Minggu, 18 November 2012

Menikmati Sebuah Pengulangan

Minggu, 28 Oktober 2012 9:14
Ass.wr.wb.
Sudah lama kita tidak kontak. Semoga kabar mas Deka baik dan sehat selalu.
Selalu dalam lindungan Allah swt.
Semoga keselamatan dan kesejahteraan berlimpah dari Allah untuk mas Deka sekeluarga.
Ada tulisan dari email mas Deka “tepat setahun yang lalu” 27 Oktober 2011.
Saya cuplik email mas Deka itu:
ya…., begitulah yang saya tangkap setelah membaca tulisan Mas IB yang ke sekian. Dengan tulisan kesekian itu, Mas IB telah selesai menjalani satu putaran proses dari awal sampai mampu menerjemahkan pesan yang Allah sampaikan kepada Mas IB. Lalu menyampaikannya kepada orang-orang. Proses berikutnya adalah pengulangan-pengulangan dengan intensitas yang meningkat. selamat berkiprah Mas IB.
salam hangat dari cilegon.
deka

Ada satu keanehan yang saya alami.
Saya mengalami “pengulangan proses”. Sepertinya sejarah diulang. Dengan tempo dan intensitas yang lebih cepat dan lebih kuat.
Seolah mengulangi dari pelajaran dasar dan mengikuti kelas demi kelas setingkat demi setingkat.
Demikian banyak hal-hal yang berulang. Banyak kejadian yang berulang, banyak kisah yang berulang. Banyak pelajaran yang berulang.
Sebetulnya banyak kejadian. Tetapi nanti saya kisahkan di lain waktu, kalau ada “feel”nya.
Dan email ini juga membuktikan “pengulangan tersebut”.
Secara garis besarnya, sekarang lebih mampu menikmati “rasa”. Seolah kesadaran selalu mengapung bersama “alam semesta”.
Rasanya nyaman dan enak, lega dan nikmat selalu.
Rasa seolah menjadi sangat sensitif dan peka dengan alam. Sehingga mampu menikmati keindahan alam semesta.
Menjadi seperti tiada diri. Namun menapak realitas dan membumi dan bekerja keras.
Menjadi kosong namun penuh berisi. Menjadi berisi, namun seolah tiada apa-apanya.
menikmati hidup dengan penuh rasa syukur, hidup yang sangat nikmat dalam kesempatan yang sekali ini saja.
Menyadari betapa lemah dan tiada daya, sehingga hanya selalu memohon ampun.
Maka menikmati hidup dalam syukur dan istighfar, menikmati kegembiraan dan kebahagiaan hidup secara realitas.
Mungkin akan saya kisahkan dalam bagian lain. Insya Allah.
Bersambung…
Wass Deka on Behalf of IB

Catatan di tanggal 28 Oktober 2012.
Pagi ini saya meneruskan tulisan yang ingin saya kirimkan untuk mas Deka.
Ternyata benar firasat untuk menunda pengiriman ke mas Deka, yaitu untuk memahami pembelajaran
atas makna pelajaran atau untuk menambah pemahaman, karena kalau sudah terkirim maka selesai
namun ketika masih tertahan maka saya mampu menahan diri, mampu bersabar, tidak terburu nafsu,
mampu melihat dari banyak sisi yang belum terfikir, sehingga tidak terpengaruh “ego”
tidak terpengaruh kesombongan, bangga diri dan tidak larut dalam kebenaran semu
saya mampu lebih dalam memasuki “rasa” atas pengulangan yang terjadi
bersabar dalam melihat peristiwa
bersabar dalam memahami sebuah makna
menahan diri dari sifat tergesa-gesa
menahan dari hawa nafsu dari rasa ingin “menonjolkan diri”
dari rasa sudah “hebat” atau “rasa dekat dengan hal gaib” atau sebangsanya
namun yang timbul justru rasa tidak tahu dan rasa tunduk
ada sebuah “pemahaman inti” yang muncul kembali dengan menahan diri tidak langsung mengirim
selain menghindarkan diri dari “rasa lebih yang saya sebutkan di atas”
yaitu makna sebenarnya dari semua pelajaran atas “pengulangan” ini.
Inti sederhana yang pernah mas Deka sampaikan, yaitu:
“BERSEDIA MENERIMA ALLAH”.
Inilah inti yang ingin disampaikan, dan ternyata baru muncul setelah saya mampu menahan diri
sebuah pelajaran sederhan dan sangat sederhana, yaitu proses menerima Allah
dan rasa menerima Allah.
Bersambung…
Wass Deka on Behalf of IB

