September pukul 21:20
Kita mungkin pernah mendengar atau membaca ayat berikut ini:
Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak
kamu perbuat?. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan
apa-apa yang tiada kamu kerjakan. (As shaaf 2-3)Namun tidak sedikit diantara kita yang bisa paham apa maksud dan tujuan sebenarnya dari ayat tersebut diturunkan oleh Allah. Sekilas terlihat muatan ayat ini hanya biasa-biasa saja. Orang beriman, saat dia ingin berkata-kata, maka dia diminta oleh Allah untuk mengatakan sesuatu yang pernah dia kerjakan dan perbuat. Wajar sekali ayatnya. Namun, kenapa kebencian dan ketidaksukaan Allah sangat besar kalau kita mengatakan, terutama kepada orang lain, sesuatu yang tidak pernah kita kerjakan dan lakukan?. Mengerjakan atau melakukan macam apa yang diminta oleh Allah kalau kita ingin berkata-kata dengan orang lain?.
Saat kita ingin berkata-kata tentang shalat, zakat, puasa, misalnya, kita sering membatin, masak sih kita sebagai orang beriman belum pernah melakukannya?. Saat kita ingin berkata-kata tentang iman, ihsan, taqwa, kita pikir masak sih kita sebagai orang beriman belum pernah jadi orang yang beriman atau percaya?. Saat kita ingin berkata-kata tentang kasih sayang kepada keluarga, orang tua, istri, anak, dan saudara-saudara, tetangga, anak yatim, fakir miskin, masak sih kita sebagai orang beriman belum pernah menyayangi mereka?.
Kita juga sering merasa bahwa kita telah melakukan apa-apa yang diperintahkan Allah dan Nabi, serta meninggalkan apa-apa yang dilarang Allah dan Nabi. Dan itupun ditambah pula dengan banyaknya hafalan kita yang berasal dari berbagai buku dan literatur yang pernah kita baca tentang semua hal diatas. Oleh sebab itu, dengan gagah berani kitapun mencoba berkata-kata kepada khalayak umum bahwa shalat itu begini dan begitu, zakat ini begini dan begitu, puasa ini adalah untuk meningkatkan ketaqwaan. Kemudian kita banyak pula yang membahas baik secara lisan maupun tertulis tentang serba-serbi taqwa, iman, ihsan, silaturrahim, ukhuwah, dan sebagainya. Ramai sekali. Dunia perda’ian, dunia perustadzan, dunia perkiyaian, dan tak terkecuali dunia perspiritualan, kemudian tumbuh marak sekali ditengah-tengah masyarakat kita.
Namun yang menggelitik adalah, dengan semaraknya pengajian seperti itu, kok kelihatannya kualitas hidup, kesukacitaan, dan kesabaran kita umat islam ini dalam menjalankan agama dan hidup bermasyarakat bukannya bertambah baik, malah sebaliknya ada kecenderungan menurun terus kualitasnya dari waktu kewaktu. Ada apa ini gerangan??.
Kemudian saya coba amati keadaan yang terjadi dibeberapa tempat saat khotbah jum’at disampaikan. Hampir 90% jemaah berada dalam posisi tidur sambil duduk. Sebagian lagi melamun entah kemana. Sebagian lagi gelisah menunggu khotbah selesai. Kata-kata khatib seperti tidak punya daya apa-apa untuk menggugah kesadaran jama’ahnya. Kenapa ini gerangan terjadi?.
Di acara-acara pengajianpun, apa-apa yang telah disampaikan bertahun-tahun oleh ustadz kita, kiyai kita, atau murobbi kita, seperti lewat begitu saja dari telinga kanan untuk kemudian keluar lagi dari telinga kiri kita. Sehingga hasil mengaji kita selama belasan bahkan puluhan tahun itupun seperti tidak mampu memberikan kita hasil yang memadai kalau tidak mau dikatakan hanya sekedar pas-pasan.
Bersambung…
Salam,
Deka
Deka
September pukul 21:26
Beruntunglah suatu saat, setelah diajarkan oleh sahabat dan guru
saya Ustadz Abu Sangkan dan dipermatang oleh orang tua dan guru saya Pak
Haji Slamet Utomo, tentang cara membaca (iqraa), maka sedikit demi
sedikit saya mulai dipahamkan Allah tentang makna Iqraa seperti yang
diperintahkan oleh JIBRIL dulu kepada Nabi Muhammad SAW saat menerima
wahyu pertama di GUA HIRA.
