Tidar berkata bahwa "I believe it’s part of Allah’s plan why I am here". Fasilitator ini membuat saya belajar banyak hal, merasa banyak hal yang masih harus diperbaiki dan diubah namun tetap ada hal yang perlu dipertahankan. Ada hal yang mesti kita perjuangan di dunia ini tetapi ada hal yang tidak boleh terlupakan termasuk kepercayaan pada Yang Maha Kekal.

"God, I couldn't asked for more"

Best Regard,
Putri Khairunnisa
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi, UNHAS
Line : nisapkh
WhatsApp : 082343536818
"Even if it is small think, it still need to be prepared well"