Menikmati Sebuah Pengulangan 3-13
Saya atau kita umumnya selalu merasa sudah bersedia menerima Allah
namun pada kenyataannya sering masih sangat jauh dari “keadaan” yang Allah inginkan
maka Allah akan “menguji” atau “memproses” dengan pengulangan-pengulangan kejadian
agar diri kita mampu lebih dalam untuk “menerima Allah”, dalam tahap atau tingkat yang lebih dalam
Saya atau kita selalu merasa sudah mengenal atau mengetahui tentang Allah
namun pada kenyataannya sering masih sangat jauh dari “keadaan” yang Allah inginkan
maka Allah akan “menguji” atau “memproses” dengan pengulangan-pengulangan kejadian
agar diri kita mampu lebih dalam untuk “menerima Allah”, dalam tahap atau tingkat yang lebih dalam
Setiap tahap kita merasa sudah mengenal Allah, maka akan dibenturkan oleh kejadian
sehingga akhirnya kita merasa “belum sanggup” menerima takdir/kehendak Allah
kita hanya bisa menerima itu atas bantuan dan nikmat serta rahmatNya saja
sebetulnya bukan usaha kita sama sekali, kita hanya tanpa daya upaya sama sekali
upaya kita seolah seperti mendorong tembok baja, tiada guna
ketika merasa bisa, kembali dibenturkan lagi, sampai hancur berkeping-keping
sehingga sampai tunduk, menyerah, pasrah dalam sebuah penerimaan rasa “suka rela”
yang terasakan sebagai sebuah “hal” yang lebih dalam dan lebih dalam lagi
setiap pelajaran akan meningkatkan rasa ini semakin dalam
setiap tahapan atau kemajuan, kita meyakini bahwa kita sudah semakin mengenal Allah,
maka akan dibenturkan dan diulangi ujian/cobaan/masalah dalam hidup
yanga akhirnya akan sampai pada suatu titik, dimana akhirnya saya menyerah
dengan sebuah hal yang sederhana: “Aku tidak tahu”
aku menyerah dan aku tidak tahu apa-apa
semua rasa tahuku hanyalah pemberian, atau titipan atau pinjaman
aku menyerah saja, otak berputar tanpa henti mencapai titik jenuh penuh rasa lelah
hampa, letih dan hanya akan sampai di satu titik itu lagi: Aku tidak tahu
perjalanan ini akhirnya menjadi sebuah perjalanan yang tidak diketahui
tanpa perlu difikirkan, bahkan rasanya pun hanya perlu bersedia dan rela diberi rasa apapun
apapun rasa yang muncul, hanya bersedia dan rela untuk menerimanya
rela menerima Allah dalam bahasa sederhananya adalah:
“Rela menerima rasa apa saja yang disispkan Allah di dalam jiwa kita”.
Bersambung…
Wass Deka on Behalf of IB

Ketika tidak sanggup dan tidak mampu lagi maka hanya mengembalikan semua rasa ini
kepadaNya dalam sebuah doa dan permohonan yang dalam
Ya Tuhanku, mohon angkat dan bantu atau kuatkan diri ini untuk menerima
rasa yang terasa sangat berat dan menyakitkan ini
dan sangat aneh, dalam hitungan detik, maka rasa inipun lenyap digantikan
oleh sebuah rasa lain yang bertolak belakang
rasa nikmat yang belum pernah dirasakan bahkan tak terbayangkan
tak pernah terlintas oleh fikiran dan sangat sulit untuk diceritakan.
mungkin hanya yang pernah merasakan saja
yang bisa menikmati apa yang saya ceritakan ini.
Hikmah lain dari menunda mengirimkan ini
yaitu agar diri saya mampu secara sadar menonton proses pengulangan
atau bahasa lebih tepatnya, mampu menjadi saksi sejati
atau pengulangan ini, sehingga saya mampu menjadi saksi
atas rasa yang juga mas Deka rasakan
mampu menjadi saksi atas apa yang mas Deka sampaikan tepat setahun yang lalu
dan saya dengan penuh keteguhan mampu bersaksi bahwa proses pengulangan itu benar telah terjadi
dan terjadi dengan sesungguhnya atas diri saya, walaupun saya berusaha mengingkarinya
dengan kalimat atau dalih sederhana: “Sebuah hal kebetulan”.
namun akal dan jiwa saya tidak lagi tergoyahkan dalam sebuah keyakinan
yaitu mampu menjadi saksi bagi diri sendiri atas kejadian ini
sehingga akan mampu menyelami makna persaksian yang lebih dalam lagi
yang mas Deka sampaikan: Persaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah
Persaksian bahwa Muhammad adalah utusan-Nya
maka kesadaran telah mampu berada dalam ruang atau kelas yang sama
telah mampu berada dalam rumah yang sama
dalam persaksian yang sama
bahkan mampu menyaksikan: Rasa yang sama yang telah dirasakan
Bersambung…
Wass Deka on Behalf of IB