Saat Nabi dipaksa oleh Jibril “Iqraa ya Muhammad…, baca ya Muhammad
”, Nabi menjawab : “Ma ana bi qari, aku nggak bisa baca”. Namun Jibril
tetap memaksa Beliau. Sampai-sampai Jibril dan Rasulullah seperti sedang
berbantah-bantahan tentang perintah membaca itu sampai tiga kali.
Jibril memerintahkan baca…!, namun Nabi menolaknya dengan mempertanyakan
apa yang harus Beliau baca. Wong saat itu nggak ada buku, nggak ada
huruf, nggak ada warna, nggak ada suara. Apalagi Beliau memang seorang
Ummi, seorang yang tidak bisa baca tulis huruf-huruf.Jibril lalu memerintahkan Nabi membaca dengan nama Tuhan, “ Iqraa bis mirabbik, bacalah dengan nama Tuhanmu…”. Akhirnya, karena Beliau memang tahu bahwa nama Tuhan adalah Allah, maka Beliaupun membaca “sesuatu” sambil menyebut nama Allah; Beliau mengamati “sesuatu” sambil membaca nama Allah. “Allah…”, dan Beliau bersikap waspada. “Allah…, dan Beliau menunggu dengan sikap siap menerima “sesuatu” itu. Dan dengan seketika itu pula sebuah prosespun terjadi di dalam diri Beliau seperti yang diterangkan Allah dengan simple didalam al Qur’an surat Az Zumar ayat 22-23. Beliau lalu diajari Allah apa-apa yang sebelumnya tidak Beliau ketahui tentang islam.
“Maka apakah orang yang telah Allah lapangkan dada/hatinya untuk islam lalu dia (hidup) diatas cahaya dari Tuhan-nya?, maka celakalah bagi yang telah membatu hatinya dari mengingat Allah, mereka itu berada dalam kesesatan yang nyata.
Allah, Dia telah menurunkan sebaik-baik perkataan kitab yang serupa, sebagian ayatnya berulang-ulang, menjadi merinding karenanya kulit-kulit orang-orang yang mereka takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi lembut dan condong kulit-kulit mereka dan hati mereka kepada mengingat Allah. Demikian itu adalah petunjuk Allah. Dia memberi petunjuk dengan itu kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan adapun siapa yang Allah sesatkan dia maka tidak ada baginya dari pemberi petunjuk”.
Mari kita runut proses pengajaran Allah kepada Rasulullah tentang islam yang kemudian Beliau sampaikan kepada sahabat-sahabat Beliau saat itu. Karena proses itu sama dan persis akan terjadi pula kepada orang-orang beriman sebelum maupun sesudah generasi Beliau, sampai ke generasi kita sekarang dan generasi yang akan datang.
Bersambung…
Salam,
Deka
Deka
05 September 2009 jam 17:48
1. Allah melapangkan, meluaskan, atau membuka dada Rasulullah.
2. Dada Beliau yang sudah lapang itu ditarok oleh Allah diatas cahaya Allah.
Dua langkah pertama ini tidak akan pernah terjadi (kecuali jika Allah
menghendakimya) bagi orang-orang yang tidak bersedia, tidak bersikap,
dan tidak ingin untuk memahami islam. Dada orang yang seperti ini
suasana didalamnya adalah gelap, keras, dan membatu sehingga dada
tersebut tidak sedikitpun sadar dan ingat kepada Allah. Kalau sudah
membatu seperti ini, Allah menamakan dada tersebut dengan istilah dada
yang dimiliki oleh orang yang sesatnya sebenar-benarnya sesat.2. Dada Beliau yang sudah lapang itu ditarok oleh Allah diatas cahaya Allah.
3. Dada Rasulullah yang sudah super lapang dan sedang ditarok Allah pula diatas cahaya-Nya kemudian DI ISI, DI OSMOSIS, DI ALIRI, DI SIBGAH oleh Allah dengan perkataan-perkataan yang utuh tentang islam. Utuh seperti dalam sebuah kitab yang lengkap dan detail, yang ditarok Allah kedalam dada Beliau. Kitab itu sama dari masa kemasa. Sama dari masa lalu, sampai sekarang, maupun untuk masa yang akan datang.
Ha Mim…, ‘Ain Sin Qaf… (Asy syura 1-2)
DERR…, ada daya pengajaran yang sangat hebat dan utuh seperti kitab diturunkan (anzal) oleh Allah, dialirkan Allah, diosmosiskan Allah Sendiri kedalam setiap sel kulit, sisi-sisi tubuh, dan seluruh DNA Beliau.
