Halo kawan-kawan, berjumpa lagi di bulan Mei, bulan
Pendidikan (istilah baru nih kayaknya hihihi)! Tulisan Annisah kali ini akan
menceritakan sebuah kisah biasa dari
orang biasa pula hehehe but I
promise that it will be your nice short reading in your rush day. Tidak jauh-jauh dari ranah kemahasiswaan yaitu
tentang MAWAPRES. Tenanglah kawan,
ini bukan tentang Mahasiswa Wakil
Presiden wkwkwk melainkan tulisan ini bercerita tentang Mahasiswa Berprestasi. Konon katanya, Mahasiswa Beprestasi adalah mahasiswa dengan prestasi akademik yang
sangat baik (dibuktikan dengan nilai Indeks Prestasi Kumulatif yang hampir mencapai angka 4) dan juga aktif terlibat
dalam kegiatan ekstrakurikuler baik organisasi, kepanitiaan, dan aktivitas
sosial kemasyarakatan. Cieelah, ngewri.
Istilah Mahasiswa
Beprestasi menjadi tidak asing di telinga saya tepatnya pada tahun kedua saat
menempuh pendidikan tinggi di bangku perkuliahan. Saat itu, saya tengah berada
di deretan kursi penonton dalam sebuah acara “Talkshow Mahasiswa Berprestasi” yang diselenggarakan oleh Keilmuan dan Penalaran Ilmiah (KPI),
sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa di lingkungan Universitas Hasanuddin. Saya sama sekali tidak memiliki gambaran tentang kegiatan tersebut. Motivasi mengikuti talkshow itu berangkat dari keinginan
untuk menjadi salah satu bagian dari UKM
KPI yang namanya cukup tersohor dalam bidang keilmiahan di universitas kami.
Walau sampai tulisan ini kawan-kawan baca, keinginan tersebut belum
terealisasi.
I would not said that “it was a
failure, it was my choice” J.
Rencana Yang
Khalik terkadang tidak dapat dijangkau nalar manusia. Terkadang kita
diperjalankan tanpa tujuan yang jelas hingga dengan memaknai perjalanan
tersebut, kita mulai menemukan titik terang sedikit demi sedikit. Tiada yang
menduga, kegiatan tersebut memberikan saya kesempatan untuk bertemu dengan
mahasiswa-mahasiswa pilihan bergelar Mahasiswa
Berprestasi seperti Kak Kharji
Muhajir (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Pemerintahan, 2012) dan Kak Qonita Anjani, (Fakultas Farmasi, 2012).
Masih teringat dengan jelas, kala itu mereka berkata “Gunakan sebanyak-banyaknya kesempatan untuk menempa dan memperkaya
potensi diri. Setelah proses pembelajaran di tingkat universitas ini, kita
semua akan kembali ke masyarakat dan mengabdi pada mereka”.
It was such a deep thoughts to think!
Sebelum masuk ke inti tulisan (sebenarnya tulisan ini
ada berapa part wkwkwk), Annisah memiliki
sebuah pertanyaan sederhana.
“Apakah berprestasi
adalah sebuah keharusan bagi seorang mahasiswa?”
Silahkan
dijawab masing-masing ya. Wah Annisah yakin kawan-kawan semua punya jawaban
yang pantas dihadiahi tepukan tangan. Kalau menurut Annisah pribadi sih, berprestasi adalah salah satu
bentuk eksistensi kita sebagai mahasiswa. Berprestasi menandakan sebuah proses
pembelajaran telah terlewati dan proses lainnya kembali menanti di kemudian
hari. Cieelahhh!