Akhirnya catatan ini akan saya kirimkan hari ini
ada sebuah dorongan dan kehendak yang lembut dari dalam
dorongan yang selembut benang, tapi sekokoh batu karang
yang tak akan mampu saya tahan, dorongan yang jika saya lawan
justru menimbulkan keresahan dan rasa sakit di dalam jiwa yang sangat terasa
terasa menghujam jauh ke dalam jiwa dan melemahkan seluruh otot dan persendian
seperti sebuah hujaman pedang tajam yang menghentak dan jauh menembus ke ujung dada
kesakitan yang menyengat, begitu dalam, membuat kepala berat dan pening dan kehilangan arah
namun dorongan atau daya ini ketika diikuti dengan suka rela dan rasa pasrah
seolah belaian lembut tangan seorang yang terkasih
sedemikian lembut dan halus terasa membelai hati, sedemikian merasuk dan mengusap
sebening air yang sangat menyegarkan, seindah warna-warni pelangi
sehangat cerahnya menatari saat pagi hari bersinar, selembut sepoi-sepoi angin yang menyejukkan
terasamengeusap seluruh sel-sel di dalam dada, berdenyut lembut dan penuh rasa nikmat
terasa menggeletar dan mengayun, melenakan, terasa dingin dan sejuk
namun juga hangat dan lembut, terasa seperti dipenuhi hawa yang tembus dengan udara
terasa mengembang dan meluas menembus angkasa, dan bersatu dengan angin di luar tubuh
seluruh panca indera terasa menjadi sedemikian peka
dalam getaran dan frekuensi yang sama dengan alam sekitar
ketika angin berdesir lembut maka merasuk ke dalam jiwa lembut dan silirnya angin itu
ketika musik alami terdengar, keciap burung dan derit daun pintu atau gerak dahan dan daun tertiup angin
terasa jiwa menikmati keindahan yang ribuan kali lipat dari apa yang terdengar
ketika mata memandang langit nan biru penuh kagum
maka jiwa terasa memberontak dan menggelagak dalam riuhnya pujian atas segala keindahan
terasa keceriaan yang menari-nari, terasa gejolah keriangan yang entah seperti apa
terasa lonjakan kegembiraan yang terasa sangat aneh yang menggelora
terasa betapa kehidupan begitu penuhnya dengan keindahan
dan terasa betapa sayangnya manusia sangat sedikit yang mau menyadarinya
terasa betapa nikmatnya menikmati keindahan alam semesta ini
terasa nikmatnya rasa syukur ketika kesadaran berada bersama alam semesta
berada dalam frekuensi yang sama, terasa berada dalam frekuensi gelombang dzikir yang sama
yaitu Ketundukan dalam penerimaan Allah.
Bersambung…
Wass Deka on Behalf of IB