Daya yang turun itulah kemudian mampu dibaca Beliau melalui dada Beliau yang saat itu memang sedang luas tak berhingga dan sedang bergelimang pula dengan cahaya Allah.
Oooo…, ternyata Daya Pengajaran seperti inilah yang diperintahkan oleh Jibril untuk dibaca oleh Beliau. “Iqraa…, bacalah daya pengajaran dari Allah”, kata Jibril. Bukan kitab, bukan buku, bukan catatan, bukan huruf-huruf, tetapi Daya Pengajaran. Daya Pengajaran itu membawa dan memuat pengertian yang UTUH tentang islam. Daya Pengajaran dari Allah itulah yang disebut Allah sebagai sebaik-baiknya perkataan-Nya. Utuh kitab tentang islam yang beliau terima. Dan secara berulang-ulang pula Allah memberikan DERR…, DERR…, DERR…, itu selama masa kenabian Beliau. Sehingga tidak ada satu butir perkatan Beliaupun tentang islam yang tidak diawali dengan DERR itu.
4. Reaksi pertama saat Allah berkenan mengaliri Dada Beliau dengan Daya Pengajaran itu adalah: Kulit Beliau merinding, tubuh Beliau menggigil hebat seperti orang kedinginan. Sehingga menurut sejarah Beliau minta diselimuti oleh Khadijah, istri Beliau. Karena saat itu memang sedang ada Daya Pengajaran yang sangat hebat yang langsung diturunkan oleh Allah kepada Beliau. Menggigilnya kulit Beliau itu adalah karena saat itu Beliau menjadi begitu takluk, tidak berkutik, dan tercekam hebat dengan Allah. Iman Beliau kepada Allah pun menghujam dalam kedalam dada Beliau. Sel-sel tubuh Beliau, DNA Beliau, dan otak Beliaupun sedang dibasuh, dicelup, dimetamorfosis oleh Allah agar paham secara utuh tentang islam. Tidak ada bagian tubuh dan jiwa Beliau yang tidak beriman kepada Allah.
5. Setelah Daya Pengajaran itu selesai ditarok Allah kedalam dada Beliau, kemudian kulit dan dada Beliau yang tadinya merinding, bergetar, dan bereaksi hebat, lalu berubah menjadi TALINU…, tenang, lembut, lunak, dan damai. Bukan hanya itu, kulit dan hati Beliau itu juga menjadi condong kepada mengingat Allah, selalu ingin ke Allah, selalu ingin mengajak ke Allah. Sehingga dalam keadaan apapun juga, baik saat berdiri, duduk, ataupun tidur, saat bekerja, saat berkarya, saat menyabda, kulit dan hati Beliau selalu condong kepada mengingat Allah. Sehingga yang Beliau bicarakan selalu tentang Allah…
Kadzaa lika yuuhii ilaika wa ilalladzi na min qablika Allahul ‘aziizul hakiim, demikianlah Dia mewahyukan kepadamu dan kepada orang-orang yang dari sebelum kamu. Allah Maha Perkasa Maha Bijaksana. (Asy Syura 3)
6. Dzalika…!. Proses seperti diatas kemudian ditegaskan kembali oleh Allah: “Demikian itu adalah petunjuk Allah”. Begitulah cara Allah menunjuki orang-orang, siapapun, yang dikehendaki-Nya sepanjang masa, dari zaman ke zaman.
7. Sedangkan bagi siap-siapa yang Allah sesatkan dia maka tidak ada sesuatupun baginya dari sang pemberi petunjuk”. Karena yang bisa memberi petunjuk itu hanyalah Allah sendiri dengan proses seperti diatas, sedangkan Allah tidak akan pernah berkenan memberi petunjuk kepada mereka karena hati mereka keras membatu dari mengingat Allah. Hatinya pun tidak akan pernah condong kepada Allah. Dia akan sibuk dengan segala sesuatu yang akan menjauhkannya dari Allah.
Salam,
Deka
Bersambung…
06 September 2009 jam 6:21
Dari proses yang diterangkan Allah dalam ayat 22-23 surat Az Zumar
diatas menjadi jelaslah bahwa untuk bisanya kita menerima islam itu
dengan SUKACITA dan UTUH (KAFAH), haruslah terlebih dahulu ada Daya
Pengajaran Allah yang diturunkan Allah langsung kedalam dada kita.
Merinding jadinya kulit kita, bergetar dada kita akibat turunnya Daya
Pengajaran Allah itu. Lalu setelah itu muncul suasana tenang dan damai
yang menyelimuti dada kita.
