Minggu, 14 Mei 2017

Mahasiswa "Beprestasi"

Halo kawan-kawan, berjumpa lagi di bulan Mei, bulan Pendidikan (istilah baru nih kayaknya hihihi)! Tulisan Annisah kali ini akan menceritakan sebuah kisah biasa dari orang biasa pula hehehe but I promise that it will be your nice short reading in your rush day. Tidak jauh-jauh dari ranah kemahasiswaan yaitu tentang MAWAPRES. Tenanglah kawan, ini bukan tentang Mahasiswa Wakil Presiden wkwkwk melainkan tulisan ini bercerita tentang Mahasiswa Berprestasi. Konon katanya, Mahasiswa Beprestasi adalah mahasiswa dengan prestasi akademik yang sangat baik (dibuktikan dengan nilai Indeks Prestasi Kumulatif yang hampir mencapai angka 4) dan juga aktif terlibat dalam kegiatan ekstrakurikuler baik organisasi, kepanitiaan, dan aktivitas sosial kemasyarakatan. Cieelah, ngewri.
Istilah Mahasiswa Beprestasi menjadi tidak asing di telinga saya tepatnya pada tahun kedua saat menempuh pendidikan tinggi di bangku perkuliahan. Saat itu, saya tengah berada di deretan kursi penonton dalam sebuah acara Talkshow Mahasiswa Berprestasi” yang diselenggarakan oleh Keilmuan dan Penalaran Ilmiah (KPI), sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa di lingkungan Universitas Hasanuddin. Saya sama sekali tidak memiliki gambaran tentang kegiatan tersebut. Motivasi mengikuti talkshow itu berangkat dari keinginan untuk menjadi salah satu bagian dari UKM KPI yang namanya cukup tersohor dalam bidang keilmiahan di universitas kami. Walau sampai tulisan ini kawan-kawan baca, keinginan tersebut belum terealisasi.
I would not said that “it was a failure, it was my choice” J.
Rencana Yang Khalik terkadang tidak dapat dijangkau nalar manusia. Terkadang kita diperjalankan tanpa tujuan yang jelas hingga dengan memaknai perjalanan tersebut, kita mulai menemukan titik terang sedikit demi sedikit. Tiada yang menduga, kegiatan tersebut memberikan saya kesempatan untuk bertemu dengan mahasiswa-mahasiswa pilihan bergelar Mahasiswa Berprestasi seperti Kak Kharji Muhajir (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Pemerintahan, 2012) dan Kak Qonita Anjani, (Fakultas Farmasi, 2012). Masih teringat dengan jelas, kala itu mereka berkata “Gunakan sebanyak-banyaknya kesempatan untuk menempa dan memperkaya potensi diri. Setelah proses pembelajaran di tingkat universitas ini, kita semua akan kembali ke masyarakat dan mengabdi pada mereka”.
It was such a deep thoughts to think!
Sebelum masuk ke inti tulisan (sebenarnya tulisan ini ada berapa part wkwkwk), Annisah memiliki sebuah pertanyaan sederhana.
Apakah berprestasi adalah sebuah keharusan bagi seorang mahasiswa?
Silahkan dijawab masing-masing ya. Wah Annisah yakin kawan-kawan semua punya jawaban yang pantas dihadiahi tepukan tangan. Kalau menurut Annisah pribadi sih, berprestasi adalah salah satu bentuk eksistensi kita sebagai mahasiswa. Berprestasi menandakan sebuah proses pembelajaran telah terlewati dan proses lainnya kembali menanti di kemudian hari. Cieelahhh!
Kisah lika-liku (re: pengalaman) mendaftarkan diri menjadi seorang MAWAPRES dapat ditemukan dengan mudahnya di beranda Om Gugel. Ada banyak kisah inspiratif tentunya. Kisah ini sendiri bermula setelah sesi mentoring session dengan Tidar (mau tahu siapa Tidar? Silahkan baca postingan sebelumnya, oiya lain kali akan ada postingan khusus tentang fasil kece kita yang satu ini 😝). Mari kembali fokus kawan-kawan, jadi seorang Annisah yang notabene-nya mahasiswa rantau di kota Makassar berniat menjadi seorang Mahasiswa Berprestasi?!. “Are you serious Nis? Please wake up” wkwkwk.
Sebagai seorang mentee yang baik, saya berbagi kegundahan terkait MAWAPRES kepada Tidar. Saya percaya akan selalu ada energi positif yang saya terima terlepas dari sekecil apapun perbincangan kami. Pertemuan via suara itu akhirnya berjalan sesuai harapan. “Tidar saya merasa bukan siapa-siapa diantara yang lain, mereka jauh lebih berprestasi dan berpotensi, saya tidak tahu apa yang perlu dipersiapkan. Merespon hal tersebut, Tidar memberikan jawaban yaitu “Nisa did you forget something? Hey girl! You have your “family” and friends are with you there, they will be your perfect support system, I promise you!
Kata-kata itu rasanya memiliki makna yang dalam. Selama ini, saya merasa memikul tanggung jawab mahasiswa berprestasi tingkat fakultas seorang diri. Tidar berkata selanjutnya “Terkadang menjadi “bom waktu” (re:diam-diam menghanyutkan, berharap prestasi dan pencapaian tiba-tiba "meledak-ledak" mengagetkan orang lain) adalah hal baik tetapi tidak ada salahnya mencoba menjadikan tujuanmu sebagai pencapaian bersama agar teman-temanmu juga dapat berkontribusi and they would have the same sense of belonging. It would be more impactful.”
Then?
13 Maret 2017, saya mengirimkan sebuah invitation via google calender kepada beberapa teman saya. Saya berinisiatif untuk mengadakan Pre-MAPRES 1.0, sebuah simulasi presentasi karya tulis ilmiah sebelum saya memaparkan ide saya di hadapan para reviewer di tingkat universitas. Teman-teman saya akan hadir menjadi seolah-olah tim penilai untuk memberikan kritik yang membangun terkait presentasi saya. Karena keterbatasan tempat dan waktu, saya hanya dapat mengirimkan invitation tersebut pada kerabat XLFuture Leaders Batch 5 yang berdomisili di Makassar. Kemudian satu-persatu accept dan decline saya terima sebagai balasan invitation tersebut. Konfirmasi decline bukan berarti tidak ingin membantu tetapi bertepatan dengan tanggal Pre-MAPRES 1.0, mereka tidak berada di Makassar. Konfirmasi tersebut dikirim dengan doa terbaik untuk saya.
Yap, I know their heart will goes with me wherever they are.
Hari Pre-MAPRES 1.0 pun tiba. Pukul 07.30 WITA, saya mentoring (lagi) dengan Tidar. “Bagaimana persiapannya? Sudah berapa persen?” sapa Tidar. Saya kemudian  presentasi ala-ala via telfon. Tidar mendengarkan dengan seksama dan mulai memberikan beberapa usulan kalimat yang lebih efektif untuk saya gunakan ketika presentasi. Siang harinya, sebelum saya dan teman-teman berangkat ke TKP (wkwkwk, udah kayak tim kepolisian saja), kami menyempatkan untuk menyaksikan pertunjukkan Icha (salah satu teman XLFL Batch 5 Makassar) di acara Inaugurasi Fakultas Ekonomi Unhas angkatan 2016.
Singkat cerita dari kegiatan tersebut, Annisah yang awalnya merasa persiapan telah matang dan siap “berkompetisi” membawa saya menuju realita bahwa saya belum ada apa-apanya. Bahan, teknik, dan strategi presentasi masih sangat kurang. Belum ada yang mengatakan saya telah memberikan penjelasan yang baik. Semua teman-teman dengan antusiasnya memberikan kritik dan saran yang membangun. Spesial thanks also to Kak Kharji, yang  turut meluangkan waktu dan memberi saran yang detail serta sistematis. “Semangat revisi PPT, Annisah” itulah yang menjadi kalimat penutup di hari tersebut.
God, I am blessed, you send this kind-hearted guys into my life.
Persiapan menuju seleksi tingkat universitas serasa menjadi hari-hari yang berat, namun tidak ada alasan untuk berhenti. Semangat teman-teman menyadarkan saya, ada hal yang patut saya perjuangan. Ada kepercayaan yang terletak dalam hati mereka untuk saya. Dan hal terpenting adalah MAWAPRES tidak lagi (hanya) menjadi tujuanku melainkan tujuan kami bersama. Hal tersebut memberikan semangat yang tidak henti-hentinya. Latihan presentasi H-1 bersama MC Kondangan XLFL Batch 5 Makassar pun saya lakoni (terimakasih Mas, Mas-nya baik, tanpa pamrih loh, gak minta traktiran pulak wkwkwkwk).
Jeng-jeng-jeng
Rangkaian Seleksi Mahasiswa Berprestasi tingkat Universitas akhirnya tiba.

Tes hari pertama yaitu tes psikologi. Tes ini membuat saya flashback masa-sama Seleksi Beasiswa Djarum Plus khusunya tes menggambar pohon dan manusia (kawan, kalau ada yang tertarik untuk tips-tips menggambar pohon dan orang, please let me know, I am really happy to share my tips and tricks with you guys). Hari pertama terlewati, saya bertemu dengan para mahasiswa top utusan fakultas. Mereka baik dan kecerdasasannya sudah dapat terlihat dari wajahnya (kecuali saya wkwkwk). Saya kembali mengingat pesan dari Bapak Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Unhas bahwa “siapapun yang terpilih, mari kita bersinergi bersama-sama untuk kemajuan universitas kita di ajang MAWAPRES tingkat Nasional”. Amin Ya Rabb,saya dan kawan-kawan saya mendoakan loh pak lewat postingan ini 😊)
Seleksi di hari kedua yaitu presentasi karya tulis ilmiah cukup membuat saya panik. Mungkin ini yang akan dirasakan peserta dari bidang eksakta. Ketakutan itu dikarenakan istilah-istilah ilmiah apalagi bahasa kedokteran akan terasa awam bagi tim reviewer yang berasal dari bidang sosial dan humaniora. But Pre-MAPRES 1.0 has done and the real show must go on! Saya maju dengan percaya diri. Saya menjelaskan ide saya dengan sebaik-baiknya. Kembali teringat satu-persatu sesi latihan presentasi yang telah dijalani. Practice makes perfect, sesi presentasi ini tidak sesulit seperti latihan awal. Dan benar saja, durasi waktu 10 menit belum cukup membuat para reviewer memahami ide yang saya ajukan. Namun berkat sesi tanya jawab akhirnya beliau paham tentang ide saya yang merupakan salah satu inovasi di Bidang Kedokteran Gigi. Senangnya lagi, salah satu dosen penilai memberikan sebuah pertanyaan "Apa yang membuat ide kamu lebih unggul dari peserta lainnya sehingga kamu pantas menjadi Mahasiswa Berprestasi Utama?. Menjawab pertanyaan tersebut, saya tidak membandingkan diri saya dengan kandidat lain. Saya mengatakan dengan tegas bahwa yang membuat ide ini lebih baik yaitu sederhana dan aplikatif sehingga dapat menjadi inovasi yang lahir di dalam lingkungan universitas kita sendiri. Berkaca dari pengalaman riset sebelumnya yaitu Tanoto Student Research Award, penelitian yang kami laksanakan di bidang onkologi tidak sedikitpun menarik perhatian tim reviewer dikarenakan ide tersebut tidak dapat diaplikasikan dan terlampau tinggi jika melihat standar riset mahasiswa.“Bukankah saingan yang sebenarnya adalah diri kita sendiri ya?. Ya, saya percaya hal tersebut. Hanya diri sendiri-lah yang mumpuni dan paling memahami untuk mengukur sudah seberapa baik kita dari hari-hari sebelumnya?
So please be true to yourself, no need to compare with others. Belief yourself as good as I do believe you can. My best wishes are with you.
Setelah rangkaian seleksi di tingkat universitas telah berlangsung, saya kembali menjalani rutinitas perkuliahan di fakultas saya tercinta. Cukup rindu juga setelah dua minggu tidak hadir dalam aktivitas perkuliahan (Yakin Nis? Wkwkwwk). Mengasah soft skills memang penting tetapi hal dasar yang tak kalah penting adalah menguasai bidang keilmuan sendiri. Setinggi dan sebanyak apapun pencapaian kita tetapi jika belum berhasil menyelesaikan tahap pendidikan sarjana rasanya belum lengkap. Bukankah memang kita harus menyelesaikan sampai akhir cerita? Bukankah memang kita harus menyelesaikan semua yang telah kita mulai? And You are not alone. We will fight together guys😊.
Akhir bulan Maret lalu, saya menerima kabar tentang terpilihnya tiga besar MAWAPRES Universitas Hasanuddin dan Alhamdulillah, nama saya tidak tercantum di pengumuman tersebut. Salah seorang kakak tingkat mencoba mengolok-olok saya dengan melontarkan istilah "sakit tapi tidak berdarah". Saya membalas ungkapan tersebut dengan sebuah senyuman. Saya bersyukur telah diberikan kesempatan untuk berproses di ajang ini. Embel-embel berprestasi bukanlah inti cerita, nilai kebersamaan dan kekeluargaan yang telah saya pelajari baik selama persiapan maupun seleksi rasanya tidak ternilai dan tidak dapat dibandingkan dengan istilah Mahasiswa Berprestasi (pinter ngeles yak Nis wkwkwk). But seriously, I would like to say that it was my best experience once in a lifetime. I even could not imagine how pity I am if I skipped this chance.
Saya menatap pengumuman dengan wajah yang berseri-seri karena saya telah melakukan usaha terbaik bersama orang-orang terbaik pula. Lantas apa yang perlu disedihkan? Gelar Mahasiswa Berprestasi bagi saya merupakan sebuah pencapaian yang dapat kita perjuangkan di kesempatan lain. Kalah (re: belum berhasil) dalam ajang ini tidak dapat membatasi dan menghalangi mahasiswa untuk berprestasi di kemudian hari. Hal ini saya maknai bahwa saya perlu belajar lebih keras lagi, usaha lebih giat lagi, dan memantaskan diri lebih baik. Karena impian memang harus diperjuangakan kan kawan?
Ton of lucks goes with you, my dearest friends. Apapun yang kalian usahakan saat ini, mari kita kerahkan kemampuan terbaik dari diri dan jika belum tercapai, explore more!
Masih banyak kesempatan di luar sana yang harus kita jemput bersama 😊.

"Even if it is small thing, it still need to be prepared well"
Putri Khairunnisa
Mahasiswa Berprestasi Utama Fakultas Kedokteran Gigi UNHAS 2016/2017.



GALERI FOTO


Beberapa konfirmasi sweet decline via Google Calender
Teman-teman yang hadir di Pre-MAPRES 1.0

Sesi penghargaan ajang PILMAPRES di tingkat Fakultas
Surprise kecil-kecilan setelah presentasi karya ilmiah tingkat universitas



Sesi penghargaan ajang PILMAPRES di tingkat Universitas


Tidak ada komentar:

Posting Komentar