Ketika indera perasa menikmati seluruh rasa, rasa nikmat makanan
rasa nikmat minuman dan rasa yang lain, dan juga indera perasa lainnya menikmati rasa nikmat lainnya
maka seperti impulse getaran gempa yang menjalar ke dalam jiwa
getaran rasa nikmat ini menjalar dari dada, menyebar ke seluruh tubuh
mengisi setiap sel dan mengisi setiap titik di seluruh bagian tubuh
maka terasa betapa nikmatnya rasa ini
terasa betapa nikmatnya rasa menerima Allah
terasa betapa nikmatnya rasa dekat dengan Allah
yang ada semakin dalam dalam rasa syukur
semakin kuat dalam menempuh realitas
berjuang dalam kehidupan dan menikmatinya
menikmati pekerjaan dan kebersamaan dengan keluarga
menikmati keakraban dengan sesama manusia
menikmati kedekatan dengan binatang
menikmati sentuhan dengan alam dan tumbuhan
menikmati nikmatnya menjadi manusia
dan sungguh tiada sia-sia menjadi manusia
yang menyadari keberadaan Sang Pencipta
Dan justru menjadi semakin manusiawi
menjadi seorang manusia biasa yang sangat biasa
menjadi seorang yang penuh ketidaktahuan
dan siap untuk mencari tahu
menjadi khawatir dan takut untuk sombong dan merasa tahu
menjadi tidak banyak berfikir dan hanya berbuat
dan justru menjadi semakin takut kepada Dzat Sang Pencipta
Semakin dipenuhi rasa “tiada daya”
Bersambung…
Wass Deka on Behalf of IB

Sedangkan semua daya adalah milikNya
Sedangkan semua ilmu adalah milikNya
Sedangkan semua kesadaran adalah milikNya
Apalagi yang harus dibanggakan?
Apalagi yang harus dipertentangkan
Apalagi yang harus diperdebatkan
Dialah yang meliputi gaib
Dan Dia pula yang meliputi yang nyata
Dia meliputi diri dan kesadaran
Dia meliputi darah dan nafas kita
Dia meliputi sadar dan tidur kita
Dia menguasai kita
Dia memiliki kita
Dia menggerakkan kita kemanapun
Apabila Dia inginkan, tanpa kita mampu melawan dan mencegahnya
Dia bisa membuat kita miskin atau kaya
Dia bisa membuat kita terkenal atau hancur dalam nista
Dia bisa saja membuat kita berkuasa
Siapakah yang mampu mencegah diriNya
Siapakah yang sanggup mengangkat langit?
Siapakah yang sanggup menghamparkan bumi?
Siapakah yang sanggup menggerakkan angina?
Siapakah yang sanggup menahan matahari dan bulan?
Siapakah yang sanggup menghidupkan tanaman
Siapakah yang sanggup menghidupkan binatang
Siapakah yang sanggup menggerakkan siang dan malam
Siapakah yang sanggup membentuk alam semesta
Seperti sekarang ini?
Hanya Dia. Dia menyebut dirinya Allah.
Dialah yang permulaan dan Dialah yang akhir.
Dialah yang menyatakan keperkasaan diriNya
Dialah yang Agung dan layak mengangungkan dirinya
Dialah yang suci dan Maha suci dan layak sebagai sang Maha suci
Bersambung…
Wass Deka on Behalf of IB

Maka dimana diri kita?
Layakkah bersombong?
Apakah yang sebenarnya kita miliki?
Apakah yang kita banggakan?
Layakkah kita berbangga atas diri
Dimanakah kebaikan kita?
Apakah yang sudah kita perbuat
Sudahkah kita mampu bersyukur
Atas penciptaan alam untuk kita?
Sudahkah kita bersyukur
Atas pemberian raga untuk merasakan
Sudahkah kita bersyukur
Atas segala warna dan rasa
Sudahkah kita bersyukur
Atas pemeliharaan Nya dari waktu ke waktu
Gerak nafas, jantung paru, otak dlll
Sudahkah kita bersyukur
Atas limpahan keselamatan dan perlindungan
Sudahkah kita bersyukur
Atau layakkah kita berbangga
Atas penyembahan yang kita lakukan
Atau layakkah kita merasa benar
Atas kedangkalan fikiran kita
Atau layakkah kita berdebat
Atas sesuatu yang sebenarnya kita tidak tahu?
Atau layakkah kita merasa tinggi?
Sedangkan kita hanyalah berasal dari setetes air mani
Layakkah kita berbangga diri
Ketika semua ‘alat pengeluaran kita” hanyalah “kotoran”
Bersambung…
Wass Deka on Behalf of IB

Layakkah kita merasa sadar
Sedangkan kesadaran itu selalu dicabut saat kita tidur
Dimanakah kepandaian kita saat kita tidur
Dimanakah harga diri kita saat kita tidur?
Dimanakah kesucian kita saat kita tidur?
Dimana keakuan kita saat kita tidak sadar
Maka, apakah kita masih merasa hebat
Maka masihkah kita merasa baik
Maka masihkah kita merasa tulus
Maka masihkah kita merasa lebih
Sedangkan semua itu hakekatnya adalah anugerah dan nikmatNya
Ketika energy yang ada di tubuh adalah energyNya
Ketika nafas yang mengalir adalah nafasNya
Ketika gerak jantung dan seluruh organ tubuh adalah dalam perawatanNya
Kita tidak melakukan apapun
Lalu kita menepuk dada
Merasa sudah lebih
Atau merasa sudah berbuat sesuatu untuk Tuhan
Sementara selalu melupakan apa yang sudah Tuhan perbuat untuk diri kita
Masihkah tidak sadar apa saja yang Tuhan lakukan
Masihkah harus bertanya-tanya
Apa saja yang telah Tuhan persiapkan
Masihkah terus menerus berfikir apa saja yang Tuhan rencanakan
Masihkah tidak melihat tumbuhnya kuku
Masihkah tidak memperhatikan tumbuhnya rambut
Siapakah yang menumbuhkan
Apabila Dia kehendaki, maka tidak akan tumbuh
Masihkah tidak diperhatikan, siapakah yang menggerakkan nafas
Kalau Dia kehendaki maka bisa ditahan dan disulitkan
Bersambung…
Wass Deka on Behalf of IB

Masihkan tidak terlihat
Semua yang tertera di alam semesta ini
Sinar matahari dan pergerakan awan
Lihat dan lihat sekali lagi
Apakah lebih sulit mengatur alam semesta ini atau mengatur kehidupan manusia
Lihat dan lihat sekali lagi
Alam semesta dan bersama bintang-bintang
Maka manakah yang lebih sulit mengatur gerak alam dan bintang-bintang ini
Ataukah sulit mengatur nasib manusia
Maka mengapakah manusia tidak mau berfikir
Maka mengapakah kita tidak mau menyadari
Mengapa tidak mau melihat energy yang menggerakkan alam ini
Maka tidakkah melihat “tangan-tangan” Gaib yang mengatur dan merencanakan
Sehingga sempurna dan teratur pergerakan alam ini
Lalu seberapa besarkah manusia dibanding alam dan isinya
Maka seberapa besar manusia di alam ini
Maka seberapa besar kekuasaan manusia di alam ini
Maka mengapakah sangat sedikit yang mau sadar
Maka mengapakah tidak mau sujud dalam syukur
Maka mengapakah tidak mau tertunduk menangis dalam penyerahan diri
Maka mengapakah masih ingin meninggikan diri di hadapan Tuhan
Maha suci nama TuhanMu
Maha suci Dia sekalipun seluruh umat manusia mengingkarinya
Maha agung Dia sekalipun seluruh umat manusia menentangnya
Seberapa besar dan banyak penyembahan kita tak akan menambah keagunganNya
Berapa banyakpun ibadah kita tak akan menambah kesucianNya
Bersambung…
Wass Deka on Behalf of IB

Semoga salam dan kesejahteraan berlimpah dari Tuhanmu
Selamat sejahtera bersama sinar matahari yang memancar
Bersama datangnya cahaya yang penuh warna warni
Bersama hembusan angin yang datang setiap saat
Bersama tumbuhnya benih menjadi pohon dan tanaman
Bersama curah hujan yang memberi kehidupan
Bersama manusia-manusia yang masih mau menyadari kekuasaan Tuhan
Maka hadapkan wajah dengan kesungguhan
Dengan penuh kepatuhan
Dengan penuh ketakwaan
Dia lebih mengerti apa yang ada di dalam dada setiap jiwa manusia
Dia yang lebih tahu desir hati bahkan sebelum tersirat
Dia yang mengetahui apa yang ada di balik dada
Dia yang Maha lembut
Apa yang Dia inginkan pasti akan menjadi kenyataan
Dialah Penguasa mutlak
Yang gaib dan nyata
Dia tahu setiap helai daun yang tumbuh di pohon bahkan yang paling tersembunyi
Dia mengetahui setiap jenis makhluk bahkan di dasar lautan sekalipun
Dia…Dia …Dia
Dialah satu-satunya yang ada di alam ini
Yang lain adalah milikNya
Terserah apapun yang Dia kehendaki.
Maka apapun yang dikehendakiNyalah yang akan terjadi
Walaupun hal itu tidak disukai oleh manusia
Semua ada di “tangan”Nya
Maka selayaknya kita berlindung
Selayaknya kita bermohon
Hanya kepadanya
Memohon kasih sayangNya
Dalam kasih sayang yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Melepaskan diri dari keakuan
Dan memakai sifat kasih sayangNya
Menyapa dan bersilaturahmi serta memberi salam
Bersambung…
Wass Deka on Behalf of IB

Akhirnya diri ini hanya menyerah
menikmati apa adanya
menerima Allah dalam kemampuan yang ada
bersyukur dalam setiap kejadian
memohon ampun atas ketiadaan daya
dan selalu memohon selalu dibimbing di jalan lurus
Sungguh ketika rasa takut dan kekahawatiran akan ketidakmampuan diri di hadapan Tuhan
maka lebih baik menjadi debu atau bintang ternak
bahkan mereka lebih baik dan bermanfaat dari diriku
binatang ternak penuh dengan kerelaan untuk kebaikan manusia, lalu diriku?…. hem masih teramat jauh
bandingkan dengan kesetiaan anjing kepada Tuannya, lalu diriku, tak ada harganya sedikitpun …hem masih teramat jauh
sungguh tiada cara lain selain hanya bermohon ampun atas ketakberdayaan ini
sungguh, hanya dengan istighfar dan menyerah, mohon ampun dan menyerah
inilah segala daya upaya yang terbaik dariku
walaupun tak ada nilainya dibanding apa yang nampak di alam semesta
yang seharusnya mampu dijadikan contodan suri tauladabagi kesadaranku
sebuah hal: Yang semuanya meliputi dalam sebuah doa
yang selalu kita ulang: Al fatihah
Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Yang menguasai di hari Pembalasan
Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan Hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.
Tunjukilah kami jalan yang lurus,
(yaitu) jalan orang-orang yang Telah Engkau beri nikmat kepada mereka;
bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
Bersambung…
Wass Deka on Behalf of IB

Bagaimana esok?. Entahlah saya tidak tahu
yang saya tahu hanyalah saat ini
dan saat inipun saat saya memiliki kesadaran saja
saat saya sadar maka saya nikmati detik-detik saat saya sadar
menikmati keberadaan kesadaran saya untuk menjadi saksiNya
menyaksikan alam semesta hasil kreasinya
menjadi saksi atas rencana-rencanaNya
menjadi saksi atas keberadaan kesadaran saya yang menyaksikan
menikmati perjalanan (journey) hidup dengan sewajarnya
dalam semua rasa yang ditiupkan di dada ini
menikmati setiap rasa dalam satu rasa yang sama
yaitu rasa “La ilaha illah Muhammad Rasulullah”.
Sebuah rasa yang akan meliputi semua rasa yang ada
sebuah rasa menerima Allah
yang akan selalu membawa nikmat
rasa nikmat yang menyebar ke seluruh jiwa
nikmat dalam langkah kaki
nikmat dalam hela nafas
nikmat dalam penglihatan
nikmat dalam pendengaran
nikmat dalam indera perasa
nikmat di dalam jiwa
nikmat di dalam hati sanubari
nikmat di dalam iman
nikmat di dalam Islam
nikmat di dalam penerimaan kepada Allah
Maka perjalanan hidup adalah menikmati
rasa “Menerima Allah” di dalam jiwa kita
Apakah kehidupan akan berhenti?
justru sebaliknya, perjalanan realitas justru baru dimulai
langkah kaki kokoh menapaki jalan realitas
yang baru akan melangkah dalam kegembiraan hidup
menunggu dan menjalani “takdir” yang tidak diketahui
sesuatu yang kita tidak tahu
dalam sebuah keyakinan yang utuh: Bersama Allah
Bersuka cita menyambut takdir
Saya cuplik lagi tulisan akhir dalam email ini:
“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman”. (Al An’am 125)
Sungguh terasa dada ini terasa begitu lapang, terasa seluas alam semesta ini.
semoga Allah selalu memberikan petunjuk dan semakin melapangkan dadaku.
Semoga tak ada terasa sempitnya dada yang sungguh menyiksa bagaikan dalam neraka,
seperti dihimpit bumi dan ditekan oleh langit, sempit dan menyakitkan.
Semoga ALlah ridho.
Salam hangat selalu,
Wass Deka on Behalf of IB
Selesai…











Tidak ada komentar:

Posting Komentar