Jadi…, bukan cukup hanya sekedar kita membaca dan menghafal
definisi-definisi dari kitab al Qur’an dan Al Hadist yang tertulis dalam
bahasa Arab, atau tafsir dan uraian dari ulama-ulama penerus
Rasulullah. Bukan. Sebab setiap KATA didalam Al Qur’an dan Al Hadist itu
sekaligus BERSATU dengan SUASANA dan KEADAANNYA.Suasana ini akan disimpan didalam otak kita untuk nanti di recall (dipanggil ulang) pada saat kita membutuhkannya. Bahkan kadangkala pada saat-saat tertentu, suasana yang sudah ada didalam dada kita itu akan diperkuat Allah dengan daya pengajaran yang sama tapi dengan kualitas dan intensitas yang lebih tinggi, agar kita semakin paham dan mengerti tentang suasana yang telah kita dapatkan sebelumnya. Penguatan itu bisa berulang-ulang seperti yang dijelaskan oleh ayat diatas. DERR…, DERR…, DERR…….
Selanjutnya tinggal terserah kita. Misalnya, saat kita ingin berkata-kata, berbicara, menulis, ceramah, ataupun berkhotbah tentang sesuatu topik, kita tinggal me recall suasananya, lalu dada kita dialiri lagi dengan suasananya, kemudian kita menerjemahkan suasana dada kita itu dengan kata-kata kita sendiri, atau bisa pula kita cari padanan kalimat-kalimatnya didalam al Qur’an dan Al Hadist. Dan secara mencengangkan pastilah inti sari dari kata-kata yang kita pilih dalam bahasa kita itu akan sama dengan muatan salah satu atau beberapa ayat Al Qur’an dan Al Hadist. Dan kemudian, walaupun kita baru mendapatkan satu atau dua Daya Pengajaran dari Allah tentang islam, maka sampaikanlah satu atau dua ayat itu. Insyaallah itu akan sangat bermanfaat bagi orang-orang yang menerimanya.
Misalnya, pada suatu saat dada kita pernah dialiri oleh Allah dengan suasana percaya yang sangat pekat kepada-Nya. Percaya kita itu FULL…, PENUH…, UTUH…!. Rasa percaya itu sampai mempengaruhi kulit, seluruh tubuh, dan DNA kita. Rasa percaya kita itu tidak hilang-hilang, tidak copot-copot. Rasanya seperti orang yang sedang kasmaran. Kita benar-benar tidak berkutik, takluk, dan habis dari segala pengakuan dihadapan Allah. Bahkan, saat kita lagi capek, ngadunya ke Allah: “ya Allah saya capek…”. Saat kita ngantuk dan ingin tidur, sambil merebahkan diri, kita maunya ngomong ke Allah: “ya Allah tubuh saya ingin tidur ya Allah, saya siap kembali kepada-Mu”, Lalu kita siapkan ruh kita untuk kembali ke Allah: “saya siap ya Allah. Allah…”. lalu kita lenyap kembali ke Allah.
Begitu bangun tidur, bawaannya kita juga tetap saja condong ingin ke Allah, sehingga kitapun inginnya berucap: “makasih ya Allah, Engkau telah hidupkan saya kembali setelah tadi mati beberapa saat”. Untuk hal tersulitpun, tatkala kita mendapatkan sebuah peristiwa yang tidak sama dengan apa yang kita harapkan, kita dengan sangat lapang berkata: “ya Allah saya siap menerimanya ya Allah”.
Bahkan saat Allah mengetok bumi dengan gempa bumi atau gunung meletus yang meluluh lantakkan rumah, sawah, ladang, dan bahkan memakan korban jiwa, kita masih bisa berkata tanpa rasa panik dan takut: “Allah ya…”. Lalu kitapun segera berdiri tegak: “Siap ya Allah…”. Dan dengan tergopoh-gopoh kita segera mengalirkan sebagian rezki kita dan mengulurkan bantuan tenaga kita, tentu saja sesuai dengan kemampuan kita, untuk membatu korban bencana yang membutuhkannya. Kita segera beranjak melaksanakan tugas kepetugasan kita dihadapan Allah. Bukan hanya sibuk membahasnya dengan mulut berbusa-busa. Karena memang disetiap bencana yang datang menyapa, sebenarnya saat itulah orang beriman sedang MELIHAT ALLAH.