Kisah lika-liku (re:
pengalaman) mendaftarkan diri menjadi seorang MAWAPRES dapat ditemukan dengan
mudahnya di beranda Om Gugel. Ada banyak kisah inspiratif tentunya. Kisah ini
sendiri bermula setelah sesi mentoring session
dengan Tidar (mau tahu siapa Tidar? Silahkan baca postingan sebelumnya, oiya lain
kali akan ada postingan khusus tentang fasil kece kita yang satu ini 😝). Mari kembali fokus kawan-kawan, jadi seorang Annisah
yang notabene-nya mahasiswa rantau di kota Makassar berniat menjadi seorang
Mahasiswa Berprestasi?!. “Are you serious
Nis? Please wake up” wkwkwk.
Sebagai seorang mentee
yang baik, saya berbagi kegundahan terkait MAWAPRES kepada Tidar. Saya
percaya akan selalu ada energi positif yang saya terima terlepas dari sekecil
apapun perbincangan kami. Pertemuan via suara itu akhirnya berjalan sesuai harapan.
“Tidar saya merasa bukan siapa-siapa
diantara yang lain, mereka jauh lebih berprestasi dan berpotensi, saya tidak
tahu apa yang perlu dipersiapkan. Merespon hal tersebut, Tidar memberikan jawaban
yaitu “Nisa did you forget something? Hey
girl! You have your “family” and friends are with you there, they will be your
perfect support system, I promise you!
Kata-kata itu rasanya memiliki makna yang dalam.
Selama ini, saya merasa memikul
tanggung jawab mahasiswa berprestasi tingkat fakultas seorang diri. Tidar
berkata selanjutnya “Terkadang menjadi “bom
waktu” (re:diam-diam menghanyutkan, berharap prestasi dan pencapaian
tiba-tiba "meledak-ledak" mengagetkan orang lain) adalah hal baik tetapi tidak ada salahnya
mencoba menjadikan tujuanmu sebagai pencapaian bersama agar teman-temanmu juga
dapat berkontribusi and they would have the
same sense of belonging. It would be
more impactful.”
Then?
13 Maret 2017, saya mengirimkan sebuah invitation via google calender kepada beberapa teman saya. Saya berinisiatif untuk
mengadakan Pre-MAPRES 1.0, sebuah
simulasi presentasi karya tulis ilmiah sebelum saya memaparkan ide saya di
hadapan para reviewer di tingkat universitas. Teman-teman saya akan hadir menjadi
seolah-olah tim penilai untuk memberikan kritik yang membangun terkait presentasi saya. Karena keterbatasan tempat dan
waktu, saya hanya dapat mengirimkan invitation
tersebut pada kerabat XLFuture Leaders Batch 5 yang
berdomisili di Makassar. Kemudian satu-persatu accept dan decline saya
terima sebagai balasan invitation tersebut. Konfirmasi decline
bukan berarti tidak ingin membantu tetapi bertepatan dengan tanggal Pre-MAPRES 1.0, mereka tidak berada di
Makassar. Konfirmasi tersebut dikirim dengan doa terbaik untuk saya.
Yap, I know their heart will goes
with me wherever they are.
Hari Pre-MAPRES
1.0 pun tiba. Pukul 07.30 WITA, saya mentoring
(lagi) dengan Tidar. “Bagaimana persiapannya? Sudah berapa persen?” sapa Tidar.
Saya kemudian presentasi ala-ala via
telfon. Tidar mendengarkan dengan seksama dan mulai memberikan beberapa usulan
kalimat yang lebih efektif untuk saya gunakan ketika presentasi. Siang harinya,
sebelum saya dan teman-teman berangkat ke TKP (wkwkwk, udah kayak tim
kepolisian saja), kami menyempatkan untuk menyaksikan pertunjukkan Icha (salah
satu teman XLFL Batch 5 Makassar) di acara Inaugurasi Fakultas Ekonomi Unhas angkatan
2016.
