Minggu, 14 Mei 2017

Mahasiswa "Beprestasi"

Halo kawan-kawan, berjumpa lagi di bulan Mei, bulan Pendidikan (istilah baru nih kayaknya hihihi)! Tulisan Annisah kali ini akan menceritakan sebuah kisah biasa dari orang biasa pula hehehe but I promise that it will be your nice short reading in your rush day. Tidak jauh-jauh dari ranah kemahasiswaan yaitu tentang MAWAPRES. Tenanglah kawan, ini bukan tentang Mahasiswa Wakil Presiden wkwkwk melainkan tulisan ini bercerita tentang Mahasiswa Berprestasi. Konon katanya, Mahasiswa Beprestasi adalah mahasiswa dengan prestasi akademik yang sangat baik (dibuktikan dengan nilai Indeks Prestasi Kumulatif yang hampir mencapai angka 4) dan juga aktif terlibat dalam kegiatan ekstrakurikuler baik organisasi, kepanitiaan, dan aktivitas sosial kemasyarakatan. Cieelah, ngewri.
Istilah Mahasiswa Beprestasi menjadi tidak asing di telinga saya tepatnya pada tahun kedua saat menempuh pendidikan tinggi di bangku perkuliahan. Saat itu, saya tengah berada di deretan kursi penonton dalam sebuah acara Talkshow Mahasiswa Berprestasi” yang diselenggarakan oleh Keilmuan dan Penalaran Ilmiah (KPI), sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa di lingkungan Universitas Hasanuddin. Saya sama sekali tidak memiliki gambaran tentang kegiatan tersebut. Motivasi mengikuti talkshow itu berangkat dari keinginan untuk menjadi salah satu bagian dari UKM KPI yang namanya cukup tersohor dalam bidang keilmiahan di universitas kami. Walau sampai tulisan ini kawan-kawan baca, keinginan tersebut belum terealisasi.
I would not said that “it was a failure, it was my choice” J.
Rencana Yang Khalik terkadang tidak dapat dijangkau nalar manusia. Terkadang kita diperjalankan tanpa tujuan yang jelas hingga dengan memaknai perjalanan tersebut, kita mulai menemukan titik terang sedikit demi sedikit. Tiada yang menduga, kegiatan tersebut memberikan saya kesempatan untuk bertemu dengan mahasiswa-mahasiswa pilihan bergelar Mahasiswa Berprestasi seperti Kak Kharji Muhajir (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Pemerintahan, 2012) dan Kak Qonita Anjani, (Fakultas Farmasi, 2012). Masih teringat dengan jelas, kala itu mereka berkata “Gunakan sebanyak-banyaknya kesempatan untuk menempa dan memperkaya potensi diri. Setelah proses pembelajaran di tingkat universitas ini, kita semua akan kembali ke masyarakat dan mengabdi pada mereka”.
It was such a deep thoughts to think!
Sebelum masuk ke inti tulisan (sebenarnya tulisan ini ada berapa part wkwkwk), Annisah memiliki sebuah pertanyaan sederhana.
Apakah berprestasi adalah sebuah keharusan bagi seorang mahasiswa?
Silahkan dijawab masing-masing ya. Wah Annisah yakin kawan-kawan semua punya jawaban yang pantas dihadiahi tepukan tangan. Kalau menurut Annisah pribadi sih, berprestasi adalah salah satu bentuk eksistensi kita sebagai mahasiswa. Berprestasi menandakan sebuah proses pembelajaran telah terlewati dan proses lainnya kembali menanti di kemudian hari. Cieelahhh!
Kisah lika-liku (re: pengalaman) mendaftarkan diri menjadi seorang MAWAPRES dapat ditemukan dengan mudahnya di beranda Om Gugel. Ada banyak kisah inspiratif tentunya. Kisah ini sendiri bermula setelah sesi mentoring session dengan Tidar (mau tahu siapa Tidar? Silahkan baca postingan sebelumnya, oiya lain kali akan ada postingan khusus tentang fasil kece kita yang satu ini 😝). Mari kembali fokus kawan-kawan, jadi seorang Annisah yang notabene-nya mahasiswa rantau di kota Makassar berniat menjadi seorang Mahasiswa Berprestasi?!. “Are you serious Nis? Please wake up” wkwkwk.
Sebagai seorang mentee yang baik, saya berbagi kegundahan terkait MAWAPRES kepada Tidar. Saya percaya akan selalu ada energi positif yang saya terima terlepas dari sekecil apapun perbincangan kami. Pertemuan via suara itu akhirnya berjalan sesuai harapan. “Tidar saya merasa bukan siapa-siapa diantara yang lain, mereka jauh lebih berprestasi dan berpotensi, saya tidak tahu apa yang perlu dipersiapkan. Merespon hal tersebut, Tidar memberikan jawaban yaitu “Nisa did you forget something? Hey girl! You have your “family” and friends are with you there, they will be your perfect support system, I promise you!
Kata-kata itu rasanya memiliki makna yang dalam. Selama ini, saya merasa memikul tanggung jawab mahasiswa berprestasi tingkat fakultas seorang diri. Tidar berkata selanjutnya “Terkadang menjadi “bom waktu” (re:diam-diam menghanyutkan, berharap prestasi dan pencapaian tiba-tiba "meledak-ledak" mengagetkan orang lain) adalah hal baik tetapi tidak ada salahnya mencoba menjadikan tujuanmu sebagai pencapaian bersama agar teman-temanmu juga dapat berkontribusi and they would have the same sense of belonging. It would be more impactful.”
Then?
13 Maret 2017, saya mengirimkan sebuah invitation via google calender kepada beberapa teman saya. Saya berinisiatif untuk mengadakan Pre-MAPRES 1.0, sebuah simulasi presentasi karya tulis ilmiah sebelum saya memaparkan ide saya di hadapan para reviewer di tingkat universitas. Teman-teman saya akan hadir menjadi seolah-olah tim penilai untuk memberikan kritik yang membangun terkait presentasi saya. Karena keterbatasan tempat dan waktu, saya hanya dapat mengirimkan invitation tersebut pada kerabat XLFuture Leaders Batch 5 yang berdomisili di Makassar. Kemudian satu-persatu accept dan decline saya terima sebagai balasan invitation tersebut. Konfirmasi decline bukan berarti tidak ingin membantu tetapi bertepatan dengan tanggal Pre-MAPRES 1.0, mereka tidak berada di Makassar. Konfirmasi tersebut dikirim dengan doa terbaik untuk saya.
Yap, I know their heart will goes with me wherever they are.
Hari Pre-MAPRES 1.0 pun tiba. Pukul 07.30 WITA, saya mentoring (lagi) dengan Tidar. “Bagaimana persiapannya? Sudah berapa persen?” sapa Tidar. Saya kemudian  presentasi ala-ala via telfon. Tidar mendengarkan dengan seksama dan mulai memberikan beberapa usulan kalimat yang lebih efektif untuk saya gunakan ketika presentasi. Siang harinya, sebelum saya dan teman-teman berangkat ke TKP (wkwkwk, udah kayak tim kepolisian saja), kami menyempatkan untuk menyaksikan pertunjukkan Icha (salah satu teman XLFL Batch 5 Makassar) di acara Inaugurasi Fakultas Ekonomi Unhas angkatan 2016.
Singkat cerita dari kegiatan tersebut, Annisah yang awalnya merasa persiapan telah matang dan siap “berkompetisi” membawa saya menuju realita bahwa saya belum ada apa-apanya. Bahan, teknik, dan strategi presentasi masih sangat kurang. Belum ada yang mengatakan saya telah memberikan penjelasan yang baik. Semua teman-teman dengan antusiasnya memberikan kritik dan saran yang membangun. Spesial thanks also to Kak Kharji, yang  turut meluangkan waktu dan memberi saran yang detail serta sistematis. “Semangat revisi PPT, Annisah” itulah yang menjadi kalimat penutup di hari tersebut.
God, I am blessed, you send this kind-hearted guys into my life.
Persiapan menuju seleksi tingkat universitas serasa menjadi hari-hari yang berat, namun tidak ada alasan untuk berhenti. Semangat teman-teman menyadarkan saya, ada hal yang patut saya perjuangan. Ada kepercayaan yang terletak dalam hati mereka untuk saya. Dan hal terpenting adalah MAWAPRES tidak lagi (hanya) menjadi tujuanku melainkan tujuan kami bersama. Hal tersebut memberikan semangat yang tidak henti-hentinya. Latihan presentasi H-1 bersama MC Kondangan XLFL Batch 5 Makassar pun saya lakoni (terimakasih Mas, Mas-nya baik, tanpa pamrih loh, gak minta traktiran pulak wkwkwkwk).
Jeng-jeng-jeng
Rangkaian Seleksi Mahasiswa Berprestasi tingkat Universitas akhirnya tiba.

Tes hari pertama yaitu tes psikologi. Tes ini membuat saya flashback masa-sama Seleksi Beasiswa Djarum Plus khusunya tes menggambar pohon dan manusia (kawan, kalau ada yang tertarik untuk tips-tips menggambar pohon dan orang, please let me know, I am really happy to share my tips and tricks with you guys). Hari pertama terlewati, saya bertemu dengan para mahasiswa top utusan fakultas. Mereka baik dan kecerdasasannya sudah dapat terlihat dari wajahnya (kecuali saya wkwkwk). Saya kembali mengingat pesan dari Bapak Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Unhas bahwa “siapapun yang terpilih, mari kita bersinergi bersama-sama untuk kemajuan universitas kita di ajang MAWAPRES tingkat Nasional”. Amin Ya Rabb,saya dan kawan-kawan saya mendoakan loh pak lewat postingan ini 😊)
Seleksi di hari kedua yaitu presentasi karya tulis ilmiah cukup membuat saya panik. Mungkin ini yang akan dirasakan peserta dari bidang eksakta. Ketakutan itu dikarenakan istilah-istilah ilmiah apalagi bahasa kedokteran akan terasa awam bagi tim reviewer yang berasal dari bidang sosial dan humaniora. But Pre-MAPRES 1.0 has done and the real show must go on! Saya maju dengan percaya diri. Saya menjelaskan ide saya dengan sebaik-baiknya. Kembali teringat satu-persatu sesi latihan presentasi yang telah dijalani. Practice makes perfect, sesi presentasi ini tidak sesulit seperti latihan awal. Dan benar saja, durasi waktu 10 menit belum cukup membuat para reviewer memahami ide yang saya ajukan. Namun berkat sesi tanya jawab akhirnya beliau paham tentang ide saya yang merupakan salah satu inovasi di Bidang Kedokteran Gigi. Senangnya lagi, salah satu dosen penilai memberikan sebuah pertanyaan "Apa yang membuat ide kamu lebih unggul dari peserta lainnya sehingga kamu pantas menjadi Mahasiswa Berprestasi Utama?. Menjawab pertanyaan tersebut, saya tidak membandingkan diri saya dengan kandidat lain. Saya mengatakan dengan tegas bahwa yang membuat ide ini lebih baik yaitu sederhana dan aplikatif sehingga dapat menjadi inovasi yang lahir di dalam lingkungan universitas kita sendiri. Berkaca dari pengalaman riset sebelumnya yaitu Tanoto Student Research Award, penelitian yang kami laksanakan di bidang onkologi tidak sedikitpun menarik perhatian tim reviewer dikarenakan ide tersebut tidak dapat diaplikasikan dan terlampau tinggi jika melihat standar riset mahasiswa.“Bukankah saingan yang sebenarnya adalah diri kita sendiri ya?. Ya, saya percaya hal tersebut. Hanya diri sendiri-lah yang mumpuni dan paling memahami untuk mengukur sudah seberapa baik kita dari hari-hari sebelumnya?
So please be true to yourself, no need to compare with others. Belief yourself as good as I do believe you can. My best wishes are with you.
Setelah rangkaian seleksi di tingkat universitas telah berlangsung, saya kembali menjalani rutinitas perkuliahan di fakultas saya tercinta. Cukup rindu juga setelah dua minggu tidak hadir dalam aktivitas perkuliahan (Yakin Nis? Wkwkwwk). Mengasah soft skills memang penting tetapi hal dasar yang tak kalah penting adalah menguasai bidang keilmuan sendiri. Setinggi dan sebanyak apapun pencapaian kita tetapi jika belum berhasil menyelesaikan tahap pendidikan sarjana rasanya belum lengkap. Bukankah memang kita harus menyelesaikan sampai akhir cerita? Bukankah memang kita harus menyelesaikan semua yang telah kita mulai? And You are not alone. We will fight together guys😊.
Akhir bulan Maret lalu, saya menerima kabar tentang terpilihnya tiga besar MAWAPRES Universitas Hasanuddin dan Alhamdulillah, nama saya tidak tercantum di pengumuman tersebut. Salah seorang kakak tingkat mencoba mengolok-olok saya dengan melontarkan istilah "sakit tapi tidak berdarah". Saya membalas ungkapan tersebut dengan sebuah senyuman. Saya bersyukur telah diberikan kesempatan untuk berproses di ajang ini. Embel-embel berprestasi bukanlah inti cerita, nilai kebersamaan dan kekeluargaan yang telah saya pelajari baik selama persiapan maupun seleksi rasanya tidak ternilai dan tidak dapat dibandingkan dengan istilah Mahasiswa Berprestasi (pinter ngeles yak Nis wkwkwk). But seriously, I would like to say that it was my best experience once in a lifetime. I even could not imagine how pity I am if I skipped this chance.
Saya menatap pengumuman dengan wajah yang berseri-seri karena saya telah melakukan usaha terbaik bersama orang-orang terbaik pula. Lantas apa yang perlu disedihkan? Gelar Mahasiswa Berprestasi bagi saya merupakan sebuah pencapaian yang dapat kita perjuangkan di kesempatan lain. Kalah (re: belum berhasil) dalam ajang ini tidak dapat membatasi dan menghalangi mahasiswa untuk berprestasi di kemudian hari. Hal ini saya maknai bahwa saya perlu belajar lebih keras lagi, usaha lebih giat lagi, dan memantaskan diri lebih baik. Karena impian memang harus diperjuangakan kan kawan?
Ton of lucks goes with you, my dearest friends. Apapun yang kalian usahakan saat ini, mari kita kerahkan kemampuan terbaik dari diri dan jika belum tercapai, explore more!
Masih banyak kesempatan di luar sana yang harus kita jemput bersama 😊.

"Even if it is small thing, it still need to be prepared well"
Putri Khairunnisa
Mahasiswa Berprestasi Utama Fakultas Kedokteran Gigi UNHAS 2016/2017.



GALERI FOTO


Beberapa konfirmasi sweet decline via Google Calender
Teman-teman yang hadir di Pre-MAPRES 1.0

Sesi penghargaan ajang PILMAPRES di tingkat Fakultas
Surprise kecil-kecilan setelah presentasi karya ilmiah tingkat universitas



Sesi penghargaan ajang PILMAPRES di tingkat Universitas


Jumat, 03 Maret 2017

Don't Lose Yourself

Hari ketiga di bulan Maret. Izinkanlah Nisa bertanya, apa yang membuat hari-hari barumu di bulan ini berbeda dengan hari-hari yang telah berlalu di bulan Februari kemarin, kawan?
Kawan-kawanku, jawaban dari pertanyaan diatas bisa dijadikan bahan introspeksi diri masing-masing, tidak perlu saya ketahui jawabannya. 😊
Ada kerabat yang mengatakan "Jika kamu tidak merasa lelah, berarti kamu tidak sedang memperjuangkan sesuatu dalam hidupmu"
Terimakasih telah lelah-lelah membaca tulisan ini kawan.

Pun, tulisan ini merupakan sebuah introspeksi diri Nisa terkait target tahun 2016, saya berniat untuk menulis di blog yang sekarang kawan-kawan baca yaitu menulis setiap bulan. Namun, target tersebut hanyalah menjadi catatan introspeksi diri dari tahun 2016 dan menambah hal yang harus direalisasikan di tahun 2017 (semoga tulisan Nisa tidak bersifat sampah ya wkwkwk).
Jadi jangan mengambil keputusan lebih dahulu daripada tindakanmu. Jangan patah semangat dahulu sebelum kau mengubah dirimu, memperkaya-nya dengan hal-hal yang menjadikanmu lebih baik kawan.
Belum terlambat untuk mengejar asa dan harapanmu. Selalu ada waktu untuk perubahan. Dan... selalu ada harga yang harus dibayar untuk sebuah perubahan ya kawan-kawanku.

Voilaa, it is D-day for my 1st mentoring with Tidar, my Facilitator in XLFutureLeaders program.
Entah mengapa sebelum mentoring, saya sangat gugup. Saya mencoba meredupkan kegugupan itu dengan mengirimkan pesan pada Tidar. Saya ingin mengaplikasikan tips yang Tidar share di workshop pertama yaitu kenali lingkunganmu, biasakan dirimu dengan lingkungan barumu. Kenali lingkungan barumu lebih dahulu sebelum mulai bekerjasama dengan mereka. Misalnya, Tidar datang satu jam lebih awal sebelum workshop dimulai sehingga dia dapat berdiskusi kecil atau sekedar mengobrol santai dengan teman-teman XLFutureLeaders Batch 5. Sederhananya kawan, tak kenal maka tak sayang. Maka dari itu, yuk kenalan wkwkwk.

[14.10 WIB]
Nisa : "Assalamualaikum Tidar. I want to ask u. We will have mentoring session one hour again, right?"
[14.42 WIB]
Tidar : "Hi Nisa. Yes... at 3 WIB."
Nisa : "9 minutes left. Dag dig dug 😄"
Tidar : " Dag dig dug..."

[14.59. WIB]
Saya kemudian menelepon Tidar. Tenang untuk kalangan FutureLeaders, kami tidak perlu memikirkan mahalnya biaya ngobrol via telepon karena gratis #Eaa #AyoDaftarXLFL wkwkwk. Tiba-tiba teringat canda dari workshop pertama "Pacaran sesama anak XLFL saja supaya irit duit hahaha"
Jangan terlalu serius kawan-kawan, kalimat diatas hanya candaan semata.

Mentoring kami akhirnya dimulai...
Sebagai kalimat pembuka, Tidar berkata "Kenapa Nisa deg-deg-an sekali?"
Jujur saya tidak tahu jawaban yang tepat untuk pertanyaan Tidar. Tapi saya akui, saya memang sangat deg-deg-an. Bahkan satu jam sebelum waktu mentoring yang telah kami sepakati. Mungkin dikarenakan Tidar merupakan "orang baru" bagi saya.

Lalu, saya menjawab pertanyaan yang diajukan Tidar dengan menceritakan hal yang membuat saya resah belakangan ini. Saya bercerita tentang keadaan yang mengharuskan saya untuk melakukan hal yang tidak saya inginkan yaitu memprioritaskan hal lain dan membuat pandangan saya menjadi buram pada fokus utama saya. Hal ini membuat saya geram, namun saya sangat sulit mengatakan tidak. Hal ini terkait etika dan profesionalisme.

In the end, Tidar berkata "Nisa semua masalah harus diselesaikan. Jangan kehilangan dirimu dikarenakan orang lain."
Saat mendengar perkataan tersebut, saya menyadari hal itu benar adanya.
Sadar atau tidak, saat kita menghindari sesuatu, kita akan melakukan hal-hal yang dapat membuat kita melupakan jati diri atau values kita. Kita membuat ilusi diri kita dengan cara mengabaikan masalah tersebut.

Saya harus menghadapi ini. Sesulit apapun itu, semua hal bisa dikomunikasikan. Benar kan?

"Siap Tidar, saya akan lakukan!" kalimat itu spontan terucap untuk menanggapi rentetan wejangan dari Tidar.

Hal lain yang berkesan pada mentoring kali ini adalah saat saya ragu. Tidar tidak hanya menawarkan banyak nasihat terkait permasalahan saya. Tidar juga melemparkan pertanyaan pada saya. "Bagaimana Nisa? Apa pendapat Nisa tentang hal ini?"
Pertanyaan itu menjadikan mentoring kami bersifat effective communication, komunikasi dua arah, dan juga secara tidak langsung, hal itu menstimulasi otak saya untuk memikirkan langkah yang dapat saya lakukan untuk menyelesaikan masalah. Dan akhirnya, saya menyatakan persetujuan dengan pendapat Tidar. Hal ini tidak lagi dikarenakan Tidar adalah mentor saya sehingga saya harus mengikuti seluruh instruksinya tetapi karena saya telah memikirkan dan menyadari bahwa itu salah satu cara penyelesaian masalah yang patut dicoba.

"And it was tricky way to get someone's YES answer by delivering questions"

Di bagian akhir tulisan ini, saya akan sedikit berbagi sesuatu tentang Tidar.
Saya bersyukur bisa menjadi bagian dari XLFutureLeaders, dan Tidar berkata bahwa "I believe it’s part of Allah’s plan why I am here". Fasilitator ini membuat saya belajar banyak hal, merasa banyak hal yang masih harus diperbaiki dan diubah namun tetap ada hal yang perlu dipertahankan. Ada hal yang mesti kita perjuangan di dunia ini tetapi ada hal yang tidak boleh terlupakan termasuk kepercayaan pada Yang Maha Kekal.

"God, I couldn't asked for more"

Best Regard,
Putri Khairunnisa
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi, UNHAS
Line : nisapkh
WhatsApp : 082343536818
"Even if it is small think, it still need to be prepared well"

Minggu, 03 Januari 2016

Realistislah, Kawan.

Halo kawan. Saya berharap dirimu selalu dalam lindungan Tuhan.

Awal tahun seperti ini, tidak sedikit dari kita yang telah melakukan refleksi dan resolusi untuk satu tahun kedepan. Bermimpi tidaklah dilarang dan juga gratis (memangnya mau bayar sama siapa? hehehe) maka dari itu bermimpilah kawan! Namun percaya atau tidak, tanpa ku ucapkan kalimat itu, aku yakin setiap dari kalian telah memiliki impian dan cita-cita masing masing :). Wah, selamat ya. Kalian memang luar biasa, kawan!

Nah sebelumnya, tulisan ini dibuat karena saya percaya bahwa banyak sekali anak Indonesia yang memiliki impian dan cita-cita untuk melakukan hal-hal besar atau bahkan membuat Indonesia lebih baik kedepannya. Namun tulisan ini TIDAK dibuat sebagai pembenaran atau pembatalan dari impian besar kalian. Saya tidak ingin kalian beranggapan bahwa impian besar itu memang tidak mudah diraih jadi kalian harus melupakannya atau menurukan cita-cita kalian sehingga kalian dapat dengan mudah meraihnya atau bahkan tidak usah memiliki cita-cita (janganlah kawan :( hehehe).

Tulisan ini dibuat  karena saya paham sekali bahwa anak-anak Indonesia memiliki potensi. Saya sama sekali tidak meragukan hal tesebut. Banyak sekali dari mereka memiliki impian setinggi langit seperti study keluar negeri, menjadi delegasi pertukaran pelajar ke negara-negara maju seperti US ataupun Jepang, memenangkan beasiswa, berbisnis sambil kuliah atau ingin menjadi anak sholeh kebanggaan orangtua . Kawan, aku dan kau sama sama tahu, itu bukanlah hal yang mudah, maka ingin ku katakan "Realistis-lah Kawan!"

Dari KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), Realistis artinya realistis/re·a·lis·tis/ bersifat nyata (real). Nyata-lah dalam bermimpi kawanku. Sekali lagi, ku katakan kawanku, impian kalian bukanlah hal biasa dan dapat dicapai semua orang melainkan meraihnya diperlukan usaha terbaik. Kalian pasti pernah membaca kalimat sederhana ini kan? "A thousand miles of journey starts with a single step". Nah tepat sekali. Sepanjang apapun perjalanan kalian, selalu dimulai dari satu langkah awal. Nyata-lah, bertindak-lah! 

Terkadang, kita terlalu dibutakan dengan indahnya impian tersebut, keren-nya saat kita telah mencapai hal tersebut yang berujung pada"penarikan kesimpulan yang salah" bahwa Ya, hanya orang-orang yang keren/smart/cerdas/kaya/bejo dan istilah-istilah lainnya, yang dapat mencapai hal itu. Lalu kalian melihat diri kalian sambil melupakan potensi kalian, lalu berkata dalam hati (walaupun saya tidak bisa dengar wkwkwk) " Aku hanya orang biasa, mana bisa seperti itu, sudahlah, sudah bisa kuliah dikampus/jurusan ini saja sudah bersukur banget" Dan sedihnya, biasanya terselip kata "realistis woy, kalau bercita-cita jangan yang tinggi-tinggi, nanti kalau gagal, sakit hati". Kawan, realistis yang kumaksudkan tidaklah seperti itu. Jauh dari itu, kawan :)

Kawan, aku peringatkan, apapun mimpimu, kamu bisa mewujudkannya. Kawan, aku tidak sedang bercanda. Selama kalian punya impian, niat, komitmen dan BERSEDIA untuk berusaha apapun itu bisa dicapai. Terkesan terlalu sombong perkataanku. Tidak kawan. Aku hanya berusaha untuk membuat kalian yakin dengan apa yang kukatakan. Mencoba untuk membuat kalian tertarik dengan apa yang sedang kubicarakan. Sekali lagi kukatakan, semua hal itu mungkin kawan!

Memang sulit tetapi bukan berarti tidak mungkin. 
Menurut kalian, exchange itu sulit? Kutanyakan padamu, kawan berapa banyak orang yang telah berhasil menjadi delegasi pertukaran pelajar yang pernah kau dengar?
Kalian beralasan bahwa tidak punya banyak uang untuk berkuliah di luar negeri. Hey kawan bukannya kalian setiap hari nge-like and share peluang beasiswa ya?
Lalu apa lagi yang kalian khawatirkan? 
Mungkin, ada yang akan mengatakan, aku bukanlah orang yang cerdas dan fasih berbahasa Inggris. Kawan, lupakah kalian? Kita sama-sama terlahir dengan hanya tahu ilmu "menangis". Bukannya zaman sudah canggih ya? Ada banyak sekali ebook-ebook tentang belajar bahasa Inggris yang tersedia dengan gratis di Google.

Kawan, cukupkanlah keluh-kesah itu. Mari mulai "Realistis". Realistis yang kumaksudkan yaitu meyakini bahwa impian kita besar oleh karena itu perlu pula usaha yang besar untuk meraihnya"
Misalnya kawan, kalian sangat menginginkan dapat menjadi delegasi dari sebuah pertukaran pelajar atau Student Exchange Program (bahasa kerennya hehehe).
Realistis versiku adalah 
Satu, mengetahui arti dari Pertukaran Pelajar?
Terdengar lucu (hehehe). Apa untungnya? Ya agar kalian paham makna pelajar dari kata "Pertukaran Pelajar". Kawan, artinya semua pelajar memiliki peluang. Jadi kawan tidak perlu lagi menambahkan kata cerdas, hanya orang kaya, hanya orang yang mahir berbahasa Inggris,blablabla, tidaklah perlu kawanku :)

Dua, "Take Action"
Secara simple, mulailah dari mencari pertukaran seperti apa yang kalian inginkan?
Ingin program pertukaran budaya/bahasa/akademik/penelitian/pengabdian masyarakat kah?
Nah jika sudah, misalnya kalian memilih program pertukaran budaya. Nah kemudian, carilah jenis-jenis/macam-macam program pertukaran dibidang tersebut. Segeralah googling kawan! Sangat jelas tertera banyaknya program-program seperti itu.
Saatnya membaca dan mengenal lebih dekat program tersebut, bukannya tak kenal maka tak sayang ya? (Salah fokus, kembali ke laptop :D)

Bacalah deskripsi program tersebut, ketahui-lah syarat dan dokumen-dokumen yang dibutukan untuk melakukan registrasi. Setelah selesai satu program, pindahlah ke program yang lain. Kemudian buat generalisasi dari dokumen tersebut agar kalian segera tahu apa saja yang harus disiapkan. Yang lebih penting mulai mempersiapkannya, kawanku :)

Misalnya kawanku : 
- Passport maka buatlah passport, jika terkendala di dana, tidak apa-apa, ada juga program lain yang tidak membutuhkan passport. Move on ke peluang lain, kawan.
 
- Transkrip Nilai, bukan hanya program pertukaran yang membutuhkan transkrip nilai tetapi beribu-ribu aplikasi beasiswa juga seperti itu maka cobalah untuk membuatnya sesegera mungkin. Buat transkrip setiap semester dan buat juga transkrip secara keseluruhan, ya beragam program, beragam dokumen. Ada yang masih bingung cara membuat transkrip? Pergilah ke bagian akademik di kampus  atau akses portal akademik kalian.

-TOEFL Score
Santai, jangan panik kawan. Jika belum memiliki kemampuan bahasa Inggris yang mumpuni, maka mulailah belajar. "There is no magic in learning". Kalian bisa juga mencoba menjadi murid dari Sekolah Toefl gratis dari Mas Budi Waluyo (sudah sangat populer kan?!!) atau mempelajari ebook-ebook yang terdapat dengan gratis di Google atau yang marak diberikan oleh Admin-Admin Line yang baik hati.

-CV (Curriculum Vitae)
Googling dan lihat contoh-contoh CV disana kawan.

Tiga, "Apply program, gagal?! Coba lagi. Coba terus. Coba sampai sukses"
Saatnya mendaftarkan diri di pertukaran yang kalian inginkan. Lakukan usaha terbaik, berdoa, bersungguh-sungguh.

Realistis memang tidak mudah kawan. Mulailah perjalanan kesuksesanmu dengan "single step". Sedikit demi sedikit setiap bulan/minggu/hari/waktu. Masih ingat kan kawan? Hal-hal  besar dibangun oleh hal-hal kecil yang sederhana.

Kawan, jikalau kau berpikir bahwa kau bisa mewujudkan mimpimu tanpa ada usaha, aku turut senang namun kau dan aku sama-sama tahu bahwa usaha merupakan hal yang mutlak dalam hal ini. Jikalau kau berharap saat terbangun dari tidur, mimpimu akan menjadi kenyataan akan kukatakan padamu kawan, ini bukanlah dunia fantasi atau negeri dongeng. Maka cuma satu pesanku "Realistislah Kawan :)"

Percayalah lelah ini hanya sebentar saja, jangan menyerah walaupun tak mudah meraihnya. Karena tersenyumlah biar semakin mudah, karena kesedihanmu ternyata hanya sementara"

Best Regard,
Putri Khairunnisa
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi, UNHAS
Line : nisapkh
WhatsApp : 082343536818
"Even if it is small think, it still need to be prepared well"