Sungguh…, setiap Allah MENYATA kealam benda, maka benda-benda akan hancur, gunung-gunung akan luluh lantak, bumi akan bergoncang, manusia akan tiada, pingsan…, mati…!. Sebab saat itu sebenarnya Allah sedang menyata, sedang menyabda, sedang mengaku, sedang berkata kepada kita semua:
“Ini Aku…, Allah…, Wahai semua ciptaan-Ku, kalian sebenarnya tiada, semua FANA, kecuali hanya Aku yang KEKAL. Akulah Allah, tiada Tuhan selain Aku, sembahlah Aku, mengabdilah kepada-Ku, dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”.
Kalaulah kita masih saja tidak tercerahkan, tidak tersadarkan, dengan peringatan seperti itu, maka Allah kembali bersabda dengan lembut: “Fabiayyi alaa irabbikuma tukadzdzibaan, maka yang manakah karunia Tuhan kalian yang kalian dustakan?”. “Dengan cara apalagi Aku harus menyadarkan kalian tentang Aku kalau tidak dengan shalat??”.
Akhirnya bagi orang yang beriman apa-apa Allah, sedikit-sedikit Allah, persis seperti orang kasmaran kepada kekasihnya. Dan pastilah kemudian dia akan menjalankan Shalat dengan bersemangat. Karena saat shalatlah orang beriman MELIHAT ALLAH. Karena saat shalat itu Ruhani orang beriman melesat terbang kembali ke sisi Allah.
Suasana percaya penuh dan utuh kepada Allah seperti ini disebut juga dalam bahasa arabnya dengan istilah IMAN kepada Allah. Rasa Iman kepada Allah. Suasana RASA IMAN ini bisa kita recall kembali. Atau bisa pula pada saat-saat tertentu Allah menurunkan kembali daya pengajaran-Nya kedalam dada kita tentang RASA IMAN itu untuk lebih memantapkan iman kita kepada-Nya. DERR…
Bersambung…
Salam,
Deka
Deka
Sebaliknya, bagi orang-orang yang telah membatu hatinya dari mengingat Allah, proses mengalirnya Daya Pengajaran dari Allah nan super lembut tersebut diatas TETAP tidak akan pernah tertangkap sedikitpun oleh dadanya. Dadanya tetap mati. Bahkan Allah tetap tidak berkenan mengalirkan daya itu sedikitpun kedalam dadanya. Sehingga saat dia mencoba untuk berkata tentang IMAN, maka rasa atau suasana IMAN itu TIDAK ADA sedikitpun berada didalam dadanya.
Malah sebaliknya, saat dia berkata: “saya TIDAK PERCAYA…”, maka ucapan TIDAK PERCAYANYA itu UTUH dan BULAT. Karena ucapan tidak percayanya itu persis sama dengan suasana tidak percaya yang ada didalam dadanya. Dan itu pasti sama pula dengan salah satu atau beberapa ayat Al Qur’an dan Al Hadist.
Makanya ada ayat-ayat yang berkenaan dengan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah. Misalnya ketika Al Qur’an bercerita tentang ketidakpercayaan Fir’aun, Namrud, dan beberapa nama lainnya kepada Allah. Kalau orang sudah begini, tidak ada yang bisa memberi petunjuk baginya kecuali Allah sendiri. Tentu saja dengan cara Allah yang ekstrim pula. Fir’aun baru bisa percaya kepada Allah pada detik-detik terakhir hidupnya, saat dia mengalami siksaan ketika ditelan oleh lautan.
Keadaannya akan berbeda kalau kita berbicara tentang rasa MARAH atau BENCI kita kepada seseorang yang pernah menyakiti dan mengecewakan kita. Begitu kita berbicara: “Saya benar-benar MARAaaHHH… kepada si A, Saya BENCI sekali kepadanya…”. Dada kita terisi penuh dan utuh dengan suasana rasa MARAH dan BENCI itu, wajah kita menegang dan memerah, seluruh tubuh kita mengejang siap untuk memuntahkan energi marah yang tercipta disetiap sel tubuh kita kepada orang yang kita marahi dan benci itu. Andaikan orang yang kita benci itu ada didepan kita saat itu, alangkah berbahayanya keadaannya.