Singkat cerita dari kegiatan tersebut, Annisah yang
awalnya merasa persiapan telah matang dan siap “berkompetisi” membawa saya
menuju realita bahwa saya belum ada
apa-apanya. Bahan, teknik, dan strategi presentasi masih sangat kurang. Belum
ada yang mengatakan saya telah memberikan penjelasan yang baik. Semua
teman-teman dengan antusiasnya memberikan kritik dan saran yang membangun. Spesial thanks also to Kak Kharji,
yang turut meluangkan waktu dan memberi saran yang detail serta
sistematis. “Semangat revisi PPT,
Annisah” itulah yang menjadi kalimat penutup di hari tersebut.
God, I am blessed, you send this
kind-hearted guys into my life.
Persiapan menuju seleksi tingkat universitas serasa menjadi hari-hari yang berat, namun tidak ada alasan untuk
berhenti. Semangat teman-teman menyadarkan saya, ada hal yang patut
saya perjuangan. Ada kepercayaan yang terletak dalam hati mereka untuk saya.
Dan hal terpenting adalah MAWAPRES tidak lagi (hanya) menjadi tujuanku
melainkan tujuan kami bersama. Hal tersebut memberikan semangat yang tidak
henti-hentinya. Latihan presentasi H-1 bersama MC Kondangan XLFL Batch 5
Makassar pun saya lakoni (terimakasih Mas, Mas-nya baik, tanpa pamrih loh, gak
minta traktiran pulak wkwkwkwk).
Jeng-jeng-jeng
Rangkaian Seleksi Mahasiswa Berprestasi tingkat
Universitas akhirnya tiba.
Tes hari pertama yaitu tes psikologi. Tes ini
membuat saya flashback masa-sama Seleksi
Beasiswa Djarum Plus khusunya tes menggambar pohon dan manusia (kawan, kalau ada yang
tertarik untuk tips-tips menggambar pohon dan orang, please let me know, I am
really happy to share my tips and tricks with you guys). Hari pertama
terlewati, saya bertemu dengan para mahasiswa top utusan fakultas. Mereka baik dan
kecerdasasannya sudah dapat terlihat dari wajahnya (kecuali saya wkwkwk). Saya
kembali mengingat pesan dari Bapak Wakil
Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Unhas bahwa “siapapun yang terpilih,
mari kita bersinergi bersama-sama untuk kemajuan universitas kita di ajang MAWAPRES
tingkat Nasional”. Amin Ya Rabb,saya dan kawan-kawan saya mendoakan loh pak
lewat postingan ini 😊)
Seleksi di hari kedua yaitu presentasi karya tulis
ilmiah cukup membuat saya panik. Mungkin ini yang akan dirasakan peserta dari
bidang eksakta. Ketakutan itu dikarenakan istilah-istilah ilmiah apalagi bahasa
kedokteran akan terasa awam bagi tim reviewer yang berasal dari bidang sosial dan humaniora. But Pre-MAPRES 1.0 has done and the real show must go on! Saya maju
dengan percaya diri. Saya menjelaskan ide saya dengan sebaik-baiknya. Kembali
teringat satu-persatu sesi latihan presentasi yang telah dijalani. Practice makes perfect, sesi presentasi
ini tidak sesulit seperti latihan awal. Dan benar saja, durasi waktu 10 menit belum
cukup membuat para reviewer memahami ide yang saya ajukan. Namun berkat sesi tanya
jawab akhirnya beliau paham tentang ide saya yang merupakan salah satu inovasi di
Bidang Kedokteran Gigi. Senangnya lagi, salah satu dosen penilai memberikan sebuah pertanyaan "Apa yang
membuat ide kamu lebih unggul dari peserta lainnya sehingga kamu pantas menjadi
Mahasiswa Berprestasi Utama?. Menjawab pertanyaan tersebut, saya tidak membandingkan
diri saya dengan kandidat lain. Saya mengatakan dengan tegas bahwa yang membuat
ide ini lebih baik yaitu sederhana dan aplikatif sehingga dapat menjadi inovasi
yang lahir di dalam lingkungan universitas kita sendiri. Berkaca dari pengalaman riset
sebelumnya yaitu Tanoto Student Research
Award, penelitian yang kami laksanakan di bidang onkologi tidak sedikitpun menarik perhatian tim reviewer dikarenakan ide
tersebut tidak dapat diaplikasikan dan terlampau tinggi jika melihat standar
riset mahasiswa.“Bukankah saingan yang sebenarnya adalah diri kita sendiri ya?. Ya,
saya percaya hal tersebut. Hanya diri sendiri-lah yang mumpuni dan paling memahami
untuk mengukur sudah seberapa baik kita dari hari-hari sebelumnya?