Sekarang menjadi jelaslah maksud surat As shaaf 2-3 diatas, kalau kita ingin berbicara tentang sesuatu yang berkenaan dengan islam, maka seyogyanyalah, wajiblah kita sudah melakukannya terlebih dahulu dengan utuh dan bulat. Artinya saat kita melakukan aktifitas tersebut bersamaan dengan itu ada pula suasananya. Sehingga kata-kata yang akan kita ucapkan atau tuliskan setelah itu adalah suasana jiwa kita sendiri yang telah bersatu dengan kata-kata yang kita ucapkan atau tuliskan itu. Dan itu pasti akan mempengaruhi orang yang mendengarkannya atau yang membaca kata-kata kita itu. Artinya omongan kita bisa nyambung. Inspiring… Namun, tetap tidak akan begitu berpengaruh banyak terhadap orang yang memang tidak bersedia membuka hatinya untuk menerima islam…
Ini bisa dimisalkan dengan penggunaan sebuah kata seperti GOLF. Bagi seorang pegolf, saat dia berbicara tentang GOLF, maka suasana nikmatnya bermain golf bersatu dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya. Dia bisa bercerita bagaimana mereka bisa kuat berjalan berkilo-kilo selama berjam-jam, berpanas-berhujan, memukul, dan memasukkan bola ke hole tanpa capek sedikitpun. Ceritanya bisa detail dan runut sekali sampai kehal terkecil sekalipun. Bagaimana rasanya saat bola berhenti tipis dipinggir lobang, sehingga kalau ditiup sedikit saja bola itu akan masuk. Tapi bola itu tidak boleh ditiup. Seperti yang pernah diperlihatkan dalam sebuah iklan minuman beberapa waktu yang lalu. Duh rasanya penasaran banget.
Kalau cerita tentang golf ini disampaikan kepada sesama pegolf, maka ngomongnya seperti ada tali yang menyambungkan keduanya sehingga mereka bisa berbicara dan tertawa bersama-sama. Bahkan saat salah seorang dikoreksi atau disalahkan oleh temannya dia bisa menerima dengan tanpa ngedumel sedikitpun. Dan dia malah balik berkata: “besok saya akan lebih baik dari sekarang, awas kamu ya…”, ucapnya sambil tertawa. Suasananya begitu cair dan renyah sekali. Karena mereka berbicara golf sekaligus dengan me recall dan menikmati kembali suasana rasa bermain golf itu didadanya, sehingga yang muncul adalah Ukhuwah pegolf, atau suasana pertemanan ala komunitas pegolf. Suasana yang tidak akan pernah bisa muncul ketika seorang pemain tenis meja bercerita kepada pemain golf, tapi si petenis meja belum pernah main Golf apalagi menikmatinya, walau dia sering membaca buku golf, Sehingga pastilah omongan mereka nggak akan nyambung…
Contoh yang sama bisa kita amati pada suasana pertemanan ala para pemancing. Suasananya cair, renyah. Peristiwa saling salah menyalahkan diantara merekapun bisa berjalan dengan aman-aman saja. Tidak ada diantara mereka yang rebutan ikan. Tidak yang berantam gara-gara senggolan pancing. Saat pancing mereka saling tersangkut, mereka malah bisa saling tertawa lepas. Diantara mereka belum ada terdengar yang saling berbunuh-bunuhan kecuali membunuh ikan. Asyik sekali mereka dalam memancing itu. Kalaulah ada yang melarang mereka untuk pergi memancing, barulah mereka marah habis-habisan…
Begitu jugalah seharusnya yang terjadi diantara sesama umat islam dalam mewujudkan ukhuwah islamiyah, suasana pertemanan ala sesama umat islam. Namun sayangnya, saat kita berbicara tentang islam, walau diantara sesama umat islam sekalipun, suasana renyah dan cair itu sudah jarang sekali terjadi kalau tidak mau dikatakan tidak pernah lagi tercipta. Ukhuwah islamiyah yang sering didengung-dengungkan orang itu sekarang sudah barang langka dan sangat sulit diwujudkan. Karena dalam bergaul diantara sesama muslim, kita sudah begitu terbiasa saling berbicara tentang sesuatu yang tidak atau belum pernah kita lakukan dengan UTUH. Kita dengan sangat bersemangat bisa bercerita tentang IMAN (percaya), misalnya, tapi sayangnya kita berbicara dengan tidah utuh. Saat kita bercerita IMAN itu, tidak ada sedikitpun SUASANA IMAN yang utuh terbentuk didalam dada kita. Dada kita hambar saja. Dada kita datar-datar saja. Bahkan ada sebentuk suara lirih yang sedang berkata didalam dada kita yang menolak apa-apa yang tengah kita katakan itu. “Aaaa… kamu bohong ya…, kamu sendiri ragu ya…”, kata suara lirih itu. Dan biasanya kita tidak mempedulikan suara lirih itu dan tetap meneruskan perkataan bohong kita itu.
Bersambung…
Salam,
Deka
Kalau diantara sesama umat islam sendiri sudah saling berbicara secara tidak utuh begini, maka itu alamat akan sangat membosankan sekali. Rasa kantuk cepat sekali menyerang. Tidak ada rasa sambung, atau tali rahim yang menghubungkan di antara sipembicara dan yang mendengarkannya. Otak kita saling tolak menolak. Saat kita diberitahu oleh si penceramah bahwa saat itu kita sedang tidak baik, tidak khusyuk, tidak bahagia, lalu sipenceramah mengajak kita untuk bertaqwa, untuk khusyu sekarang juga. Maka dada kita langsung berontak menolaknya. Kita ngedumel: “wah sipenceramah ini asal bicara saja”. Dada kita langsung tidak nyaman. Rasa tidak nyaman itu utuh dan bulat menyelimuti tubuh dan dada kita. Sehingga akhirnya pada ceramah-ceramah yang akan datang dia tidak akan datang kalau sipenceramahnya adalah orang dulu yang pernah menasehatinya. Yang muncul kemudian adalah rasa permusuhan, rasa bergolong-golongan diantara sesama muslim.
Pantas saja Allah begitu benci kalau kita begitu. Karena ternyata saat kita berbicara kepada orang lain tentang iman, sementara suasana rasa iman itu tidak ada sama sekali, atau paling tidak belum utuh dan bulat tertanam didalam dada kita, maka sebenarnya saat itu kita tengah berbicara bohong. Seperti yang pernah dilakukan oleh seoran badwi dihadapan Rasulullah:
Orang-orang Arab Badwi itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah (kepada mereka): “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: “Kami telah tunduk”, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu… “. (Al Hujuurat 14).
Orang Arab Badwi itu belum berada pada posisi orang yang bersedia untuk diberi DERR oleh Allah…
Lalu…, mana bisa orang yang dadanya sedang gelisah bercerita tentang suasana tenang. Mana bisa orang yang dadanya sedang dipenuhi rasa benci bercerita tentang suasana kasih sayang. Mana bisa orang yang dadanya sedang kebingungan bercerita tentang kepahaman. Mana bisa orang yang dadanya penuh dengan rasa dendam akan bercerita tentang suasana saling memaafkan. Mana bisa orang yang dadanya penuh dengan rasa ingin merusak berbicara tentang rahmat bagi semesta alam. Mana bisa orang yang suasana dadanya sedang penuh dengan rasa keangkuhan: “Ana khairu minhu, aku lebih baik dari dia”, akan berbicara tentang persaudaraan islam (ukhuwah islamiyah). Mana bisa orang yang suasana dadanya masih kotor dan mati, mau bercerita tentang kemahasucian dan kemahalembutan Allah. Mana bisa orang akan bercerita tentang suasana syurgawi, sedang saat itu dadanya sedang dipenuhi oleh suasana neraka. Mana bisa… Dan DAYA yang dipancarkannya pun sungguh tidak enak dan tidak nyaman…
Kalau kita masih saja begitu, kita berkata-kata tentang sesuatu tentang kebaikan islam yang belum kita lakukan secara utuh, itu malah bisa menebarkan benih-benih perpecahan dan rasa permusuhan ditengah-tengah umat. Kita akan menyebarkan DAYA NEGATIF yang kalau diterima oleh orang yang dadanya TIDAK LOS dan TIDAK KOSONG akan mempengaruhinya untuk melakukan hal-hal yang negatif pula. Makanya, sebagai akibatnya seringkali kita lihat orang yang lidahnya sedang menyebut ALLAHU AKBAR, tapi matanya melotot menyeramkan, dia merusak lingkungan, dia menyakiti bahkan sampai membunuh orang lain yang tak berdosa. Sehingga alih-alih dia mengharumkan nama islam, dia malah membuat citra islam jatuh terpuruk sampai berada dititik nadir. Ini seperti susu sebelanga dirusakkan oleh nila setitik. Duh kasihan sekali Rasulullah yang telah bersimbah keringat bercampur darah untuk mengharumkan islam, tapi umat Beliau sendiri malah melepehkannya. Rasulullah mengibaratkan ini seperti seekor babi melepehkan butir-butir mutiara dari mulutnya.