So
please be true to yourself, no need to compare with others. Belief yourself as
good as I do believe you can. My best wishes are with you.
Setelah rangkaian seleksi di tingkat universitas telah
berlangsung, saya kembali menjalani rutinitas perkuliahan di fakultas saya tercinta.
Cukup rindu juga setelah dua minggu tidak hadir dalam aktivitas perkuliahan (Yakin Nis? Wkwkwwk). Mengasah soft skills memang penting tetapi hal
dasar yang tak kalah penting adalah menguasai bidang keilmuan sendiri. Setinggi
dan sebanyak apapun pencapaian kita tetapi jika belum berhasil menyelesaikan
tahap pendidikan sarjana rasanya belum lengkap. Bukankah memang kita harus
menyelesaikan sampai akhir cerita? Bukankah memang kita harus menyelesaikan
semua yang telah kita mulai? And You are not alone. We will fight together
guys😊.
Akhir bulan Maret lalu, saya menerima kabar tentang terpilihnya
tiga besar MAWAPRES Universitas Hasanuddin dan Alhamdulillah, nama saya
tidak tercantum di pengumuman tersebut. Salah seorang kakak tingkat mencoba mengolok-olok
saya dengan melontarkan istilah "sakit
tapi tidak berdarah". Saya membalas ungkapan tersebut dengan sebuah senyuman.
Saya bersyukur telah diberikan kesempatan untuk berproses di ajang ini. Embel-embel
berprestasi bukanlah inti cerita, nilai
kebersamaan dan kekeluargaan yang telah saya pelajari baik selama persiapan
maupun seleksi rasanya tidak ternilai dan tidak dapat dibandingkan dengan istilah
Mahasiswa Berprestasi (pinter ngeles yak Nis wkwkwk). But seriously, I would
like to say that it was my best experience once in a lifetime. I even could not
imagine how pity I am if I skipped this chance.
Saya menatap pengumuman dengan wajah yang berseri-seri
karena saya telah melakukan usaha terbaik bersama orang-orang terbaik pula. Lantas apa yang perlu disedihkan?
Gelar Mahasiswa Berprestasi bagi saya merupakan sebuah pencapaian yang dapat kita perjuangkan
di kesempatan lain. Kalah (re: belum berhasil) dalam ajang ini tidak dapat
membatasi dan menghalangi mahasiswa untuk berprestasi di kemudian hari. Hal ini saya
maknai bahwa saya perlu belajar lebih
keras lagi, usaha lebih giat lagi, dan memantaskan diri lebih baik. Karena impian memang harus diperjuangakan
kan kawan?
Ton
of lucks goes with you, my dearest friends. Apapun yang kalian usahakan saat ini, mari kita kerahkan
kemampuan terbaik dari diri dan jika belum tercapai, explore more!
Masih
banyak kesempatan di luar sana yang harus kita
jemput bersama 😊.
"Even if it is small thing, it
still need to be prepared well"
Putri
Khairunnisa
Mahasiswa
Berprestasi Utama Fakultas Kedokteran Gigi UNHAS 2016/2017.
GALERI FOTO
![]() |
| Beberapa konfirmasi sweet decline via Google Calender |
![]() |
| Sesi penghargaan ajang PILMAPRES di tingkat Fakultas |
![]() |
| Sesi penghargaan ajang PILMAPRES di tingkat Universitas |