Atau akibat lain yang paling ringan adalah apa-apa yang kita sampaikan itu hanya akan jadi sampah pemikiran saja didalam otak orang lain, yang akan membuat ruwet pola pemikiran mereka. Keruwetan seperti itu pulalah yang akan ditularkannya kepada orang lain. Ruwet berbuah ruwet …
Sungguh dahsyat memang muatan ayat (As shaaf 2-3), ini yang memang ditujukan Allah sebagai peringatan bagi orang BERIMAN untuk berkata-kata. Kalau bagi orang yang tidak beriman, mau bicara apa saja sih… ya silahkan saja…
Namun ayat-ayat yang tegas tersebut janganlah jadi tembok penghalang pula bagi kita untuk berkata-kata tentang islam kepada sesama. Tidak begitu. Itu namanya kita sedang ngambek atau “pundung” seperti anak kecil. Ayat-ayat itu malah seharusnya tambah membuat kita bersemangat untuk minta dituntun oleh Allah, minta diajari oleh Allah, mohon dimengertikan oleh Allah tentang islam, minta didudukkan oleh Allah didalam kursi islam yang utuh. Karena memang yang tahu persis tentang islam adalah Allah dan Rasulnya saja. Ayat as Shaaf 2-3 itu seharusnya akan lebih menggugah kita untuk tetap duduk kokoh menghadap kepada Allah untuk minta diajari-Nya, dan dengan sabar kita akan menunggu DERR demi DERR dari-Nya. Sungguh…, Allah bersama orang yang SABAR…
Begitu juga…, ayat-ayat ini janganlah dengan serta merta membuat kita menjadi begitu bersemangat untuk “menilai” orang lain tatkala kita tidak mampu menangkap makna-makna dari apa-apa yang dia ucapkan kepada kita. Boleh jadi saat itu kitanya yang tengah lalai. Saat itu kita tengah tidak berada pada posisi siap untuk menerima pengajaran yang pada hakekatnya saat itu Allah lah yang sedang mengajari kita lewat lidah orang itu. Kita tidak membuka otak kita, kita tidak mengosongkan cangkir kita, kita tidak melepas keangkuhan kita, kita tidak membuka dada kita saat itu, sehingga kitapun tidak dapat memetik manfaat dari apa-apa yang tengah diajarkan oleh Allah kepada kita melalui lidah orang lain.
Jadi ayat-ayat ini bukan untuk menilai orang lain, bukan… Juga bukan sebagai dasar pema’afan buat diri kita saat kita tidak mampu menangkap makna-makna dari ucapan orang lain kepada kita. Tapi ayat ini lebih untuk menjadi peringatan kepada kita sendiri, agar sebelum kita berkata-kata kepada orang lain tentang islam, sekali lagi tentang islam, haruslah kita telah melakukan apa-apa yang kita katakan itu secara utuh terlebih dahulu. Karena untuk menerima islam itu prosesnya ada tersendiri. Prosesnya unik, yang bukan dari proses berfikir. Tapi dengan cara DERR…
Insyaallah, Shalat Center sedang membangun kembali rasa pertemanan ala peshalat yang utuh itu. Yaitu, generasi peshalat yang cair dan renyah dalam berislam, kemudian berhasil pula mengejawantahnya ditempat kerjanya, berupa hasil fikir yang cemerlang, karya yang berbuah ranum, serta manfaat berkah yang melimpah bagi sesama. Sebuah generasi yang mampu hidup berkelimpahan karena mereka mampu untuk BERIMAN UTUH kepada Allah, Dzat Yang Maha Berkelimpahan. Sehingga akhirnya semua bisa bersaksi dengan utuh: “Asyhadu allailaha illallah…, wa asyhadu annamuhammadan rasulullah…”
Nah… nanti shalat yang seperti ini bisa dinamakan dengan nama apapun juga, seperti shalat yang dzauq, shalat holistik yang mengharmonisasikan kognisi, afeksi, dan motorik. Ah silahkan saja sebut dengan berbagai istilah itu. Saya jadi ingat istilah Pak Haji Slamet Utomo untuk shalat seperti itu, yaitu shalat yang dihayati.
Yang pasti 1000 generasi pertama peshalat utuh itu telah diletupkan dadanya oleh Allah, direstui oleh ustadz Abu Sangkan dan direstui pula dengan do’a dari Pak Haji Slamet Utomo untuk bergerak kepelosok-pelosok Nusantara dan Dunia, untuk membumikan kembali SHALAT yang UTUH. Sebuah mutiara yang nyaris tertutup oleh lumpur kegelapan hati kita.
Wallahu a’lam…. Ya Allah…, hamba mohon maaf andaikan hamba keliru dalam memaknai ayat-ayat-Mu.
Selamat mencoba wahai sahabat-sahabatku…, Singgahlah sejenak untuk mencicipi seteguk DERR…
Singgahlah…
Salam,
Deka 04 September 2009, Jalan Kabel 16, Cilegon.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar