Sudah umum persepsi yang melekat diotak sebagian besar kita bahwa
untuk beriman kepada Allah itu sungguh sangat sulit sekali. Begitu kita
ingin berbicara tentang iman kepada Allah, maka yang muncul kemudian
adalah berbagai teori, definisi, dan tata cara yang kadangkala membuat
kita kesulitan untuk menjalankannya. Sehingga didalam benak kita sering
muncul kata-kata tak terucapkan: “Oh…, betapa sulitnya iman itu. Ah…,
nggak mungkin rasanya saya untuk beriman seperti itu. Aa…, iman itu
rasanya seperti berada di puncak menara gading yang tak akan pernah
tersentuh oleh orang-orang biasa seperti saya…, dan berbagai keluhan
lainnya”.
Kalau dilihat dengan seksama, kadangkala antara berbagai teori,
definisi dan tata cara untuk mendapatkan iman itu satu dengan yang
lainnya susah untuk ditemukan benang merah yang saling menghubungkannya.
Padahal yang sedang dibicarakan dan dipelajari itu adalah hal yang sama
dan sangat sederhana sekali, yaitu tentang Iman Kepada Allah, misalnya.
Dan dasar pijakan berfikirnya juga selalu didengung-dengungkan dari dua
pokok yang sama, yaitu Al Qur’an dan Al Hadist.
Akan tetapi begitu ilmu
tentang Iman kepada Allah itu sampai kepada kita, yang kita dapatkan
adalah ilmu olah pikir, ilmu olah gatuk-gatuk, ilmu olah
katanya-katanya, ilmu olah hafalan… dan sebagainya, sehingga yang kita
dapatkan sungguh membuat sebagian besar kita menjadi bingung… ngung…,
ngung untuk memilih mana yang pas buat kita. Kita jadi saling rancu satu
sama lainnya untuk satu hal yang sama, yaitu IMAN kepada Allah…
Keadaan seperti ini persis sama dengan saat kita diminta untuk
memahami tentang batang sebuah pohon mangga, kita malah asyik masyuk
membahas tentang cabang, ranting, daun, bahkan kuncup dari pohon mangga
tersebut. Kita asyik membahas dan mengolah kata bahwa ada daun yang
hijau, ada daun yang kuning, ada daun yang mengering, dan berbagai
ada-ada lainnya. Akhirnya yang kita bahas, kita diskusikan, kita
seminarkan, dan yang kita pahami hanyalah sebatas ilmu olah kata tentang
daun. Sedangkan batang pohon mangga itu tetap menjadi sebuah misteri
yang tak terkuakkan bagi kita. Karena memang kita tidak pernah membuka,
menguliti, dan mengamati pohon mangga itu dari dekat. Kita tidak pernah
mengeksplorasi pohon mangga ini bagain perbagian.
Kalau dalam membahas pohon mangga itu hanya sebatas memakai ilmu olah
kata itu tadi, maka kita akan bertabrakan dengan ilmu olah-olah kata
yang dimiliki oleh orang lain. Sebab setiap orang bisa memandang sebuah
pohon mangga dari sisi yang berbeda sesuai dengan isi otak mereka pula.
Dan itu akan ramai sekali….
Sementara Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam sudah terlebih
dahulu ketemu dan masuk kedalam keadaan Iman kepada Allah itu, lalu
keluarlah ajakan Beliau: “wahai sahabatku, marilah masuk kedalam keadaan
iman kepada Allah. Iman itu enak…, iman itu bahagia, iman itu nikmat…!.
Wahai sahabatku, mari beriman kepada Allah…, singgahlah untuk beriman
kepada Allah… Singgahlah untuk masuk kerumahku, rumah iman yang penuh
dengan kesukacitaan”.
Demikianlah Beliau menyampaikan berbagai ajakan lainnya agar para
sahabat Beliau masuk kedalam keadaan demi keadaan yang diterangkan Allah
didalam Al Qur’an. Lalu masuklah semua sahabat Beliau kesana… DERR…,
DERR…, sehingga saat itu tidak banyak aktifitas seperti yang getol kita
lakukan saat ini, yaitu menafsirkan Al Qur’an dan mengupas Al Hadist.
Saat itu tidak ada tafsir…, tafsir…, dan tafsir terhadap Al Qur’an dan
Al Hadist. Tidak ada juga apa yang namanya kajian…, mengaji…, dan
mengaji. Tidak ada itu semua.
Yang ada adalah begitu Beliau mendapatkan wahyu dari Allah, Beliau
DUDUK dalam suasana wahyu itu, kemudian Beliau kabarkan wahyu beserta
keadaannya itu kepada para sahabat Beliau. Kabar dari Beliau itulah yang
kemudian dinamakan orang sebagai Al Hadist. Beliau-beliau hanya tinggal
melakukan…, melakukan…, dan melakukan apa yang diperintahkan Al Qur’an
sesuai dengan lingkungan yang ada saat itu. Jadi Al Hadist itu bukanlah
sekedar perkataan dan perbuatan Beliau saja. Tapi Al Hadist itu adalah
DUDUK Beliau dengan sangat sempurna pada sebuah KEADAAN yang diterangkan
oleh Al Qur’an. Beliau hanya Just do it…, dan hasilnya adalah sebuah
keniscayaan peradaban yang cemerlang ditengah-tengah kegelapan disaat
itu…
Bersambung
Deka
Kalau bagi kita saat ini sungguh sangat berbeda. Kita lebih banyak
memberi makan otak kita dengan berbagai bacaan dan kajian, tapi minus
keadaan atau suasananya. Kita tahu dan hafal banyak istilah agama, tapi
saat melaksanakan aturan agama itu dada kita garing. Semakin otak ini
kita isi dengan berbagai kajian dan tafsiran terhadap Al Qur’an dan Al
Hadist, maka semakin agama ini terasa berat. Kita kadangkala tidak tahu
lagi mana aturan agama ini yang harus kita jalankan terlebih dahulu dan
mana yang kemudian.
Misalnya saja, pengetahuan agama yang paling umum dan paling dasar
yang kita dapatkan adalah bahwa untuk bisa beriman kepada Allah dengan
mudah, terlebih dahulu kita haruslah berhati-hati dengan makanan,
minuman dan pakaian yang kita lekatkan ketubuh kita. Karena makanan dan
minuman serta pakaian itu akan mempengaruhi segumpal daging didalam
tubuh kita yang disebut sebagai HATI. Terutama, kalau makanan dan
minuman kita adalah barang yang baik dan halal, maka dikatakan hati kita
juga akan menjadi bersih dan mudah untuk beriman kepada Allah. Akan
tetapi kalau makan dan minuman kita dari barang yang haram dan yang
tidak baik, maka kita diminta untuk percaya bahwa hati kita pastilah
akan hitam, gelap, dan tidak mudah untuk beriman kepada Allah.
Sementara dinegara kita ini, hampir tidak ada wilayah atau area yang
benar-benar bersih dari hal-hal yang diharamkan seperti itu. Misalnya
semua uang yang beredar saat ini nyaris berasal dari bank convensional,
baik dari dalam maupun luar negeri, yang konon katanya itu adalah
peredaran uang yang tidak syar’i. Dan kita membeli makanan, minuman dari
hasil peredaran uang yang dianggap sebagai non syar’i itu. Akhirnya
kita menjadi ragu-ragu kembali dengan kualitas keimanan kita kepada
Allah.
Dari hal makanan, minuman, dan hati ini kemudian lahirlah berbagai
ilmu tentang tata-cara agar kita bisa menyucikan harta benda dan hati
kita. Ada fatwa ini dan fatwa itu dari otoritas ulama tentang bagaimana
ekonomi ala islami dan bagaimana ekonomi ala kafirin. Ditambah dengan
ancaman neraka dan iming-iming syurga, akhirnya kita lebih sibuk
mengingat, membicarakan, dan berpolemik dengan istilah-istilah yang
dibumbui dengan kata syariah versus non syariah. Kita dipaksa untuk
saling bercerita dan berdebat tentang ekonomi syariah versus ekonomi
konvensional. Gegap gempita sekali…
Disisi lain, agar kita bisa membersihkan hati kita, maka tubuh dan
hati tersebut kemudian dibelah-belah orang pula menjadi bagian-bagian
kecil dengan nama-nama yang keren, yaitu lathaif. Kemudian
lathaif-lathaif itu harus pula kita sucikan dengan dzikir-dzikir
tertentu (lihat buku Membuka Ruang Spiritual, by Deka). Maka sibuk
pulalah kita bersih-bersih hati itu, sehingga kadangkala iman kepada
Allah yang kita harapkan malah tidak muncul. Kita jadi sibuk sendiri
dengan segala dzikir dan wasilah yang kita lakukan disetiap saat itu.
Untuk melakukan sebuah perbuatan atau aktifitas apapun juga, terutama
yang berkaitan dengan agama, pertanyaan standar yang ditanamkan kedalam
otak kita oleh para ulama adalah: Ada contohnya nggak dari Nabi?. Ada
hadistnya nggak?. Hadistnya shahih nggak?. Dan setelah itu pastilah
muncul argumen-argumen yang kadangkala dari dulu, dari zaman ke zaman,
rasanya hanya itu ke itu saja.
Baru dari topik sederhana tentang bagaimana agar kita bisa beriman
kepada Allah, ternyata telah muncul dengan menggurita topik-topik lain
yang sepertinya tidak habis-habisnya untuk kita perbincangkan. Pantas
saja akhirnya kita jadi bingung sendiri. Boro-boro iman kita kepada
Allah bisa meningkat, malah sebaliknya kita terjerembab kepada ketidak
harmonisan hubungan antar sesama muslim, maupun sesama manusia.
Bersambung
Deka
Dengan bekal ilmu “bingung dan merasa tidak bisa” seperti itulah yang
menyebabkan munculnya dengan subur orang-orang atau kelompok-kelompok,
yang kita anggap bisa membuat kita beriman kepada Allah. Tanpa
orang-orang atau kelompok-kelompok tersebut, kita pikir, kita tidak akan
mungkin atau tidak akan pernah bisa beriman kepada Allah. Makanya
dengan semangat 45 kitapun mengikuti pengajian demi pengajian, pelatihan
demi pelatihan, dzikir khusus demi dzikir khusus yang dibimbing oleh
orang-orang atau kelompok-kelompok tertentu tersebut.
Apalagi pada pelatihan pertama bonusnya ada, yaitu ada perubahan yang
sangat berarti yang kita dapatkan setelah kita mengikuti cara-cara
tertentu dari mereka itu. Misalnya bagi seseorang yang sakit bisa merasa
sembuh seketika setelah dia dido’akan atau meminum air yang telah
dido’akan oleh seseorang. Dengan itu kita seakan-akan bisa merasakan
sebuah metamorphosis spiritual karena ada bantuan dan peran dari mereka
yang kita anggap bisa membantu kita.
Akan tetapi kesalahan umum yang kita lakukan kemudian adalah bahwa
untuk besok-besoknya, saat kita sendirian dirumah, kita tidak bisa lagi
mengulangi capaian kita seperti saat kita dido’akan atau dibantu oleh
orang lain sebelumnya. Ada sebuah ketidakpercayaan kita terhadap diri
kita sendiri. Bahwa tanpa peran orang tersebut kita tidak akan pernah
bisa mengulangi keberhasilan kita tempo hari.
Akhirnya, seiring dengan berjalannya waktu, dengan sangat cepat
orang-orang atau kelompok-kelompok tertentu tersebut sudah berada
dipuncak menara gading sebuah kepercayaan. Tiba-tiba saja penghormatan
dan pengkultusan kita terhadap mereka jadi begitu tingginya, sehingga
fungsi merekapun kemudian berubah menjadi fungsi AVATAR atau PERANTARA.
Mereka kita anggap sebagai seorang “MAHA GURU”, MURSYID. Seorang yang
punya peran yang sangat besar atas keberhasilan perkembangan rohani kita
untuk masa-masa mendatang. Seakan-akan ada mereka diantara kita dengan
Allah. Tanpa peran serta mereka, seakan-akan Allah akan sangat sulit
kita jangkau.
Tanda-tanda utama bahwa kita telah mengkultuskan seseorang menjadi
mursyid atau avatar kita adalah saat kita punya masalah, seketika itu
juga kita cenderung untuk minta tolong, atau minta didoakan kembali oleh
Sang Guru tersebut agar masalah kita itu segera lenyap dari hadapan
kita. Kita tidak percaya diri untuk langsung menghadap dan berdo’a
kepada Allah. Kita lalu datang kehadapan Sang Guru dalam keadaan rohani
yang sempit dan mengecil. Seakan-akan keadaan rohani jauh berada dibawah
rohani Sang Guru. Sehingga apapun kata Sang Guru akan kita lakukan
dengan membabi buta. Secara psikologis, keadaan rohani yang seperti ini
akan sangat mudah untuk dipengaruhi. Persis seperti orang yang siap
untuk dihipnotis.
Tambahan pula, karena hasilnya juga ada, dimana keadaan kita berubah,
kita menjadi sedikit lebih tenang, masalah kita seakan-akan sudah
teratasi, dan sebagainya, maka kepercayaan kita akan menjadi semakin
kuat bahwa hanya dan hanya atas adanya peran Sang Guru yang sangat
besarlah yang menyebabkan kita baru bisa beriman kepada Allah. Dan
kepercayaan seperti itu terjadi disetiap saat, disetiap waktu. Tanpa
kita mengingat dan mengikatkan kesadaran kita kepada Sang Guru sebelum
kita melakukan aktifitas agama, rasa-rasanya kita tidak akan pernah
percaya diri untuk bisa beriman kepada Allah…
Bersambung
Deka
Padahal sebenarnya, kalaupun ada Sang Guru itu, peran beliau tidak
lebih hanyalah sekedar sebagai penunjuk arah kesadaran yang PAS saja
bagi kita pada SAAT AWAL perjalanan kita agar kita bisa keluar dari
wilayah ketidaksadaran yang telah kita tempati sekian lamanya. Beliau
hanyalah menunjukkan agar kita bisa duduk “di rumah” kita sendiri dengan
sadar, sekali lagi dengan sadar…
Dulu, saat saya punya masalah, saya juga pernah datang kepada pak
Haji Slamet Utomo dan utdz Abu Sangkan untuk minta dido’akan agar
masalah saya teratasi. Sambil tersenyum arif Beliau berkata: “Allahmu
manaaa..?. Suatu saat saya gelisah dan khawatir tentang sesuatu hal,
lalu saya datang kepada Beliau untuk minta dido’akan, Beliau kembali
hanya berkata lembut dan mengena sekali: “ada masalah apa engkau dengan
Allah?, sehingga Allah tidak berkenan kepadamu..”. Sungguh dua kalimat
inilah yang paling dalam menancap kedalam pikiran dan perasaan saya
sampai saat ini. Kalimat tauhid banget…
Dalam pertemuan demi pertemuan saya selanjutnya dengan orang tua saya
yang sangat saya hormati Pak Haji Slamet Utomo dan Utdz Abu Sangkan
seringkali Beliau hanya mengajak saya untuk duduk didalam benteng Allah
“laa ilaha illalhah…, DERR…, DERR…, DERR!”, lalu beliau berpesan kepada
saya:
“Nah duduklah kamu disini…, didalam benteng Allah, dirumahmu…,
diamlah dengan sabar (patien) seperti sabarnya seorang pasien dirumah
sakit menunggu dokter yang akan memeriksa dan mendiagnosa penyakitnya….
Kamu harus begitu pula. Sabar…, patien. Duduklah dengan santun,
merendah, dan DIAM. Karena saat itu kamu memang sedang berduaan dengan
Allah. Saat itu kamu sedang menunggu-nunggu suatu petunjuk atau
pengajaran dari-Nya. Lalu kemudian, saat pengajaran Allah itu “TURUN”,
DERR…, DERR…, lalu kamu bacalah…, iqraa lah…, apa-apa yang diajarkan
Allah kepadamu itu, sampai kamu paham. Sampai paham…
Ulang-ulang lah kamu duduk dirumahmu sendiri. Sebab kalau tidak
diulang-ulang, nanti kamu akan lupa dan bingung untuk masuk kembali
kerumahmu sendiri. Kamu jangan lupa lagi rumahmu ini…
Aku juga punya rumah sendiri. Aku juga akan duduk dirumahku sendiri.
Syukur-syukur kamu bisa mampir dan singgah kerumahku, sehingga kamu bisa
menjadi temanku, teman seperjalananku”.
Sederhana sekali yang Beliau ajarkan. Beliau sampaikan dulu ilmunya
melalui sebuah wejangan singkat dan tidak rumit, tentu saja ada dasarnya
didalam Al Qur’an dan Al Hadist. Lalu Beliau “mengajak” saya berlatih
memasuki suasana atau keadaan dari ilmu tersebut… DERR. Kemudian saya
duduk bersama Beliau beberapa saat, bisa 10 menit atau bisa pula 1 jam
atau lebih, diwilayah realitas ilmu tersebut. Jadi ada ilmunya dan ada
pula realitasnya. Ilmu itu ternyata mewakili sebuah realitas. Saya jadi
yakin bahwa Al Qur’an itu adalah dari Allah, dan Muhammad SAW adalah
memang Rasulullah.
Alhasil saya bisa pulang kerumah dengan lengkap dan utuh, walau
kadang-kadang saya ada TELMInya juga. Sebab adakalanya ilmu dan
wejangannya sudah saya dapat, tapi realitas keadaan dan suasananya baru
saya pahami beberapa jam kemudian, atau beberapa hari kemudian, atau
bisa pula beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun kemudian. Tapi
kegagalan itu tidak menjadi masalah bagi saya, karena memang bukan
Beliau kok yang berhak untuk mengajari saya. Hanya Allah lah yang berhak
mengajari dan menuntun saya untuk memahami apa-apa yang tidak saya
ketahui.
Dengan Beliau, Al Qur’an Al Hadist itu tidak ditafsirkan atau tidak
dibahas panjang lebar. Ilmu itu tidak dibahas menurut tafsiran imam ini,
imam itu, ulama ini ulama itu. Tidak dibahas sanadnya, tidak dibahas
fiqihnya, tidak mutar-mutar nggak karuan dalam permainan kata dan
kalimat. Sebab Al Qur’an itu memang hanya memuat hal-hal yang sederhana
saja. Al Qur’an adalah BENIH ILMU. Bahwa apapun ayatnya, kita akan
selalu dibawa untuk MEYAKINI atau MENGIMANI ALLAH. Kalau tidak beriman
kita akan hidup sengsara didalam alam kepedihan, atau sebaliknya kalau
beriman kita akan hidup didalam alam kesukacitaan dan berkelimpahan.
Selanjutnya kita tinggal melaksanakan saja satu AMAL ke AMAL
berikutnya sebagai tanda bahwa kita memang sudah beriman kepada Allah.
Untuk mengetahui amal apa yang baik dan benar, ya… kita lihat saja amal
seperti apa yang pernah dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabat
Beliau dulu. Kita lihat beberapa Al Hadist saja dulu. Kita nggak perlu
harus hafal ribuan hadist dulu untuk beramal itu. Sebab MUATAN Al Hadist
itu juga sangat sederhana sekali kok. Al hadist itu memberi tahu kita
bagaimana amal atau perbuatan Rasulullah untuk memupuk keimanan Beliau
kepada Allah; bagaimana Beliau berbuat baik kepada sesama manusia
sehingga orang-orang percaya bahwa Beliau memang adalah Rasulullah;
bagaimana Beliau memperlakukan alam dengan santun; dan bagaimana
cara-cara Beliau menyelesaikan berbagai problematika hidup dizaman
Beliau dulu. Al Hadist itu sungguh hanya memuat hal-hal yang manusiawi
sekali. Nah…, kita tingal lakukan saja hal-hal yang manusiawi itu SATU
PERSATU sesuai dengan KEMAMPUAN kita dan ZAMAN kita sekarang.
Kalau kebanyakan kita kan nggak begitu, walau kita seringkali membaca
Al Qur’an namun kita tidak sampai TERBAWA masuk ke wilayah IMAN dan
YAKIN kepada ALLAH. Kita juga seringkali membahas Al Hadist sampai
berjam-jam, namun kita nyaris tidak melakukan apa-apa untuk memperkaya
peradaban dizaman kita. Kita ada dan hidup dizaman sekarang, namun kita
seperti tiada. Kita seperti entah sedang berada dimana…
Demikianlah…, berbilang hari dan tahun berlalu. Satu persatu KEADAAN
demi KEADAAN, SUASANA demi SUASANA yang mewakili AYAT PERAYAT didalam Al
QUR’AN, seperti menyata. Misalnya, untuk sepotong ayat Al Qur’an
tentang kata IMAN kepada ALLAH saja, yang dulunya saya sangka akan
sangat begitu sulit untuk saya dapatkan dan pahami maknanya, ternyata
memahami dan memaknai kata IMAN itu sama mudahnya dengan memahami dan
memaknai kata KAFIR atau TIDAK IMAN.
Ya…, ternyata untuk BERIMAN dan TIDAK BERIMAN (KAFIR) kepada Allah
itu sama mudahnya. Karena masing-masing kata itu punya KEADAANNYA
sendiri-sendiri. IMAN punya KEADAANNYA sendiri dan KAFIR juga punya
KEADAANNYA sendiri. Jadi untuk beriman atau tidak itu hanya dan hanya
ada dua keadaan saja, yaitu KEADAAN IMAN dan KEADAAN KAFIR. Namun dua
keadaan itu tidak akan pernah bisa bersatu sepanjang masa. Kitapun
ternyata tidak bisa pula hidup dikedua keadaan itu sekaligus. Kita hanya
bisa hidup dalam suasana kafir saja atau dalam suasana beriman saja
pada waktu tertentu. Hanya satu saja pilihan kita dari dua keadaan itu
pada suatu saat tertentu. Keadaan Beriman saja ATAU Keadaan Kafir saja.
Atau kalau didalam otak kita kata “kafir” itu sangat menakutkan dan
sadis amat, kata itu bisa kita ganti dengan kata “tidak beriman”, atau
“ragu-ragu”, atau “was-was”. Walaupun kata-kata itu berbeda, tapi
keadaannya tetap SAMA, yaitu TIDAK YAKIN. Jadi tidak ada itu yang
namanya separo iman dan separonya lagi was-was atau ragu-ragu. Kita
tinggal nyemplung saja kedalam suasana IMAN atau masuk kedalam keadaan
KAFIR (atau TIDAK YAKIN).
DERR…, tiba-tiba saja kita sudah nyemplung berada dalam keadaan IMAN
kepada Allah yang sangat pekat dan penuh dengan rasa SUKACITA dan
BERKELIMPHAN. Atau DESS…, tiba-tiba saja sudah tercebur kedalam keadaan
KAFIR, TIDAK IMAN, RAGU-RAGU, WAS-WAS kepada Allah yang akibatnya adalah
hidup dan kehidupan kita akan dipenuhi oleh rasa KEPEDIHAN dan
KESEMPITAN.
Bersambung
Deka
Keadaan Iman itu dari dulu ya begitu itu. Keadaan iman yang bisa
ditangkap dan dimengerti oleh Rasul-Rasul Allah, para sahabat Nabi dulu,
serta wali-wali Allah disetiap zaman, akan persis sama dengan keadaan
iman yang bisa kita tangkap saat ini. Keadaan Kafir juga begitu. Keadaan
kafir yang bisa ditangkap dan dimengerti dengan tepat dan pas oleh
Fir’aun, sama persis dengan yang bisa ditangkap dan dimengerti dengan
akurat oleh Namrud, Abu Lahab, Abu Jahal, dan bahkan juga oleh kita-kita
yang hidup saat ini. Tidak ada perbedaan sedikitpun.
Dan ternyata keadaan iman yang sebenarnya seperti yang dialami oleh
Rasulullah ini tidak bisa dipaksa-paksakan. Kita hanya dan hanya bisa
menerima KEADAAN IMAN itu DITURUNKAN oleh Allah sendiri kedalam dada
kita. Keadaan Iman itu hanya bisa kita baca dengan DADA (SUDUR) kita.
Karena memang alat penerimanya bukanlah panca indra kita yang bermuara
pada olah otak kita semata. Alat penerima keadaan iman itu adalah berupa
DADA yang lembut, lunak dan hidup. Bukan dada yang keras membatu, mati
dan gelap.
Boleh jadi secara lahiriah kita bisa memaksa-maksa orang untuk
beriman kepada Allah, dan dengan paksaan itu orang tersebut bisa pula
melakukan setiap amalan yang diperintahkan oleh Allah dengan semangat
yang tinggi. Akan tetapi kebenaran keadaan iman kita yang seperti ini
dibantah sendiri oleh Allah didalam Al Qur’an dengan menyamakan keadaan
iman orang tersebut sama dengan keadaan iman seorang badwi dizaman
Rasulullah dulu. Bahwa kita sebenarnya belum beriman, tapi baru hanya
sekedar patuh saja. Karena keadaan iman itu hanya bisa menyentuh hati
kita.
Namun begitu, saat dada kita diberi cahaya oleh Allah, maka dada kita
yang tadinya keras membatu dan gelap gulita akan berubah seketika, ya
seketika…!. Dada kita berubah menjadi dada yang lembut, lunak, dan
hidup. Dada orang beriman. Dada yang dilunakkan, dilembutkan,
dihidupkan, dan disucikan sendiri oleh Allah dengan cara Dia menyinari
dada kita dengan sinar-Nya.
Kenapa harus ada aktifitas Allah untuk mengubah keadaan dada kita
ini?. Karena memang ada seribu satu cara-cara artificial (buatan)
lainnya yang SEAKAN-AKAN dapat melunakkan, melembutkan, dan menghidupkan
dada kita ini. Misalnya kita seakan-akan merasa dada kita menjadi
lembut dengan cara mendengarkan irama musik yang lembut dan
mendayu-dayu, atau dengan mendengarkan gelombang suara dengan frekuensi
tertentu, atau bisa juga dengan mengingat-ingat penderitaan orang lain,
atau dengan cara memaksa-maksakan diri untuk menangis dan meratap. Jadi
proses melunaknya hati kita itu tidak lebih dari hasil aktifitas olah
pikir dan olah emosi kita saja. Bahkan bentuk dzikir-dzikir tertentu
yang sering dilantunkan oleh umat islam, juga lebih mengarah kepada
bentuk artificial seperti ini.
Dengan cara-cara artificial ini, untuk sejenak memang terasa dada
kita seperti berubah menjadi lebih lembut dari biasanya. Kita bisa lebih
mudah untuk menangis, kita lebih mudah tersentuh, kita lebih mudah
terharu dari biasanya. Kitapun merasa lebih mudah untuk berbuat baik
kepada orang lain. Kita seperti punya rasa sosial yang tinggi untuk
membantu sesama. Semangat kita untuk bekerjapun jadi begitu membara. Ini
sudah bagus sebenarnya. Namun sayang, keadaan itu hanya bisa bertahan
untuk sementara waktu saja. Tidak berapa lama kemudian, suasana dada
yang lembut tadi berubah kembali menjadi keras. Tanpa kita melakukan
kembali proses olah pikir dan olah emosi seperti diatas, kita merasa
tidak akan bisa mendapatkan kembali suasana hati kita yang lembut
seperti tadinya.
Jadilah kita menjadi orang yang terikat kuat dengan semua alat bantu
olah pikir dan olah emosi itu tadi dalam mengolah keadaan dada kita.
Tanpa alat itu rasanya kita tidak akan bisa membuat suasana dada kita
menjadi lembut, lunak dan hidup. Ini kan bentuk perantara atau avatar
juga namanya. Cuma saja avatarnya adalah benda-benda dan suara-suara.
Celakanya lagi, otak kita ini tidak pernah bisa menerima keadaan yang
sama untuk kedua kalinya. Otak kita diciptakan Allah untuk bereaksi
lebih sedikit dan lebih sedikit lagi saat kita melakukan hal sama secara
berulangkali. Suasana pertama yang kita rasakan adalah munculnya Rasa
BOSAN kita terhadap keadaan yang kita alami atau lakukan itu. Kita
seperti merasa iman kita menjadi TURUN. Rasanya menjadi GARING.
Tanda-tandanya sederhana saja, yaitu kita menjadi malas beribadah dengan
khusyu kepada Allah. Walaupun ibadah itu masih kita lakukan, namun
tidak ada KESUKACITAAN didalamnya. Kita beraktifitas ditengah-tengah
KEPEDIHAN yang mendalam tanpa kita mampu untuk menyadarinya.
Kadang-kadang untuk menaikan rasa iman kita kembali, kita membutuhkan
usaha yang lebih keras dari biasanya. Atau bisa pula rasa iman kita itu
baru bisa bertambah kembali saat Allah menimpakan sebuah beban yang
berat dipundak kita. Artinya saat itu kita dipaksa beriman oleh Allah
dengan cara yang menyakitkan sekali. Setelah itu barulah kita merasa
beriman kembali kepada Allah untuk kemudian melemah lagi. Kita merasa
iman kita turun-naik begitu cepatnya. Iman kita seperti selalu
berubah-ubah setiap saat. Tergantung mood kita katanya.
Sayangnya kita salah persepsi memaknai hadist Rasulullah yang
menyatakan bahwa iman kita ini bisa bertambah dan berkurang. Hadist itu
begitu seringnya diberitahu oleh para da’i dan khatib kepada kita
sehingga kitapun masih bisa tersenyum sumringah saat mana dada kita
begitu garingnya ketika kita melakukan aktifitas keseharian kita. Dalam
beraktifitas, kita seperti berenang didalam lautan yang isinya hanyalah
KEPEDIHAN belaka, dan anehnya kita masih bisa tersenyum menjalaninya.
Kita dengan bangga mengatakan bahwa iman kita saat itu sedang TURUN.
Kita menyangka bahwa keadaan kita yang seperti itu dibenarkan oleh
Rasulullah. Iman kita sedang turun. Dan kita tetap berlaku biasa-biasa
saja.
Bersambung
Deka
Alhamdulillah, sekarang saya dipahamkan Allah bahwa keadaan bertambah
dan berkurangnya iman kita seperti yang dikatakan oleh Rasulullah itu
hanya berlaku bagi orang yang mendapatkan rasa iman itu melalui
cara-cara yang artificial seperti diatas. Cara-cara olah otak dan olah
emosi belaka. Karena, seperti yang telah diterangkan diatas, otak kita
ini memang punya karakter mudah BOSAN. Kalau tidak ada keadaan dan
suasana baru yang masuk kedalam otak kita, maka otak kita akan TIDAK
bereaksi lagi. Kita akan merasa bosan dengan aktifitas keberagamaan
kita. Kita seakan-akan merasa iman kita berkurang. Sebenarnya yang
terjadi adalah, karena otak kita tidak lagi mendapatkan suplai suasana
dan keadaan baru, maka emosi kita juga tidak mendapatkan makanan
barunya. Emosi kita, semangat kita dalam beragama, juga menjadi lemah,
sehingga kita merasa iman kita sedang turun.
Padahal yang turun itu adalah emosi kita saja. Sedangkan iman yang
sebenarnya belum kita dapatkan. Yang kita dapatkan barulah pengetahuan
tentang iman. Dan pengetahuan iman kita itu akan ikut pergerakan turun
naiknya suasana emosi kita. Saat emosi kita naik akibat sebuah stimulan,
atau dipaksa, atau ditakut-takuti, kita juga merasa seakan-akan iman
kita bisa ikut naik. Sebaliknya saat emosi kita turun, karena
stimulannya sudah tidak kuat, atau kita sudah tidak mempan lagi untuk
dipaksa-paksa dan ditakut-takuti, maka kita merasa iman kita ikut pula
turun. Sesuai sekali dengan hadist Nabi yang mengabarkan suasana iman
yang bisa turun naik itu. Iman yang artificial.
Karena iman ang sebenarnya baru bisa kita dapatkan dengan cara-cara
yang bukan melalui olah otak dan bukan pula olah emosi. Tapi melalui
cara dimana Allah sendiri yang menurunkan iman itu kedalam dada kita.
DERR… Utuh iman itu kita dapatkan…
Saat kita mendapatkan rasa iman kepada Allah itu dengan cara Allah
sendiri yang menaroknya kedalam dada kita, maka hasilnya sungguh sangat
berbeda. Setiap kita membaca nama Allah dan ayat-ayat Allah yang sedang
menyata dihadapan kita, maka iman kita kepada Allah PASTILAH akan selalu
bertambah dan bertambah (lihat Al Anfaal ayat 2 diatas). Saat kita
ditimpa oleh musibah ataupun nikmat apapun juga, rasa iman kita itu
tetap kental dan kuat. Malah saat ditimpa musibah ataupun nikmat itulah
kita punya fasilitas untuk segera berlari kepada Allah, menyungkur
dihadapan Allah. Keadaan yang merupakan realitas dari kalimat “Inna
lillahi wa inna ilaihi raji’un”. Saat itu kita tinggal datang dan
berlari kehadapan Allah untuk kemudian Allah menambah rasa iman kita
kepada-Nya.
Ketika iman kita tidak bertambah dan bertambah, mbok ya… kita sadari
sendirilah posisi kita. Bahwa saat itu kita sebenarnya tengah TIDAK
beriman kepada Allah. Bukan malah dengan tenang mengambil kesimpulan
sendiri bahwa saat itu iman kita sedang turun. Bukan…!. Tidak beriman
kok ngaku-ngaku imannya sedang turun. Keterlaluan sekali memang kita ini
dalam memaafkan ketidakberimanan kita.
Tatkala Allah sendiri yang melunakkan, melembutkan, dan menghidupkan
dada kita, maka kita seperti ditarok oleh Allah kedalam sebuah keadaan
atau suasana yang disebut sebagai KEADAAN BERIMAN kepada Allah. Rasa
nikmat beriman kepada Allah. Dan keadaan itu akan bertahan dalam waktu
yang lama. Malah setiap aktifitas kita berikutnya, seperti shalat,
puasa, sedekah, dan sebagainya, akan menambah pekat keadaan iman kita
itu. Iman kita kepada Allah akan bertambah dan bertambah setiap waktu.
Jika tidak bertambah, artinya saat beraktifitas kita mulai rada-rada
merasa GARING, tidak ada rasanya, hambar, maka dengan segera kita duduk
bersimpuh dihadapan Allah untuk minta ampun: “Ya Allah…, salah hamba apa
ya Allah. Ya Allah…, kenapa hamba tidak direspon ya Allah. Mohonlah
hamba kembali disapa ya Allah, nggak nyaman ni ya Allah…!. Karena pada
hakekatnya saat itu kita tengah tidak beriman kepada Allah, sehingga
Allah mencabut rasa nikmatnya iman dari dalam dada kita. Bukan cengar
cengir seperti keledai seperti yang sering kita lakukan selama ini.
Sebagai seorang yang beriman, tatkala dada kita garing, sebagai
pertanda awal lunturnya iman kita kepada Allah, kita akan shalat dua
raka’at, kita akan beristigfar, lalu kita kemudian duduk dengan diam,
merendah, sampai Allah kembali merespon dan menyapa kita. Duduk diam
berapa lama?. Ya tergantung Allah saja. Kita bisa duduk diam dan
merendah terus kepada Allah itu hanya dalam hitungan menit, atau bisa
pula dalam hitungan jam-jaman. Bahkan bisa pula kita dipaksa untuk
mengusung sikap itu seharian bahkan bisa bulanan atau tahunan. Kita bisa
berjalan dalam keseharian kita dengan ungkapan penuh penyesalan dan
permintaan ampun.
Suasana penantian ini digambarkan oleh ayat Allah berikut ini:
“rabbana zalamna anfusana wa illam taghfirlana watarhana lanakunanna
minal khaasirin…! Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami
sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada
kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”, (Al
A’raaf 23). Yang kita tunggu adalah jawaban Allah yang menghujam kuat
kedalam DADA kita: “Ya sudah…!, bangunlah wahai hamba-Ku…!”. DERR…,
sungguh sukacita sekali keadaan kita saat itu….
Jika kita sudah mendapatkan iman itu melalui proses DERR…, setelah
itu, dengan sangat mencengangkan, apa-apa yang dulu kita rasakan sulit
ketika kita ingin menjalankan aktifitas beragama, berubah menjadi mudah.
Kita juga jadi semakin kuat terikat dengan Allah. Antara kita dengan
Allah seperti ada KABEL (HAB, HUB) yang terhubung dengan kuat. Ada rasa
sambung yang hebat di dalam dada kita dengan Allah. Bicara kita apa-apa
tentang Allah…, sedikit sedikit tentang Allah…, sebentar-sebentar
tentang Allah, bukan tentang guru kita, bukan tentang syeikh kita, bukan
tentang aliran kita, bukan tentang kelompok kita. Keyakinan kita akan
Kerasulan Nabi Muhammad juga akan iktu menguat. Al Qur’an menyebutkan
keadaan kita seperti ini sebagai keadaan orang yang bergantung kuat
dengan Allah. Keadaan dimana ada KABEL atau TALI ALLAH yang ditancapkan
oleh Allah kedalam dada kita. Wa’tashimu billah…, wa’tashimu
biHABlillah… berpegang teguhlah kepada kabel dari Allah…
Demikianlah…, sederhana sekali sebenarnya al Qur’an itu. Dan yang
terpenting sebenarnya adalah Setelah iman itu apa?. Kan ini sebenarnya
yang lebih punya makna….
Bersambung
Deka
Sekedar Cerita Lama…
Masih segar dalam ingatan saya ditahun delapan puluhan, saat pertama
kali saya memiliki buku-buku tasawuf, seperti Ar-Risalatul Qusyairiyah,
dan Al Hikam, saya bersemangat sekali untuk mencoba mempraktekkan satu
persatu tahapan-tahapan (maqam) para penempuh jalan sufi yang ada
dibuku-buku tersebut. Misalnya didalam kitab Ar Risalatul Qusyairiah
saja, sedikitnya ada 49 tahapan yang harus dijalankan oleh seorang
penempuh jalan spiritual. Ada tahapan Taubat, Mujahadah, Khalwat, Taqwa,
Wara’, Zuhud, Diam, Khauf, Raja’…, Ma’rifat, Cinta, Rindu, Menjaga hati
Syech, dan Sima’. Belum lagi berbagai terminologi tasawuf yang
sangat-sangat tidak mudah untuk dimengerti dengan olah pikir saya saat
itu, seperti Waktu, Maqam, Qabdh dan Basth…, Warid…, Sirr. Satu kata
saja didalam Al Hikam, yaitu “istirahatkanlah dirimu/pikiranmu daripada
kerisauan mengatur kebutuhan dunia…, tidak pernah bisa saya lakukan
walau sudah dibantu pula dengan meditasi-meditasi ala sebuah perguruan
silat ternama di tanah air.
Baru ditahapan pertama saja, yaitu masalah TAUBAT, saya malah
dihinggap rasa stress yang amat sangat ketika saya mencoba
mengingat-ngingat dosa-dosa yang telah saya lakukan dimasa lalu. Apalagi
kemudian saya juga membaca sebuah buku khusus setebal 272 halaman, yang
membahas hanya masalah Taubat itu. Setelah itu ditambah lagi dengan
berbagai bacaan dari Buku Madarijus Salikin, Minhajul Qashidin,
Kimyatus-Saadah, dan puncaknya adalah buku “Sinar Keemasan” yang saya
praktekkan dalam sebuah tarekat. Bahkan tidak ketinggalan pula untuk
sekian tahun lamanya, saya terjun kedalam berbagai pengajian, diskusi,
liqa, dan aktifitas lainnya.
Rasanya lengkap sudah jalan panjang yang saya lewati. Semua itu hanya
untuk menemukan makna hakiki dari sepenggal kata yang sangat sederhana,
yaitu IMAN. Namun hasilnya…?. Ampuuuun…mak, kepala saya rasanya mau
pecah. Iman itu apaan sih…?
Ya…, sebenarnya keinginan saya sederhana saja. Saya hanya ingin untuk
beriman kepada Allah. Namun dengan semua aktifitas menelusuri jejak
iman itu melalui buku-buku yang ada, dan bahkan dengan langsung
menceburkan diri ke sebuah tarekat, malah KEADAAN IMAN itu gagal saya
raih. Semua ILMU dan AKTIFITAS itu tadi malah seperti MENGHIJAB saya
dari KEADAAN atau SUASANA IMAN yang sesungguhnya.
Tanda-tanda kegagalan iman saya itu mudah sekali untuk dibuktikan.
Yaitu betapa lancarnya saya protes kepada Allah atas kejadian dan
peristiwa yang menurut saya itu tidak menguntungkan saya. Hampir setiap
hari saya mengucapkan kata-kata (walau hanya sekedar didalam otak saya):
“Kok begini ya Allah, mbok ya jangan begitu?”.
“Ya Allah…, saya nggak kuat kalau begini, yang lebih baik sajalah buat saya..!”.
“Ya Allah saya ingin yang itu…, bukan yang ini…?”.
Dan dengan manis saya bungkus kalimat-kalimat protes saya kepada
Allah itu dalam bentuk do’a-do’a baik dalam bahasa Arab maupun dalam
bahasa Indonesia. Saya berdo’a dengan lancar, tekun dan panjang, tapi
hakekatnya pada saat itu saya sedang protes berat kepada Allah atas
apa-apa yang saya alami. Saya sedang protes atas QADA dan QADAR Allah,
atas AF’AL Allah yang sampai kepada saya. Namun pada saat yang sama saya
masih berani-beraninya berkata bahwa saya telah beriman kepada Allah.
Ah…, betapa bohongnya saya kepada Allah waktu itu.
Bersambung
Deka
Malaikat juga pernah berbohong seperti ini, saat dia berkata kepada
Allah: Ataj ‘alu fiiha man yufsidu fiiha wa yasfikuddimaak wanahnu
nusabbihu bihamdika wanukaddisulak…, …Mengapa Engkau hendak menjadikan
(khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan
menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji
Engkau dan mensucikan Engkau?…”. Namun atas rahmat Allah, Malaikat
kemudian bisa memahami AF’AL Allah yang sedang bekerja membentuk Adam,
sehingga akhirnya Malaikat tahu diri dan tidak meneruskan protesnya
untuk sepanjang masa.
Akan tetapi ada yang tidak pernah sadar sepanjang masa, yaitu IBLIS.
Dia selalu saja protes atas QADA dan QADAR Allah atas penciptaan ADAM.
Iblis seakan bersikukuh:
“Ya Allah…, saya BERIMAN kepada Wujud-Mu”.
“Ya Allah…, saya BERIMAN kepada Zat-Mu”.
“Tapi ya Allah…, saya PROTES atas AF’AL-Mu terhadap adanya ADAM”.
“Tapi ya Allah…, saya PROTES atas QADA dan QADAR-Mu terhadap adanya ADAM.”
“Aku kan lebih hebat dari Adam…”,
“Aku dari api sedang Adam dari tanah…”
“Seharusnya Adamlah yang sujud kepadaku…”
Ternyata bukti Iman kepada Allah adalah berupa bisanya kita menerima
Qada-Qadar Allah ini dengan ikhlas. Hal ini adalah sebuah aktifitas yang
sangat SULIT untuk kita laksanakan kalau kita hanya berbekal kepada
ilmu OLAH PIKIR dan OLAH EMOSI belaka. Dengan bekal seperti ini, kita
tidak akan pernah bisa beriman kepada Allah dengan utuh. Seperti tidak
bisanya Iblis saat dia menggunakan olah pikir dan olah emosinya untuk
menerima kenyataan tentang adanya ADAM. Bahwa dia pikir dia yang terbuat
dari API lebih baik dari ADAM yang tercipta dari TANAH.
Astagfirullahal azhiim…, sejak dulu entah berapa lama saya pernah
terjebak dalam keadaan protes terus menerus kepada Allah seperti yang
dilakukan iblis kepada Allah. Ah…!, beriman kok masih ada tapinya…!.
Dulu Iblis hanya protes untuk satu hal saja, yaitu protes atas Af’al
Allah terhadap penciptaan Adam. Sedangkan saya, dan mungkin juga
beberapa orang diantara pembaca yang budiman, mungkin pernah protes…,
protes…, protes…, dan menolak seribu satu keadaan dan Af’al Allah yang
menjambangi saya. Protes itu saya bungkus dalam bentuk untaian do’a-do’a
yang sekilas kelihatannya indah dan manis, tapi hakekatnya itu tetaplah
sebuah bentuk protes kepada Allah. Lalu masihkah saya bisa mengaku
bahwa iman saya kepada Allah lebih baik dari iman Iblis kepada Allah???.
Astagfirullahal azhiim…, Astagfirullahal azhiim…, Astagfirullahal azhiim……
Bersambung
Deka
BENIH IMAN…
Alhamdulillah…, berbekal dengan lima ayat Al Qur’an diatas, yang
merupakan “peta yang sangat akurat” untuk mendapatkan pencerahan dari
Allah, terjadi sebuah proses transformasi spiritual radikal didalam diri
saya. Melalui proses yang sangat sederhana, tiba-tiba saja DERR… (lihat
artikel Bersatu). Proses itu begitu sederhananya dan dalam tempo yang
sangat singkat pula. Walaupun begitu suasana atau keadaan dari hasil
latihan itu bisa bertahan berhari-hari.
Tiba-tiba saja ditahun 2000, saya ditunjukkan oleh Bapak H. Slamet
Utomo dan Ustadz Abu Sangkan sebuah ruangan dimana Beliau berdua selalu
berada di setiap saat. Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim,
Syahadat, dan shalawat, lalu saya memanggil-manggil Allah dengan lembut
dan santun, ya Allah…, ya Rahman… berkali-kali, tiba-tiba saja saya
seperti dituntun, ditarik, diperjalankan, dibimbing dan diletakkan
dengan sengaja oleh Allah kedalam sebuah KEADAAN, SEBUAH RUANG yang
secara sederhana saya sebut sebagai RUANG SPIRITUAL.
Keadaan Ruang Spiritual itu tidak bisa saya gambarkan, karena memang
didalamnya tidak ada apa-apa. Tidak ada bentuk, rupa, warna dan cahaya
yang bisa saya lukiskan. Karena gambar memang hanyalah permainan bentuk,
rupa, warna dan cahaya semata. Garis setipis serambut dibelah tujuh,
atau titik, atau atom, atau inti atom yang terdiri dari berbagai
eletron, proton, quark, dan sebagainya, walaupun itu sangat-sangatlah
kecil, tapi semua itu masih bisa digambarkan. Kalau ini tidak bisa.
Tiba-tiba saja mata saya, walaupun masih tetap terbuka, dan semua
bentuk, rupa, dan benda-benda masih ada didepan saya, tidak lagi
terhalang (terikat) sedikitpun oleh kesemuanya itu. Mata saya seperti
terbebas dari bebannya yang sangat berat selama ini. Mata saya seperti
menemukan tempat istirahatnya dan tempat bersandarnya yang Hakiki.
KOSONG, Tidak ada apa-apa.
Didalam ruang spiritual itu yang ada hanyalah KESENYAPAN, KEHENINGAN.
Tidak ada gelombang, tidak ada getaran, tidak ada bebunyian, tidak ada
nada dan irama, tidak ada kata-kata dan kalimat-kalimat. Entah bagaimana
caranya, ditengah-tengah badai gelombang, getaran, bebunyian, nada dan
irama, kata dan kalimat, yang tengah melewati telinga saya, tiba-tiba
semua itu seperti diliputi kesenyapan, dan keheningan. Ada kesunyian
yang mencekam. Segala riuh rendah bebunyian dan kata yang selama ini
memenatkan telinga saya, ternyata tak lebih hanyalah sebentuk permainan
yang tengah berenang dalam liputan kesenyapan, kesunyian, dan
keheningan. Setelah sekian puluh tahun menanggun beban yang meletihkan,
telinga saya seperti kembali mendapatkan alamat istirahatnya dan tempat
kembalinya yang Hakiki. SENYAP.
Ya…
Yang ada hanyalah KEKOSONGAN, TIDAK ADA APA-APA.
Yang ada hanyalah KEHENINGAN, KESENYAPAN, TIDAK ADA APA-APA
Yang ada hanya DIAM…, SUNYI…, TIDAK ADA APA-APA.
Yang ada hanya SUASANA KEABADIAN.
Yang ada hanya SUASANA KELANGGENGAN.
Dan yang terpenting sebenarnya bukanlah ruangan spiritual itu
sendiri. Tapi suasana, proses, dan aktifitas diruangan spiritual itulah
yang mencengangkan.
Bagaimana proses tahu terjadi.
Bagaimana proses tahu berubah menjadi rasa ingin.
Bagaimana proses mengalirnya daya untuk mewujudkan rasa ingin itu.
Bagaimana proses turunnya suasana yang mengiringi pelaksanaan sebuah aktifitas.
Misalnya,
Tidak semua orang diberi tahu tentang ada proses rukuk yang menyembah dan mendekat ke Allah…
Tidak semua orang diberi tahu tentang proses sujud yang menyembah an mendekat ke Allah…
Tidak semua orang diberi rasa ingin untuk rukuk yang menyembah dan mendekat ke Allah…
Tidak semua orang diberi rasa ingin untuk sujud yang menyembah dan mendekat ke Allah…
Tidak semua orang diberi daya untuk rukuk yang menyembah dan mendekat ke Allah…
Tidak semua orang diberi daya untuk sujud yang menyembah dan mendekat ke Allah…
Tidak semua orang diberi suasana menyembah dan mendekat ke Allah saat rukuk…
Tidak semua orang diberi suasana menyembah dan mendekat ke Allah saat sujud…
Sungguh rukuk, sujud, menyembah, dan mendekat kepada Allah inilah puncak kerendahan hati manusia dihadapan Sang Penciptanya.
Sebab banyak diantara kita yang sudah diberi tahu bahwa ada perbuatan
dan aktifitas yang baik bagi sesama umat manusia dan bagi diri kita
sendiri, kemudian dialiri rasa ingin untuk berbuat dan berkatifitas yang
baik itu, lalu sudah didorong pula dengan daya untuk beraktifitas untuk
mewujudkan perbuatan baik itu, diberi suasana pula saat kita melakukan
aktifitas kebaikan itu, namun kita DIHALANGI oleh Allah untuk bisa rukuk
dan sujud yang menyembah dan mendekat kepada-Nya…
Banyak sekali kita yang tidak tahu bahwa sebaik apapun perbuatan
kita, secemerlang apapun karya kita, namun saat kita DIHALANGI oleh
Allah untuk rukuk dan sujud yang menyembah dan mendekat kepada-Nya,
sebenarnya saat itu kita sedang tidak disukai oleh Allah. Saat itu
sebenarnya kita sedang DITENDANG oleh Allah dari sisi-Nya. Saat itu kita
sedang DIUSIR oleh Allah dari sisi-Nya.
“Pergi kau dari sisi-Ku wahai sang pengkhianat…!.”
“Menjauh kau dari sisi-Ku wahai sang pengkhianat…!.”
Dan semua orang yang dihalangi, ditendang, dan diusir oleh Allah dari
sisi-Nya itu tidak lain hanyalah AYAT-AYAT Allah belaka bagi
hamba-hamba Allah yang lain. Saat itu Allah sebenarnya sedang
berkata-kata kepada hamba-Nya yang sudah DITUNTUN-Nya untuk bisa rukuk
dan sujud yang menyembah dan mendekat kepada-Nya…
“Lihatlah wahai hamba-Ku…
Si Fulan itu telah berkhianat kepada-Ku…
Ku-beri dia rasa hidup, tapi dia sombong kepada-Ku…
Ku-beri dia rasa ada, tapi dia sombong kepada-Ku…
Ku-beri dia rasa melihat, tapi dia sombong kepada-Ku…
Kuberi dia rasa mendengar, tapi dia sombong kepada-Ku…
Kuberi dia rasa tahu, tapi dia sombong kepada-Ku…
Kuberi dia rasa ingin, tapi dia sombong kepada-Ku…
Kuberi dia rasa berdaya, tapi dia sombong kepada-Ku…
Kuberi dia rasa kuat, tapi dia sombong kepada-Ku…
Kuberi dia rasa bisa, tapi dia sombong kepada-Ku…
Kadangkala Ku-tinggikan derajatnya agar dia tetap sombong kepada-Ku…
Sehingga diapun Ku-buat lupa kepada-Ku…
Dia tidak Ku-izinkan bergantung kepada-Ku…
Dia tidak Ku-izinkan untuk rukuk dan sujud yang menyembah dan mendekat kepada-Ku…
Namun …
Untuk kebaikannya…
Aku masih berkenan mengingatkannya…
Ku-beri dia rasa sakit, agar rasa sombongnya bisa copot…
Ku-beri dia rasa tersiksa, agar rasa sombongnya bisa copot…
Ku-beri dia rasa takut kelaparan, agar rasa sombongnya bisa copot…
Ku-beri dia rasa khawatir akan masa depannya, agar rasa sombongnya bisa copot…
Kadangkala…
Ku-rendahkan derajatnya serendah-rendahnya, agar rasa sombongnya bisa copot…
Ku-ambil apa-apa yang dicintainya, agar dia kembali bergantung kepada-Ku…
Ku-singkirkan tempat bergantungnya selain-Ku, agar dia bisa kembali bergantung kepada-Ku saja…
Fabiayyi ala irabbikuma tukazzibaan…
Entah dengan cara apa lagi dia bisa Ku-ingatkan…
Akan tetapi…
Jika dengan semua peringatan-Ku itu dia masih tetap mengkhianati-Ku…
Aku masih punya peringatan-Ku yang terakhir…
Akan Ku-ambil semua apa-apa yang Ku-berikan kepadanya selama ini.
Karena semuanya memang adalah Milik-Ku…
Rasa melihatnya Ku-ambil dengan paksa…
Rasa mendengarnya Ku-ambil dengan paksa…
Rasa tahunya Ku-ambil dengan paksa…
Rasa inginnya Ku-ambil dengan paksa…
Rasa berdayanya Ku-ambil dengan paksa…
Rasa kuatnya Ku-ambil dengan paksa…
Rasa bisanya Ku-ambil dengan paksa…
Rasa hidupnya Ku-ambil dengan paksa…
Rasa adanya Ku-ambil dengan paksa…
Mati…
Bersambung
Deka
Untuk memudahkan kita dalam memahami proses perubahan spiritual yang
lebih dahsyat lagi, tidak ada salahnya kalau kita menengok sejenak
proses perubahan spiritual yang sangat-sangat radikal yang dialami oleh
Ibu Siti Hajar. Tentu saja kualitas Perubahan Spiritual yang dialami
oleh Ibu Siti Hajar ini sangat-sangat jauh sekali diatas proses yang
saya terangkan diatas.
Sejenak, cobalah bandingkan peristiwa yang Beliau alami dengan
apa-apa yang kita alami. Sebenarnya apa yang kita alami dalam hidup kita
sekarang ini belum ada seujung kukupun atas kejadian yang Beliau
hadapi.
Perbedaan yang sangat menyolok antara Ibu Situ Hajar dengan kita adalah:
• Beliau memang sedang dipersiapkan Allah untuk menjadi seorang ibu
dan seorang istri bagi orang-orang yang nantinya akan menjadi tonggak
ketauhidan umat manusia sepanjang masa. Yaitu ibu bagi Nabi Ismail dan
istri bagi Nabi Ibrahim. Untuk itu Allah sengaja membentuk karakter
spiritual Beliau dengan cara yang sangat-sangat extrim, sehingga mau
tidak mau akhirnya Beliau hanya punya tempat bergantung tunggal, yaitu
kepada Allah.
• Sedangkan yang kita saat ini alami lebih banyak hanyalah jeweran
atau sentilan Allah belaka untuk menyadarkan kita atas kesombongan dan
pengkhianatan kita kepada Allah. Seberat apapun cobaan, hukuman, dan
siksaan yang kita hadapi saat ini, sebenarnya kualitasnya hanyalah
sekelar jeweran saja dibandingkan dengan apa yang dialami oleh Ibu Siti
Hajar. Namun itu sajapun kita tidak kuat menghadapinya. Makanya kualitas
kita juga jadi biasa-biasa saja di zaman kita sekarang. Sehingga
kitapun tidak bisa melepas rasa kebergantungan kita kebanyak tempat
bergantung selain Allah. Kualitas bergantung total kita kepada Allah
menjadi begitu rendahnya.
Proses perubahan spiritual Ibu Siti Hajar itu terjadi saat Beliau
ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim ditengah-tengah lembah (BAKKAH) bersama
anak Beliau Nabi Ismail. Saat itu Bakkah yang sekarang dikenal sebagai
Mekkah tidak lebih dari hanya sebuah tempat kosong yang sangat
mengerikan. Ditengah kegarangan padang pasir yang panasnya memanggang
bebatuan, Beliau bersama bayinya, Ismail, ditinggalkan oleh Nabi
Ibrahim. Tidak ada rimbun tetumbuhan tempat berteduh. Tidak ada setetes
airpun untuk meredakan rasa dahaga. Tidak ada sebiji bebuahan yang bisa
dijadikan pengganjal perut yang melilit lapar. Tidak ada hewan jinak
yang bisa dijadikan makanan. Lapar dan dahaga menjadi begitu pasti
dihari esok. Dan itu menumbuhkan rasa takut yang amat sangat…!. Takut
akan lapar dan haus diesok hari.
Dinginnya udara malam seperti memeluk tulang. Cahaya bulan yang
terhambat oleh gerombolan awan hitam seperti membentuk bayangan
menakutkan. Entah binatang buas padang pasir macam apa yang tengah
mengintai Beliau dari balik bebatuan. Suasananya begitu menakutkan.
Dalam pagutan rasa takut yang amat sangat itu, tidak ada apa-apa yang
bisa Beliau jadikan tempat berpegangan. Suami yang selama ini jadi
tempatnya bersandarpun telah meninggalkannya dengan langkah pasti. Yang
ada hanyalah kesendirian yang ganjil. Kesendirian yang menakutkan.
Kesendirian yang tak mampu lagi otak Beliau untuk memikirkannya. Otak
Beliau akhirnya berhenti berfikir, karena tidak ada lagi logika berfikir
yang bisa Beliau pakai…
Beliau TIDAK melalui tahapan tidak berfikir itu melalui cara-cara
olah pikir seperti yang sering dilakukan oleh orang yang bermeditasi
yang dinamakan orang sebagai ZERO MIND. Peristiwa yang Beliau alami
bukanlah proses Zero Mind dengan cara meninggalkan alam pikiran tentang
nikmat kehidupan. Sebab zero mind adalah proses yang berasal dari
praktek yang dilakukan oleh pemimpin ibadah agama tertentu. Mereka
melepaskan diri dari pikiran-pikiran tentang istri dan keluarga, tentang
kepemilikan harta, tentang pengetahuan, tentang tentang kenikmatan
hidup. Semua itu mereka angap sebagai penghambat diri mereka untuk
mendapatkan ketenangan pikiran dan hati. Agar pikiran dan hati mereka
tenang, maka semua pikiran tentang kenikmatan hidup itu harus
disingkirkan sehingga dengan otomatis hati merekapun akan kosong pula.
Akhirnya mereka hidup dengan cara meninggalkan keduniaan. Mereka hidup
dalam keprihatinan yang kental.
Namun entah karena ketidaktahuan mereka atau hanya sekedar
ikut-ikutan, banyak pula umat islam yang memakai cara-cara Zero Mind ini
dalam dalam berbagai pelatihan. Walau ditambahkan dengan berbagai
ayat-ayat Al Qur’an dan Al Hadist sebanyak apapun, hasilnya tetaplah
biasa-biasa saja.
Kalau Siti Hajar kan tidak begitu. Tidak dengan cara-cara olah pikir.
Saat anak Beliau, Ismail, menangis menahan rasa haus dan lapar, Siti
Hajar tambah merasa tidak bisa berbuat apa-apa. Beliau kemudian berlari
kecil menuju bukit safa dan kemudian ke bukit marwa untuk melihat
kalau-kalau ada air yang bisa diambil untuk anak Beliau yang tengah
kelaparan dan kehausan. Tujuh kali putaran Beliau melakukan itu,
akhirnya habislah harapan Beliau untuk mendapatkan bantuan dari alam
semesta sekalipun. Alam tidak pernah memperlihatkan wajah bersahabatnya
kepada Beliau. Sungguh tidak ada siapa-siapa tempat bergantung Beliau.
Tidak ada apa-apa lagi yang bisa Beliau akui sebagai yang bisa membantu
Beliau. Tidak ada juga yang bisa diakui sebagai milik Beliau. Habislah
segala daya dan upaya Beliau… Habis…
Dengan begitu, lengkap sudah prasyarat bagi Siti Hajar untuk
bermetamorfosis menjadi makhluk spiritual. Tidak ada tempat bergantung
lagi. Tidak ada apa-apa dan siapapun juga. Tidak juga pada kemurahan
alam semesta. Tidak ada lagi yang bisa Beliau pikirkan. Diam…
Dalam kelelahan yang amat sangat, Beliau duduk dengan tulang-tulang
yang luruh. Beliau pandang sang Ismail kecil yang sedang tertidur
berbalut lapar dan haus. Nafas halusnya beralun lembut keluar dan masuk
kedalam paru-parunya. Ismail sedikitpun tidak berbuat apa-apa, namun
ternyata ada Wujud yang sedang sibuk memberi nafas kepadanya. Wujud yang
sedang sibuk memberikan kehidupan kepada Ismail kecil. Yaitu Sang
Hidup…
Siti Hajar kemudian mengamati pula nafas yang sedang bergerak halus
keluar masuk paru-paru Beliau. Sebentuk benih kesadaran mengalir kedalam
dada Beliau. Bahwa nafas Ismail maupun nafas Beliau dipegang oleh Wujud
yang sama. Wujud Sang Hidup….!. Beliau mencoba untuk mengikuti aliran
nafas itu buat sejenak. Walau paru-paru Beliau punya keterbatasan dalam
menampung volume udara yang mengalir kedalam paru-paru itu, namun daya
yang menggerakkan Nafas itu seperti mampu bergerak melampaui batas
dinding paru-paru Beliau untuk terus bergerak memenuhi alam semesta
raya.
Beliau telah menemukan muara dari nafas. Beliau telah menemukan rumah
dari nafas, yang tak lain adalah alam semesta raya… Rumah Nafas…
Kosong, Senyap, Hening…, sebuah keadaan KEABADIAN menyergap Beliau.
Ada sebuah suasana KELANGGENGAN yang tidak pernah berubah sepanjang
Masa. Dari awal tidak ketemu Awalnya, Menuju akhir tidak ketemu
Akhirnya. Beliau seperti lepas dari JERATAN WAKTU. Beliau lepas baik
dari MASA LALU maupun dari MASA DEPAN. Seketika itu juga Beliau berada
di SAAT INI. Beliau seperti COPOT dari SERGAPAN KEJADIAN-KEJADIAN.
Beliau lepas dari jerat penderitaan, lepas dari jerat kepedihan. Beliau
menjadi Bebas dan Merdeka.
Karena Beliau sudah dibekali oleh Nabi Ibrahim dengan sebuah nama
dari Dzat yang Maha Meliputi Segala sesuatu, yaitu Allah…!, maka dengan
santun Beliau lalu berpegangan dengan teguh kepada Wujud Sang Maha
Meliputi. Sang Tunggal…, Sang Ahad…, Sang Satu…, Allah…
DERR…. Beliaupun duduk dengan Pas di suasana surat Al Ikhlash ayat 1-2:
Qulhuwallahu AHAD…
Allahush shamad…
Ooo…, Ada Sang Ahad…,
Beliau bersandar pada Wujud Ahad Yang Maha Meliputi…, DERR…
Dan Beliaupun bergantung pada Wujud Sang Ahad… DERR..
Ada tali yang menghubungkan dada Beliau dengan Wujud Yang Maha Meliputi…
Ada kable yang menghubungkan dada Beliau dengan Wujud Sang Ahad…
Lalu Beliau berpegangan teguh dengan tali itu, dengan kabel itu…, dengan hub itu…
Wa’tashimu billah…
Wa’tashimu bihablillah….
DERR…, Beliaupun menyampaikan sembah dan penghormatan kepada Sang
Ahad, Sang Wujud Maha Meliputi, Sang Muhith…, sehingga Beliaupun
dituntun untuk duduk di keadaan ayat 3-4 surat Al Quraisy:
Falya’buduu rabba haadzal baiti…,
Alladzi ath’amahum min ju’in wa amanahum min khauf…
Beliau menghaturkan sembah dan sujud kepada Dzat yang memiliki “rumah ini”. DERR…
Dan…, dengan seketika dari tanah yang Beliau injakpun memancarlah air
dengan deras. Air yang bukan sembarang air. Tapi air yang mampu
melepaskan rasa lapar dan dahaga. Air yang mampu menggantikan peran
makanan, daging, dan buah-buahan. Sehingga Beliau dan anak Beliau,
Ismail, pun bisa hidup berhari-hari, berbulan-bulan, dengan hanya
berbekal air itu. Seluruh mineral dan zat-zat yang dibutuhkan oleh tubuh
untuk hidup sudah tersedia didalam air itu. Air itu adalah air zam-zam.
Air yang kualitasnya setara dengan air INFUS…, bahkan lebih.
Dengan seketika Beliau keluar dari keadaan JU’ (kelaparan). Beliaupun
merasa aman, karena Ada Wujud Sang Maha Meliputi tempat Beliau
bersandar dan bergantung disetiap saat. Tidak ada lagi rasa takut
(KHAUF) pada diri Beliau, walau Beliau hanya berdua dengan anak Beliau
di padang pasir tandus tersebut…
Dan Beliaupun mengecap suasana atau dari keadaan ayat berikut ini dengan tepat:
Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan
barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan
(keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang
dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi
tiap-tiap sesuatu. (Ath Thalaaq 3).
Subhanallah…, Subhanallah…, Subhanallah…!.
Kemudian dengan adanya air zam-zam itu, Allah menumbuhkan berbagai
tumbuhan, sehingga Bakkah itupun berubah menjadi tempat persinggahan
bagi kafilah-kafilah dari berbagai penjuru Jazirah Arab. Sejak itu,
sebuah cikal bakal peradaban tauhid telah ditorehkan oleh Ibu Siti Hajar
dan Nabi Ismail…
Bersambung
Deka
Kita selalu saja sering berfikir tentang kejadian-kejadian yang telah
lalu, kejadian yang tengah menimpa kita saat ini, dan apa-apa yang akan
terjadi dimasa depan. Kita sering terbetot dan terikat kembali oleh
semua pengalaman dan kejadian-kejadian yang telah menimpa kita dimasa
lalu. Peristiwa dua-tiga menit yang lalu entah kenapa sering kita
pikirkan kembali. Kejadian-kejadian sebulan dua bulan yang lalu ataupun
tahunan yang lalu seperti melambai-lambai kepada kita untuk kembali kita
masuki. Dan anehnya peristiwa dan kejadian masa lalu yang
memanggil-manggil itu selalu saja kejadian yang tidak memuaskan dan
peristiwa duka cita saja.
Yang tak kalah serunya adalah bahwa kita terlalu sering berfikir
tentang orang lain. Kita ingin tahu isi pikiran orang lain. Bahkan kita
seringkali ingin ikut campur pula dengan isi pikiran orang lain. Dan ini
pasti akan menimbulkan “perang pikiran” diantara sesama manusia. Tidak
cukup sampai disitu, perang pikiran ini tidak jarang akhirnya
memunculkan perang fisik sungguhan. Peristiwa berdarah-darah yang hampir
saja berulang dan berulang diberbagai pelosok dunia, adalah hasil yang
logis saja tatkala kita tidak bisa memaknai fikiran itu dengan cerdas
dan cerdik.
Nanti dibagian akhir tulisan ini kita akan melihat bahwa sebenarnya
perbedaan kita satu sama lain dalam segala hal hanyalah akibat dari
perbedaan isi pikiran, arah berfikir, arah kesadaran, dan arah ingatan
kita saja. Berbeda ARAH DZIKIR saja sebenarnya. Walau perbuatan atau
aktifitas kita sama, namun saat arah dzikir kita berbeda, maka kualitas
perbuatan atau aktifitas kita itu tetaplah dianggap tidak sama.
Cobalah perhatikan. Tatkala arah dzikir kita tertuju kepada
kejadian-kejadian yang tidak memuaskan kita dimasa lalu, maka
kejadian-kejadian itu seperti ingin menyeret kita kembali mundur kemasa
lalu itu. Begitu arah dzikir kita kesana, dengan seketika kita seperti
ditarik kembali untuk memasuki suasana yang dipenuhi oleh rasa BENCI,
KECEWA, IRI HATI, MARAH. Kalau semua rasa buruk ini sudah memuncak,
LEDAKAN KEKEJAMAN kepada orang lain maupun terhadap diri sendiri dengan
sangat mudahnya bisa terjadi. Hoiiii…, awas kamu. Bumm…, Duar…!.
Begitu juga saat arah dzikir kita mengarah ke berbagai peristiwa duka
cita yang pernah kita alami dimasa lalu, peristiwa itu seperti ingin
menarik-narik kita untuk kembali masuk kedalam suasana kedukaan itu.
Dengan seketika dengan mudahnya muncul rasa MALU, PENYESALAN, RASA
BERSALAH, KEKESALAN, dan KEMURUNGAN didalam keseharian kita.
Apalagi pada saat yang sama dzikir kita juga bisa dibayang-bayangi
oleh harapan-harapan, gambaran-gambaran, dan cerita-cerita masa depan
baik yang menjanjikan angin syurgawi maupun hawa seram NERAKA. Dengan
keadaan kita saat ini yang hanya sebegini-begininya saja, jauh panggang
dari api, jauh dari kesempurnaan iman, maka ujung-ujungnya kita selalu
dibayangi oleh KECEMASAN, KEGELISAHAN, KETAKUTAN akan masa depan kita
itu. Dengan mudahnya berbagai betuk kalimat PENYESALAN akan bergaung
liar didalam otak kita. “AH COBA KALAU DULU saya begini, nggak begitu…!.
ADUH… kenapa dulu saya…”.
Begitu pula, ketika kita menyangkan bahwa kita sudah beragama dengan
semangat spiritualitas yang tinggi, namun tidak ada makhraja (jalan
keluar) dari permasalahan-permasalahan yang kita hadapi, misalnya
tentang rezki dan keperluan kita yang lainnya, maka yang muncul kemudian
adalah keluhan demi keluhan kita kepada Allah maupun kepada sesama
manusia. Ya…, dalam puncak keluhan kita itu biasanya kita malah
melontarkan berbagai kalimat protes kepada Allah. Kita bukannya takluk
dan menyerah habis kepada Allah.
Semua arah dzikir yang keliru itu tadi memberikan dampak yang sangat
buruk bagi kesehatan tubuh kita. Karena BENCI, KECEWA, IRI HATI, MARAH,
MALU, PENYESALAN, RASA BERSALAH, KEKESALAN, KEMURUNGAN, KECEMASAN,
KEGELISAHAN, KETAKUTAN dan emosi-emosi NEGATIF lainnya akan mengacaukan
keteraturan kerja seluruh sistem hormonal, aliran darah, serta jaringan
syaraf dan otot yang ada ditubuh kita. Berbagai macam penyakit akan
sangat mudah menghinggapi tubuh kita. Sebenarnya keadaan ini merupakan
sebuah peringatan awal kepada kita bahwa ada yang salah dengan POSISI
kita dihadapan Allah saat itu.
Celakanya adalah, karena kita belum pernah mengalami suasana
kebalikannya secara UTUH (yang bukan ARTIFICIAL), maka saat emosi kita
kacau, saat kerja sistem alam semesta kecil yang ada ditubuh kita
berantakan, kita merasa itu adalah hal yang wajar saja. Itu kita anggap
sebagai peristiwa alamiah belaka, sehingga tindakan kita juga hanya
sebatas hal-hal yang bersifat alamiah saja. Misalnya kita datang ke
dokter, ke penyembuh herbal, ke penyembuh alternatif, atau bahkan ke
dukun.
Saat kita belum pernah merasakan suasana SENANG, IKHLAS, RIDHO, RELA,
SABAR, BAHAGIA, SUKACITA, CERIA, TENANG, AMAN, TENTERAM, dan
emosi-emosi POSITIF lainnya yang langsung diturunkan Allah sendiri
kedalam dada kita, maka emosi-emosi negatif seperti diataslah yang akan
lebih kuat bercokol didalam relung dada kita. Seakan-akan emosi negatif
itulah diri kita yang sebenarnya. Kita akan berjalan dengan emosi-emosi
negatif itu dalam keseharian kita.
Hal ini akan berbeda saat suasana dada kita PERNAH DIBALIKKAN oleh
Allah dari dada yang penuh dengan emosi NEGATIF menjadi dada yang penuh
dengan emosi POSITIF. Begitu suasana dada kita yang penuh dengan emosi
POSITIF tiba-tiba jatuh, muncullah BENIH emosi NEGATIF menyeruak dari
relung dada kita. Perubahan suasana itu begitu terasa. DUUKKK…, DESSS…,
seperti ada beban yang menimpa dada kita. Rasa luas dan lapang yang
sebelumnya ada, tiba-tiba hilang dari relung dada kita. Dada kita
menciut menjadi sempit dan tidak nyaman. Nafas kita memburu dan
terengah-engah. Dan dengan tergopoh-gopoh kita akan datang merendah
kepada Allah. Kita segera minta ampun…, minta dilapangkan kembali dada
kita…, sampai Allah kembali menarok emosi POSITIF dan mengambil emosi
NEGATIF dari dalam dala kita.
Jadi kerjaan kita setiap saat sebenarnya sederhana saja, yaitu
mengamati perubahan-perubahan suasana yang ada didalam dada kita dalam
setiap aktifitas dan waktu. Karena memang dada ini adalah sebuah sistem
deteksi dini (early warning sistem) untuk memantau keadaan kita. Untuk
mengamati keadaan kita yang sedang diapakan oleh Allah. Disenangi Allah
akan terasa. Dijauhi Allah akan terasa. Ditendang Allah akan lebih
terasa lagi…
Tapi yang dialami oleh Bunda Siti Hajar kan nggak seperti kita
begitu. Beliau didudukkan sendiri oleh Allah pada keadaan dimana Beliau
sudah tidak mampu lagi untuk berfikir, untuk menyesal, dan untuk
berharap…
DERR…, tiba-tiba semua fikiran itu lenyap. KOSONG, HENING, SENYAP, DIAM.
DERR…, seketika ada SUASANA KEABADIAN, SUASANA KELANGGENGAN.
Suasana dimana tidak ada lagi ketakutan
Tidak ada lagi kekhawatiran
Dada Beliau penuh dan berkelimpahan dengan emosi POSITIF.
Beliau menjalani hari-hari bersama Ismail dengan parasaan aman dan penuh sukacita..
Dan kemudian muncullah MAKHRAJA (jalan keluar) dari permasalahan beliau:
Tentang kekurang makanan dan minuman,
Tentang rasa takut….
Bersambung
Deka
Sedikit kilas balik sebelum GO…
Dulu dalam pelatihan sebuah ilmu silat, suasana seperti inilah KONON
yang ingin saya dapatkan. Saya menyangka suasana ini adalah suasana yang
bisa dilatih dan diolah dengan cara olah nafas, olah tubuh, olah
getaran, olah pikir dan olah emosi. Tapi dengan semua cara-cara itu
tadi, ternyata saya hampir tidak pernah bisa mendapatkannya. Sulit
sekali. Paling banyak baru sekali atau dua kali saja saya bisa
merasakannya saat itu. Dan itupun dengan berbagai pengolah fisik, olah
nafas, olah getaran pribadi maupun getaran alam, dan olah objek fikir
yang rumit dan melelahkan. Fisik dibuat lemah sampai pada batas bawah
kekuatannya. Frekuansi keluar masuk nafas diatur selambat mungkin dengan
jeda waktu sekian hitungan. Objek fikirnya adalah berbagai “titik
konsentrasi” yang bertebaran disekujur ditubuh saya maupun dialam
semesta. Melatihnya pun dalam waktu tahunan kalau tidak mau disebut
belasan tahun.
Saya juga jadi ingat beberapa buku yang saya baca tentang berbagai
ilmu meditasi dari India, China, dan dari Jepang, dan bahkan dalam ilmu
tarekat. Bahwa bertemu keadaan seperti ini, masuk kedalam keadaan
kosong, senyap, hening, diam, abadi, langgeng, adalah PUNCAK PENCAPAIAN
pendakian rohani seseorang. Puncak suasana meditasi dan dzikir
seseorang. Apalagi setelah terlatih dan mahir masuk kedalam keadaan
diatas, banyak orang yang memberikan kesaksian bahwa mereka merasa
berubah menjadi lebih baik, lebih bahagia, lebih sabar, lebih
bersemangat, lebih dermawan, dan lebih dalam berbagai aktifitas kebaikan
lainnya.
Banyak orang islam yang ikut pelatihan meditasi tersebut juga
merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh orang-orang beragama
lainnya. Seakan-akan meditasi itu telah menjadi sebuah agama universal
yang bisa diikuti oleh semua orang dan semua agama.
Bahkan sekarang ini ada cara meditasi yang katanya modern dengan cara
olah gelombang otak melalui bantuan suara-suara berfrekuensi tertentu.
Dengan mendengarkan audio tersebut otak seseorang bisa dibawa
kegelombang Alfa, Beta, dan Teta. Hasilnya tentu saja ada. Sehingga
akhirnya tidak aneh kalau kemudian muncul istilah istilah seperti: semua
agama pada hakekatnya adalah sama, hanya cara beribadahnya saja yang
berbeda; kalau kita sudah berbuat kebaikan di dunia ini, itu sudah
cukup. Dan kitapun dikepung oleh berbagai istilah yang mengaburkanan
kebeningan nilai-nilai agama islam.
Namun tidak banyak yang tahu bahwa, kalau hanya dalam tataran olah
otak, bahkan juga dalam tataran olah emosi, memang peran agama yang satu
dengan agama lainnya ataupun peran teknologi sudah tidak bisa dibedakan
lagi dengan jelas. Semua kelihatan hampir mirip, kalau tidak mau
dikatakan sama.
Lalu dimana letak ketinggian islam, seperti yang dikatakan oleh Nabi
dalam sebuah Hadist: “Islam adalah ya’lu wa yu’la alaihi, islam adalah
tinggi dan tidak ada yan mengalahkan ketinggiannya”. Lha…, letak
tingginya dimana…?
Sebagai tambahan saja…
Dalam hal ini, saya sama sekali tidak meniadakan dan tidak membantah
tentang manfaat dari olah nafas, olah tubuh, olah getaran, olah pikir
dan olah emosi dan berbagai proses meditasi yang ada didunia saat ini.
Semuanya punya efek yang sangat positif bagi kesehatan dan kekuatan
tubuh, ketenangan emosi, dan bahkan kecerdasan bagi para pemrakteknya.
Tentu saja kelebihan ini berlaku bila dibandingkan dengan orang lain
yang tidak pernah melakukannya sama sekali.
Misalnya, saat saya dulu kuliah di USA tahun 1993-1995, beberapa lama
saya pernah melatih Kuji-kiri – The Nine Levels of Power Ninja – yaitu
Rin, Kyo, Toh, Sha, Kai, Jin, Retsu, Zai, Zen. Dengan mengatur irama
nafas, menyatukan posisi jemari tangan dalam bentuk-bentuk tertentu, dan
berkonsentrasi dengan fokus tertentu, ternyata pengaruhnya luar biasa
sekali dalam hal mengontrol pikiran saya. Saya dulu juga sering
melakukan Proses Mirrorring, proses pengacaan, dengan membayangkan
apa-apa yang saya inginkan dimasa depan dengan jelas dan bersikap
seolah-olah semua bayangan dan impian itu telah terjadi. Ditambah lagi
dengan sikap do’a dimana apa-apa yang saya do’akan itu saya masukkan
kedalam “bola prana” yang saya bentuk diantara kedua telapak tangan yang
saling saya dekatkan, tapi tidak sampai bersentuhan. Lalu bola prana
yang sudah saya isi dengan do’a saya itu saya antarkan keatas kearah
langit. Dan anehnya hampir semua yang saya bayangkan dan do’akan dulu
itu bisa terealisir. Alhamdulillah…, tapi DUKK…
Namun disinilah masalah utamanya muncul dengan menakutkan. Saat saya
mengucapkan “Alhamdulillah”, eh… malah rasa sombong saya muncul
menyeruak dengan garang. Dalam mengucapkan Alhamdulullah itu saya
seperti memuja diri saya sendiri. Alhamdulillah…, DUKK…, saat
mengucapkan Alhamdulillah itu saya seperti terhambat oleh pikiran saya
sendiri. Saya terhalang oleh perasaan hebat saya sendiri. Saya terhijab
oleh rasa bisa saya sendiri. Dan rasa bisa diri itu begitu halusnya
sehingga saya tidak sadar bahwa sebenarnya saat itu saya tengah sombong
dan angkuh. Aku…
Aku………., ah sombong sekali rasanya saya ini ketika saya menyebut saya atau aku… itu.
Kesombongan dan keangkuhan yang ternyata bisa menghilangkan
kehakikian RASA IMAN saya kepada Allah. Karena rasa sombong dan angkuh
saya itu, rasa iman sayapun dicopot sendiri oleh Allah. Saya tidak
diperkenankan-Nya untuk rukuk dan sujud yang menyembah dan mendekat
kepada-Nya. Walau saat itu saya tetap rukuk dan sujud, tapi saya
ternyata ruku dan sujud kepada keangkuhan dan kesombongan diri saya
sendiri.
Pak Haji Slamet Otomo dan Ustadz Abu Sangkan kemudian mengantarkan
saya untuk meruntuhkan keangkuhan, kesombongan, dan keakuan saya itu.
Mulanya sedikit bingung, tapi akhirnya begitu nyata. Sehingga sedikit
banyaknya saya bisa mengerti dan paham duduk saya ketika saya membaca
kembali apa yang dulu ditulis oleh An Nafiri, di dalam bukunya “Melihat
Allah”, tentang sebutan aku …
Sebutan “AKU”…
“Tidak akan diucapkan kalimat “aku”, melainkan oleh orang yang berkawan
dengan kelengahan dan oleh orang yang terhijab oleh hakekat;
Engkau berani mengatakan “aku” sedangkan engkau masih terhijab
daripada-Ku, pesona dunia masih mencekam dirimu; masing-masing akan
menyambar dirimu dengan seruan kepada zat dirinya, engkau masih saja
dalam kegaiban yang kelam dari-Ku.
Maka apabila engkau telah melihat “Aku”, dan “Aku” pun telah bernyata
dihadapanmu, tetapkan keteguhamu; maka tiada Aku lagi melainkan “Aku”.
“Telah Kuciptakan (Kuadakan) untukmu dan untuk sesuatu menjadi tujuan,
antara lain tujuan itu ialah “cintamu kepada dirimu sendiri” itulah
tetesan waham (kalimat) yang engkau warisi, kata-katamu “aku” adalah
egomu sendiri (AKU berlepas diri dari anggapan yang demikian)… dan tidak
lain Zat itu melainkan kepunyaan-Ku, dan tidak lain “Aku” itu kecuali
untuk-Ku semata… AKULAH yang DIA itu AKU… adapun hakikatmu, bukanlah zat
dan bukan pula persoalan, hanya sesungguhnya engkau berada pada
pembagian yang bersifat wahami (dugaan), hal ini disebabkan karena
caramu berfikir dan pencapaianmu pada pendakian jiwa dan persoalan.
Engkau dalam setiap saat terbagi kepada “menyaksikan dan disaksikan”,
dua menjadi satu dalam bentuk perjodohan… jiwa yang mencapai dan
persoalan yang dicapai… adapun hakekatmu sendiri tersembunyi jauh
dibalik perjodohan ini, meninggi atasnya, jauh dari segala itu semua…
engkau bukan lagi zat dan perjodohan, tetapi engkau hanyalah roh dari
Roh-Ku, tiada nisbat bagimu melainkan pada-Ku”.
“engkau tidak mengungkapkan hakikat ini, kecuali di kala terangkat
daripadamu tirai penutup dan engkau memandang-Ku, ketika itulah lenyap
daripada dirimu yang berjodohan, perjodohan yang bersifat serba duga
(wahami), lalu engkau menyadari atas hakikat dirimu dan engkau dapati
dirimu yang sebenarnya yang bukan zat dan bukan pula dari persoalan,
tetapi hanya semurni-murninya roh; yang sederhana (Basithah) sesuatu
yang tidak terbagi, (Jauhar), tunggal, meninggi, tiada nisbat melainkan
kepada-Ku…, maka engkau tidak lagi mengulangi mengatakan “Aku” tetapi
mengatakan “Engkaulah Tuhanku”… dan telah engkau ketahui, bahwa “Aku”
adalah untuk-Ku semata, dan bahwa engkau adalah hamba-Ku”.
Seruan Allah kepada si Arif: “Hai hamba-Ku !” Jika engkau sudah tiba
kepada melihat-Ku, maka tiada lagi engkau… dan apabila engkau telah
tiada, maka tiada pula ada tuntutan, dan apabila tiada tuntutan
hilanglah sebab, dan kalau sebab telah lenyap tiada lagi nisbah, sampai
disini sirnalah hijab”…. (An Nafiri)
Ya Allah…, DERR…
Bersambung
Deka
Subhanallah…, ternyata masuk kedalam Ruang Spiritual seperti yang
saya uraikan diatas, sampai menemukan keadaan bahwa yang ada adalah
Kekosongan, Kesenyapan, Keheningan, Diam, Keabadian, Kelanggengan, itu
barulah TITIK AWAL dari Iman, Islam, dan Ihsan. Itu barulah titik awal
dimana agama islam baru dimulai. Ini barulah permulaan atau langkah
pertama dari proses Iman kita kepada Allah. Titik awal yang paling awal.
Apa-apa yang dulu saya anggap sudah paling tinggi, ternyata baru
hanyalah titik awal yang paling awal dari proses spiritual yang
ditularkan oleh Rasulullah Muhammad SAW kepada seluruh umat manusia.
Bahwa proses berimannya kita kepada Allah baru akan terjadi saat mana
otak kita sudah tidak ramai. Otak kita sudah tidak riuh rendah dengan
berbagai pertanyaan, berbagai teori, berbagai sengketa, berbagai
rebutan, berbagai tuduhan, berbagai pengakuan, berbagai goresan dan
bayangan. Juga saat itu kita sudah bisa KELUAR atau TERPISAH dari
sergapan berbagai suara-suara simpang siur didalam otak kita. Kita
terpisah, tapi tidak meninggalkan pikiran-pikiran itu. Pikiran-pikiran
itu tetap ada, namun kita sudah tidak dibawah pengaruh pikiran-pikiran
itu lagi.
KEADAAAN seperti Ini barulah SEPARUH KEADAAN dari persaksian kita
tentang Allah. Itu barulah kesaksian kita tentang KEADAAN kalimat Laa
ilaha… saja. Setengah Syahadat kepada Allah. Bahwa kita sudah bisa
berlepas diri dari mempertuhankan segala suara-suara, baik yang
terucapkan atau hanya yang sekedar berputar-putar liar didalam otak
kita. Kita terlepas dari itu semua. Diam… !.
Kalau baru sampai ke keadaan ini, laa ilaha…, DIAM, semua orang bisa
dan nyaris sama kualitasnya. Ya…, tentu saja bisa sama. Karena yang
membedakan islam dengan sistem kepercayaan atau agama-agama yang lainnya
adalah sambungan dari kalimat tersebut, yaitu Illa Allah…!. Bahwa
Kekosongan, Kesenyapan, Keheningan, Diam, Keabadian, dan Kelanggengan
itu DILIPUTI oleh WUJUD, DILIPUTI oleh AF’AL, DILIPUTI oleh DZAT yang
mengenalkan Diri-Nya dengan nama ALLAH.
“Aku ini perbendaharaan tersembunyi, kemudian Aku ingin dikenal,
kemudian Aku menciptakan makhluk-Ku, dengan Allah-lah mereka mengenal
Aku…”. (Hadits Qudsi).
“Innani ana Allahu, laa ilaha illa ana, FA’BUDNI, wa aqimishshalata
lizikrii…!. Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain
Aku, maka sembahlah Aku (mengabdilah hanya pada-Ku), dan dirikanlah
shalat untuk mengingat Aku… (QS: Thaha 14).
Bersambung
Deka
Laa ilaaha…, diam, hening, langgeng, senyap, abadi, kosong…, WUQUF…
Illaa Allah…, Ooo… Ada Allah ya…; Hhooohh… Ada Allah…
Sebenarnya…,
Kalau sudah begini barulah kita diperbolehkan untuk menyebut nama Allah.
Barulah kita pantas untuk memanggil nama Allah.
Cobalah…
Ya Allah…, Ya Allah…, Ya Allah…
DERR…, DERR…, DERR…
Kalau Allah sudah memberikan respon-Nya atas panggilan kita…, DERR..
Kita tinggal meluruh.
Kita tinggal mendekat.
Kita tinggal rukuk dan sujud.
Kita tinggal menyembah.
Kita tinggal melambaikan bendera putih.
Kita tinggal menyerah.
Menyerah untuk dishibgah-Nya…, DERR…
Menyerah untuk dikuasai-Nya…, DERR…
DERR…, kita tinggal ikut…
DERR…, ikut…
DERR…, ikuuuuut…, ikuuuut…, ikuuuuutt…………………
Karena DERR itu memang adalah TUNTUNAN…
DERR itu adalah ISTI’ANAH.
Kita kan sering menyebut dalam shalat:
Iyya KA na’budu, kepada MU kami menyembah dan mengabdi.
Iyya KA nasta’in, kepada MU kami minta TUNTUNAN.
Akan tetapi selama ini saat kita menyebut KA, arah kesadaran kita kan belum tepat.
MU kita selama ini adalah PIKIRAN kita.
Makanya yang menuntun kita adalah PIKIRAN kita…
Makanya hasilnya KACAU BALAU…, KACAU SEKALI…
Padahal kita tinggal:
Laa ilaaha…, diam, hening, langgeng, senyap, abadi, kosong…, WUQUF…
Illaa Allah…, Ooo… Ada Allah ya…; Hhooohh… Ada Allah…
ADA ALLAH…
Ya, Ada Allah…!. Kalau tidak percaya mari kita buktikan…
Dalam artikel 15/19 sampai dengan artikel 18/19 ini masih tergolong
pada OLAH ILMU (olah pikiran dan olah emosi). Tapi disini sudah bukan
hanya sekedar olah ilmu semata, tapi sudah masuk kepada olah ilmu yang
dibarengi dengan olah aktifitas. Sedangkan di artikel 19/19 sebenarnya
sangat berbeda. Prosesnya kita lakukan dulu, lalu muncul keadaan atau
suasananya, dan kemudian barulah kita bercerita tentang suasana dan
keadaan yang kita alami itu….
Kalau diceritakan seperti diatas mungkin terlihat agak sulit. Tapi
dengan cara yang sangat sederhana berikut ini bisa lebih mudah.
Cobalah…, walau hanya sejenak…
• Anda duduklah atau bisa juga berdiri dengan rileks. Tapi sebaiknya duduklah dikursi …
• Tutuplah mata anda sejenak agar pandangan anda tidak terhenti
dibenda-benda (nanti-nantinya mata itu anda sudah tidak perlu lagi
ditutup).
• Sebutlah sebuah nama…, bisa nama apa saja…
• Lalu amatilah pikiran anda yang terhubung dengan nama tersebut…
• Sebutlah sebuah nama, misalnya MONAS…
• Bagi anda yang sudah pernah melihat tugu monas, maka pikiran anda akan
otomatis bergerak kesebuah bentuk tugu yang terletak dijantung kota
Jakarta.
• Pikiran anda akan terhenti di bentuk tugu tersebut.
• Ulanglah menyebut nama monas itu berkali-kali…
• Monas…, monas…, monas…
• Dan secara otomatis anda tidak akan mampu terlepas dari bentuk tugu tersebut.
• Anda akan melupakan apapun yang lain selain dari bentuk tugu monas tersebut.
• Saat itu dzikir anda tentang tugu monas adalah sangat tepat.
• Bacaan anda, pikiran anda, kesadaran anda, dan rasa anda saat itu sejalan dan seirama.
• Mungkin sesekali masih muncul rasa kagum anda terhadap keindahan tugu itu.
• Tapi lama kelamaan tidak ada rasa apa-apa lagi saat anda menyebut nama monas itu.
• Anda boleh lanjutkan dengan menyebut beberapa nama lainnya secara berulang-ulang.
• Misalnya nama orang, nama tokoh, nama publik figure, nama pemuka agama, dsb…
• Sebutlah nama Ariel Peterpan…
• Anda amatilah kemana arah pikiran dan kesadaran anda saat anda menyebut nama itu.
• Bagi anda yang didalam otaknya nama Ariel Peterpan itu hanyalah
seorang penyanyi, maka anda akan terhenti dipikiran anda tentang
bagaimana gaya dan kata-kata si Ariel Peterpan tersebut dalam bernyanyi.
• Sebentuk rasa senang juga bisa muncul didada anda saat anda menyebut nama itu.
• Akan tetapi bagi anda yang telah melihat video mesum orang yang
“mirip” dia dengan orang yang “mirip” temannya, maka pikiran dan
kesadaran anda seketika itu juga akan terhenti di video mesum itu. Anda
akan tidak ingat dan sadar lagi dengan lagu-lagunya yang dulu mungkin
anda sukai. Bahkan rasa birahi anda akan muncul saat itu juga.
• Setiap nama Ariel Peterpan anda sebut, maka pikiran, kesadaran, dan
rasa anda akan berhenti di file memori anda tentang atribut si Ariel
Peterpan tersebut.
• Artinya dzikir anda saat itu sangat tepat.
• Saat anda menyebut nama si Ariel, maka bacaan, sadar, ingat, dan rasa anda tentang dia sangat seirama dan sejalan.
• Sekarang mari kita sebut nama-nama yang sangat kita muliakan dalam hidup kita.
• Misalnya panggillah Ibu…
• Dengan seketika pikiran anda akan terbang menuju sesosok wanita yang sangat anda hormati.
• Bagi anda yang sudah lama tidak berjumpa dengan Beliau, ada muncul
sebentuk rasa rindu, rasa sayang, rasa hormat yang menggumpal didalam
dada anda.
• Untuk sesaat anda akan berada dalam suasana dimana ucapan anda,
pikiran atau rasa ingat anda, dan rasa anda berada dalam keadaan yang
sangat sinkron. Sebuah suasana dzikir yang tepat.
• Begitu juga ketika anda menyebut nama yang sangat anda agungkan dan sangat-sangat anda muliakan. Yaitu Tuhan…
• Panggillah…, Tuhan…, Allah…, God…
• Lalu amatilah kemana arah pikiran dan arah kesadaran anda beranjak.
• Amati pulalah bagaimana rasa anda berubah saat menyebut nama Allah itu.
• Kalau saat menyebut Allah, Tuhan, God, itu kesadaran anda segera
terhenti di bentuk, gambar, patung Yesus, maka anda adalah seorang yang
beragama kristen. Walau ditambah dengan berbagai irama lagu yang sangat
syahdu sekalipun, kesadaran dan arah pikir anda tetap saja akan terhenti
hanya sampai di bentuk gambar atau patung Yesus tersebut. Dan
rasanyapun akan ada. Saat itu ucapan anda, arah pikiran anda, arah
kesadaran anda, dan rasa anda sejalan dan seirama terhadap segala
atribut Yesus dan kekristenan lainnya yang telah anda ketahui
sebelumnya.
• Bentuk ucapan, arah pikiran, arah kesadaran, dan rasa ini pulalah
yang akan membedakan apakah anda itu seorang beragama Hindu, Budha,
Konghucu, atau bentuk-bentuk aliran kepercayaan lainnya.
• Kalau kita umat islam saat menyebut nama Allah, kesadaran dan arah
pikirannya juga terhenti pada Huruf Arab ALLAH, maka hakekatnya saat itu
dzikir kita juga hanya berhenti sampai di Huruf Arab tersebut. Diolah
bagaimanapun emosi dan pikiran kita, maka kita hanya akan tetap terhenti
di Huruf Allah dalam bahasa arab tersebut.
Bersambung
Deka
• Sekarang mari kita lanjutkan eksplorasi kesadaran dan arah pikiran kita…
• Peganglah dada anda dengan kedua telapak tangan, dan rasakan bahwa
kesadaran anda saat itu otomatis beralih kedada. Secara mengejutkan
seketika itu anda buat sejenak sudah keluar dari ruang otak anda. Anda
sudah keluar dari ruang pikiran anda yang sebelumnya begitu liar. Ini
namanya anda baru saja masuk keruangan dimana anda tanpa perlu berfikir
lagi. Anda duduk diwilayah dimana anda siap untuk merasakan.
• Kesadaran anda sekarang berada didalam dada anda.
• Mulai sekarang anda akan berlatih bagaimana caranya menjadi seorang
pengamat. Pengamat tapi bukan dengan mata, tapi pengamat dengan memakai
alam rasa. Bukan alam fikiran lagi.
• Ya…, anda hanya dan hanya menjadi seorang pengamat. IQRAA…
• Iqraa…, amati dan rasakanlah…
• Untuk menjadi seorang pengamat, anda tidak perlu berfikir sedikitpun.
• Amati dan rasakan sajalah…, sehingga tidak ada lagi PIKIRAN yang bisa membetot kesadaran anda.
• Amati dan rasakanlah nafas anda sejenak.
• Otomatis anda tidak ingat lagi kepada yang lain.
• Amatilah keluar masuknya nafas itu untuk beberapa saat.
• Rasakanlah sejenak keluar masuknya nafas anda itu.
• Cobalah amati dan rasakan dengan seksama…
• Bahwa anda ternyata tidak bisa membuat nafas.
• Nafas anda keluar dan masuk dengan sendirinya.
• Anda ternyata tidak berbuat apa-apa untuk bernafas itu.
• Nafas itu seperti “ada” yang menggerakkannya.
• Seperti “ada” yang memegang nafas itu.
• Sehingga nafas itu bisa keluar…, masuk… dengan teratur.
• Amatilah “ada” itu untuk beberapa saat…
• Cobalah anda TAHAN pergerakan nafas anda itu buat sejenak.
• Amati dan rasakanlah bahwa pada waktunya anda akan DIPAKSA agar anda kembali bernafas
• “Ada” itu akan memaksa anda untuk bernafas kembali.
• Amati dan rasakanlah bagaimana akibatnya kalau anda TETAP menahan nafas itu.
• Sekarang amati dan rasakanlah dada anda.
• Disitu juga ada rasa.
• Kadang ada rasa sukacita, dan kadang ada rasa dukacita.
• Ada juga rasa susah dan ada pula rasa senang.
• Ada rasa cinta dan ada rasa benci.
• Ada rasa damai dan ada rasa takut.
• Dada kita seperti tempat terjadinya berbagai suasana panggung sandiwara belaka.
• Dada kita seperti tempat terjadinya silih berganti episode dunia permainan saja.
• Kita selama ini seperti ikut saja setiap episode dunia sandiwara dan permainan itu.
• Amatilah dan rasakanlah dengan telaten…
• Bahwa ternyata anda juga tidak bisa membuat rasa-rasa itu.
• Rasa sukacita atau rasa dukacita itu seperti ditarok kedalam dada anda.
• Tiba-tiba anda bisa merasa senang, dan lain kali anda merasa susah.
• Anda tidak bisa menciptakan rasa senang dan susah itu.
• Rasa itu seperti dipersilih dipergantikan untuk menempel didada anda.
• Ya…, rasa itu seperti “ada” yang menempelkannya kedalam dada anda.
• Rasa itu seperti “ada” yang memeganginya didada anda.
• Amatilah “ada” itu untuk beberapa saat…
• Sekarang amati dan rasakanlah pikiran dan tahu anda dengan seksama…
• Pikiran dan tahu anda tentang apapun juga seperti “ada” yang meletakkannya kedalam otak anda.
• Pikiran dan tahu itu seperti “ada” yang menempelkannya kedalam otak anda.
• Sehingga anda merasa bisa berfikir.
• Sehingga anda merasa tahu…
• Amatilah dan rasakanlah…
• Bukankah anda sebenarnya tidak bisa membuat pikiran?.
• Bukankah anda tidak bisa pula membuat tahu?.
• Ya…, anda sebenarnya tidak bisa menciptakan pikiran dan tahu.
• Saat ada benih pikiran yang ditarok kedalam otak anda, maka anda dinamakan si berfikir.
• Lalu anda akan ikut pergerakan perkembangan benih pikiran itu.
• Saat ada benih tahu ditempelkan diotak anda, maka anda disebut si tahu.
• Lalu anda akan ikut pergerakan perkembangan benih tahu itu.
• Tapi saat tidak ada pikiran yang ditarok kedalam otak anda, maka anda dinamakan si tidak tahu.
• Lalu anda akan selalu ikut perkembangan benih tidak tahu itu.
• Anda akan hidup dialam ketidaktahuan…
• Saat tidak ada tahu yang diletakkan kedalam otak anda, maka anda dinamakan si bodoh.
• Lalu anda akan terbawa terus oleh perkembangan benih kebodohan itu.
• Anda akan hidup dialam kebodohan….
• Nah…, amati dan rasakanlah….
• Fikiran dan tahu itu seperti “ada” yang menaroknya kedalam otak anda.
• Amati dan rasakanlah “ada” itu untuk beberapa saat…
• Tahap selanjutnya cobalah amati dan rasakan RASA INGIN yang ada didalam dada anda.
• Anda sebenarnya tidak bisa membuat rasa ingin.
• Rasa ingin itu sesungguhnya hanya seperti diletakkan didalam dada anda.
• “Ada” yang meletakkan rasa ingin itu didalam dada anda.
• Sehingga tiba-tiba anda seperti ingin akan sesuatu.
• Lalu anda seperti “ada” yang maksa agar anda segera memenuhi rasa ingin itu.
• Kalau rasa ingin itu tidak diletakkan kedalam dada anda,
• Maka anda tidak akan pernah ingin akan sesuatu itu.
• Lalu seperti “ada” yang memaksa anda agar anda tetap tidak ingin untuk beberapa waktu.
• Lalu anda disebut sebagai si tidak ingin.
• Amati dan rasakanlah “Ada” itu buat sesaat
• Begitu juga dengan rasa ingat.
• Anda sebenarnya tidak bisa menciptakan rasa ingat itu.
• Rasa ingat itu juga sesungguhnya “Ada” yang meletakkannya didalam otak anda dan didalam dada anda.
• Kalau ingat itu ditarok oleh “sang Ada” didalam otak anda, maka itu namanya anda ingat akan bentuk dan rupa.
• Tapi kalau ingat itu ditarok oleh “Sang Ada” didalam dada anda, maka
itu namanya anda punya rasa ingat kepada Yang Hakiki. Rasa ingat
terhadap sesuatu yang tidak ada bentuk dan rupa. Rasa ingat dalam
kesadaran.
• Kalau tidak ada rasa ingat itu ditarok di dalam otak anda, maka anda dinamai si lupa.
• Kalau tidak ada rasa ingat itu ditarok di dalam dada anda, maka anda dinamai si tidak sadar.
• Lalu anda akan dipaksa agar tetap berada dialam lupa dan alam ketidaksadaran itu.
• Anda akan dipaksa untuk berjalan dalam hidup anda didunia lupa dan dunia tidak sadar itu.
• Sejenak amati dan rasakanlah “Ada” itu dengan seksama…
Sampai disini, semua orang sebenarnya masih sama. Yaitu menjadi
seorang pengamat dan perasa atas diri anda, atas nafas anda, atas rasa
anda, atas pikiran anda, dan atas tahu anda. Bahkan anda sudah bisa pula
mengamati seperti “ada” yang menarok, mengalirkan, menempelkan,
menggerakkan semua itu melewati anda. Ya…., “ADA”. Siapa saja yang mau
melakukan pengamatan seperti ini, maka kualitas kesadarannya akan sama
tingkatan kesadarannya.
Untuk mencapai keadaan seperti ini sebenarnya masih banyak cara yang
lain. Misalnya didalam dunia sufi, dzikir sambil berputar-putar akan
membuat kita merasakan jiwa kita seperti melambung tinggi keangkasa
lepas. Dzikir seperti ini terkenal sebagai dzikir “Jalaludin Rummi”.
Pada awalnya kita bisa terjatuh dan berguling-guling, tapi saat otak
kita sudah bisa menerima keadaan tubuh yang berputar-putar itu, maka
pergerakan kita akan seirama dengan musik yang mengiringi kita saat
menari berputar-putar itu. Ada sensasi dimana kita sudah tidak
terpengaruh lagi oleh perputaran tubuh kita yang bergerak seperti gasing
itu. Ditahun 2001 kami bersama-sama beberapa teman patrapis juga pernah
merasakannya. Kami melakukannya di taman pramuka Cibubur. Tapi hanya
beberapa kali saja. Setelah tahu dan mengalaminya ya sudah…
Atau ada cara lain yang sangat kasar untuk masuk kedalam keadaan ini,
yaitu melalui alam PENDERITAAN dan KEPEDIHAN. Dipuncak penderitaan dan
kepedihan anda, saat anda tidak bisa apa-apa lagi, saat anda tidak punya
tempat bergantung lagi, saat anda sudah tidak ada harapan lagi, saat
itu akan ada yang sadar dan hidup. Ada kesadaran anda yang murni muncul.
Diri anda yang hakiki akan mengeliat. Hal ini persis seperti yang
dialami oleh FIR’AUN ketika dia mau tenggelam. Akhirnya Dia berkata:
“Aku percaya kepada Tuhannya Musa dan Harun…”. Tapi kan sayang sekali
kalau kita ikut contoh FIR’AUN ini. Karena ternyata ada cara lain yang
lebih sederhana dan mencengangkan. Cara yang bukan melalui alam
penderitaan dan kepedihan.
Hasil sementara yang sangat menakjubkan dari proses IQRAA ini adalah
bahwa sekarang anda menjadi seperti terpisah dengan diri anda. Anda
terpisah dengan nafas anda. Anda terlepas dengan rasa anda. Anda
terputus dengan pikiran anda dan dengan tahu anda. Anda semata-mata
hanyalah seorang pengamat dan perasa atas semua itu. Anda berada diatas
kesemuanya itu. Anda bahkan mulai bisa pula menyadari akan “ADA” yang
sedang beraktifitas pada pikiran, tahu, rasa, dan nafas anda. Anda
berada dalam Posisi Bashirah… yang merupakan realitas keadaan dari surat
Al Qiyamah ayat 14
Balil insanu ‘ala nafsihi Bashirah…, bahkan pada manusia itu, diatas dirinya ada yang tahu (bashirah). (al Qiyamah 14).
Bersambung
Deka
Pembeda yang Tegas
Yang membedakan kualitas manusia satu dengan yang lainnya sebenarnya
sederhana sekali. Yaitu: yang pertama, apakah anda mampu atau tidak
untuk menyadari siapa diri anda yang sejati; dan yang kedua, apakah anda
berhasil pula atau tidak untuk melakukan langkah-langkah pengembalian
dan langkah-langkah mengikatkan diri kepada alamat bergantung yang
tepat. Karena dua hal inilah yang akan menentukan langkah anda
berikutnya didalam hidup anda.
Dengan anda ketahui dua pokok utama kesadaran seperti diatas, bahwa
anda tahu siapa diri anda yang sejati, dan anda tahu pula alamat
pengembalian atas segala atribut yang ada miliki, serta anda paham
tempat bergantung dan mengikatkan diri anda selama hidup anda, maka
selanjutnya anda akan tahu apa tugas-tugas dan misi anda sehingga anda
diturunkan kemuka bumi ini. Anda akan tahu kenapa anda harus ada dimuka
bumi ini.
Boleh jadi dengan berbagai sebab seperti yang telah diterangkan
diatas, anda telah berhasil menyadari diri anda sebagai sang BASHIRAH.
Namun beda anda satu dengan yang lainnya adalah, apakah setelah anda
menyadari bahwa anda sejatinya adalah Bashirah, sang pengamat dan sang
perasa, anda kemudian kembali menjadi seorang yang tercover (KAFIR),
atheis, atau kristen, budha, hindu, atau apakah anda kemudian berhasil
bermetamorfosis sempurna menjadi seorang mukmin yang tidak hanya patuh
kepada hukum-hukum Allah tetapi juga yang beriman dan berihsan.
Untuk memahami diri anda saat ini, amatilah dan rasakanlah langkah langkah-langkah berikut ini:
• Saat anda kembali mengaku bahwa “ada” itu adalah diri anda sendiri,
maka jadilah anda kembali menjadi seorang yang tercover (kafir) dari
“ada” yang hakiki. Maka anda akan mengakui bahwa semua itu adalah milik
anda.
Anda akan mengaku bahwa yang bernafas adalah anda.
Anda akan mengaku bahwa yang merasa adalah anda.
Yang sedih adalah anda.
Yang gembira adalah anda.
Yang susah adalah anda.
Yang senang adalah anda.
Yang sukacita adalah anda.
Yang dukacita adalah anda.
Semua itu tadi anda akui sebagai milik anda.
Lalu akhirnya anda akan mengaku bahwa rasa itu adalah anda sendiri.
Sehingga anda tidak akan pernah sadar bahwa anda telah menjadi orang
yang selalu dipermainkan oleh rasa-rasa itu sepanjang masa. Karena
memang anda telah menjadi rasa itu sendiri. Inilah bentuk siksa neraka
atau nikmat syurga yang ada di dunia saat ini. Anda akan merasa ikut
terbolak-balik dibuai oleh rasa itu.
Saat tercover…
Anda juga akan mengaku bahwa yang berfikir dan tahu itu adalah anda sendiri.
Dan anda akan berubah jadi pikiran dan tahu anda itu.
Anda akan mengaku bahwa yang hebat dan yang tahu adalah anda.
Yang cerdas dan yang tahu adalah anda.
Yang ahli dan yang tahu itu adalah anda.
Yang ingin adalah anda.
Yang ingat adalah anda.
Sehingga andapun akan merasa bahwa anda adalah pikiran dan tahu anda itu sendiri.
Anda akan merasa bahwa anda adalah rasa ingin dan rasa ingat anda itu sendiri.
Anda akan menjadi orang yang merasa sangat hebat.
Anda merasa sangat hebat, tapi hanya sebatas sehebat pikiran dan tahu anda itu saja.
Diwilayah pengakuan ini sangat ramai sekali dengan berbagai pikiran dan persepsi.
Karena setiap orang akan bisa mengaku bahwa dia hebat dan tahu.
Setiap orang akan bisa mengaku lebih hebat dan lebih tahu dari yang lain.
Setiap orang akan bisa mengaku bahwa dialah yang paling hebat dan yang paling tahu.
Ramai sekali…, riuh rendah sekali…,
Dan tentu saja melelahkan.
• Inilah keadaan yang terjadi saat anda mengakui “ada” itu adalah anda, yang sebenarnya bukan hak anda untuk mengakuinya.
• Selanjutnya, boleh jadi anda sudah tidak tercover lagi dengan diri
anda seperti diatas. Anda sudah bisa terlepas atau copot dari alam rasa
dan alam pikiran anda sendiri. Itu terjadi baik melalui PERUBAHAN
KESADARAN yang DISENGAJA (dengan berserah diri) atau melalui PERUBAHAN
KESADARAN karena dipaksa oleh sebuah PENDERITAAN dan KEPEDIHAN PEKAT
yang menjambangi anda (hal ini akan dibahas dibagian terpisah).
Bagaimanapun caranya…, yang penting adalah anda sudah berubah dan
bermetamorfosis menjadi semata-mata sebagai pengamat atas pikiran, atas
rasa, atas tahu, atas ingin, dan atas ingat anda. Sampai disini
sebenarnya anda sudah mendapatkan pencapaian yang sangat bagus.
Namun…, masalah utama yang muncul adalah saat anda hendak
mengembalikan dan menghentikan kesadaran itu kesuatu alamat yang anda
sangat hormati. Anda ingin menghentikan dan mengembalikan kesadaran
tentang rasa, pikiran, tahu, ingin, dan tahu itu kepada sesuatu yang
sangat anda agungkan, pada arah dan alamat tertentu. Bahwa anda akhirnya
sadar bahwa ternyata nafas dan rasa itu “ada” yang meletakkannya didada
anda. Bahwa fikiran dan tahu itu “ada” yang menaroknya diotak anda.
Lalu “Ada” itu siapa dan dimana…?
• Kalau anda kembali berhenti dikesadaran bahwa semua itu hanyalah
peristiwa alamiah biasa saja, maka anda akan menjadi orang yang atheis.
Anda tidak akan pernah mampu untuk masuk kewilayah agama-agama yang ada.
Sehingga anda tidak akan pernah mau melakukan ritual-ritual sesuai
dengan ritual salah satu agama-agama yang ada saat ini.
• Saat anda kembali berhenti dikesadaran bahwa semua itu adalah
karena “ada” Tuhan… Bahwa “ada” itu adalah Tuhan. Bahwa “ada” itu adalah
Allah, maka anda telah masuk kewilayah agama-agama yang ada didunia
ini. Semua orang beragama pastilah mengenal istilah Tuhan, Allah, God,
atau istilah-istilah lainnya yang melambangkan sesuatu yang sangat
diagungkan dan dihormati oleh para penganut agama tertentu. Sampai
disini, semua agama masih bisa disebut sama saja sebenarnya. Bahwa para
penganutnya mengakui bahwa “ada” Wujud yang mendominasi diri mereka
disetiap saat.
Kalau anda berhenti disini saja, maka anda akan menjadi seorang
PLURALIS tulen dalam urusan iman anda. Bahwa anda akan menyamaratakan
iman semua agama dan kepercayaan yang ada diseantoro dunia ini. Anda
akan berfikiran bahwa semua agama adalah sama baik dan sama benarnya
belaka. Anda hanya akan menyimpulkan bahwa semua agama akan mengajak
penganutnya kepada perbuatan baik. Mengajak para penganutnya kepada
kebaikan buat sesama dan kepada alam semesta. Hanya cara dan ibadahnya
saja yang berbeda-beda. Tapi tujuannya sama saja, yaitu ingin beribadah
kepada Tuhan. Pluralis sekali anda dalam masalah iman dan ibadah.
Apalagi saat anda menyebut nama Tuhan, menyebut nama Allah itu, anda
hanya merasa biasa-biasa saja. Anda akan semakin tidak bisa membedakan
hakikat agama-agama yang ada didunia ini. Anda akan menjadi seorang yang
berfikiran pluralisme tulen dibidang iman dan ibadah agama-agama…
Catatan: Pluralis dalam hubungan sesama manusia adalah sebuah
keniscayaan saja. Bhinneka Tunggal Ika adalah sebuah keharusan belaka
dalam bernegara dan berbangsa…
Bagi anda yang tidak ingin berhenti dikesadaran pluralisme dalam hal
iman dan ibadah ini, mari lanjutkan perjalanan anda. Saya sarankan anda
jangan berhenti dulu disini. Teruslah berjalan buat sejenak, karena anda
hampir menemukan jawaban yang anda cari-cari selama ini.
Bersambung
Deka
Menjelang Penentuan…
Sekarang amatilah tempat berhentinya kesadaran anda saat anda
menyebut nama Tuhan. Amatilah arah kesadaran anda saat anda menyebut
nama Allah:
Ya Allah…, ya Allah…, ya Allah
Amatilah…, saat itu kesadaran anda terbawa pergi kemana.
Panggillah ya Tuhan…, ya Tuhan…, ya Tuhan
Amatilah…, saat itu kesadaran anda terhenti dimana…
Panggillah ya Ilahi…, ya Ilahi…, ya Ilahi…
Amatilah…, saat itu kesadaran ada terhenti pada wujud apa…
Kalau jawabannya:
• Bahwa saat itu kesadaran anda bergerak dan kemudian kembali terhenti
ke gambar atau patung Yesus dengan berbagai ekspresi wajah, atau ke
rosario, atau ke salib, atau ke patung bunda maria, dan atribut-atribut
kekristenan lainnya, maka anda akan menjadi seorang yang beragama
Kristen. Betapapun teguh dan kerasnya anda mengucapkan kata Allah atau
Tuhan itu, maka KESADARAN anda akan tetap TERHENTI disemua gambar,
patung, dan benda-benda itu. Semua pencapaian kesadaran, iman, pikiran,
rasa, dan ritual anda akan tetap terhenti kembali di keatributan YESUS.
Dzikir anda hanya terhenti sampai di gambar Yesus. Anda pasti akan
mengatakan bahwa hanya agama kristen lah yang terbaik dan terbenar.
• Kalau saat itu kesadaran anda bergerak dan kemudian terhenti di
patung-patung atau gambar-gambar makhluk dengan berbagai wajah yang
menakutkan, maka boleh jadi saat itu anda sedang menjadi seorang
beragama Hindu. Anda akan berpikiran bahwa hanya agama Hindu lah yang
terbaik dan terbenar.
• Begitu juga kalau saat itu kesadaran anda kemudian berhenti
dipatung Budha, maka saat itu anda sebenarnya adalah menjadi penganut
agama Budha. Anda akan menyatakan bahwa agama Budha lah yang terbaik dan
terbenar.
• Berhentinya kesadaran anda diberbagai tempat perhentian kesadararan
lainnya juga bisa terjadi. Misalnya kesadaran anda terhenti digambar
dewa-dewi, atau digambar corat-moret dengan berbagai bentuk, atau
digambar orang-orang yang penuh dengan penderitaan, atau digambar-gambar
cakra, atau dibentuk-bentuk artificial lainnya.
• Bahkan bagi umat islam, huruf Allah dalam bahasa arab atau Ka’bah
sekalipun bisa menjadi penghalang dzikir kita kepada Dzat-Nya, Sang
Pemilik Nama, Sang Pemilik Ka’bah. Kalau pikiran, kesadaran, dan
pandangan kita terhenti dihuruf Allah atau bentuk Ka’bah itu, dampaknya
akan sama saja.
• Semua keadaan tadi sebenarnya serupa dan sebangun. Bahwa saat itu
pikiran anda, kesadaran anda, tahu anda, dan rasa anda, anda kembalikan,
anda tautkan kepada sesuatu yang punya bentuk dan rupa. Walau dalam
pengakuan anda, seringkali anda menyangkalnya, bahwa anda bukan
menyembah benda-benda itu, namun pada hakekatnya anda tidak dapat
berkilah sedikitpun bahwa pada hakekatnya pikiran, kesadaran, rasa, dan
tahu anda berhenti dan berlabuh di benda-benda itu dalam setiap
aktifitas anda. Dzikir anda utuh kepada bentuk-bentuk dan rupa-rupa itu.
Dan disitu pulalah semua kebaikan dan kebenaran anda berlabuh.
Akibatnya anda akan dibuat sibuk untuk bercerita, untuk membahas,
untuk berpolemik, untuk saling rebutan, untuk saling membantah, saling
menghujat, saling meyakinkan tentang bentuk-bentuk dan rupa-rupa itu.
Ramai sekali…, karena memang saat itu anda sedang berada diwilayah
keramaian dan wilayah keriuhrendahan…
Apakah anda mau berhenti disini?…
Bersambung
Deka
Akhir Perjalanan…
• Sekarang cobalah anda amati kembali nafas anda untuk beberapa kali tarikan nafas.
• Sampai kemudian anda kembali menyadari bahwa:
• “ADA” yang menggerakkan nafas itu keluar dan masuk paru-paru anda.
• Anda sebenarnya hanya diam…
• Anda tidak bisa membuat nafas.
• Amatilah rasa didalam dada anda buat beberapa saat.
• Sampai kemudian anda kembali menyadari bahwa:
• “ADA” yang menarok rasa sukacita maupun dukacita didalam dada anda.
• Anda sebenarnya hanya diam…
• Anda tidak bisa membuat rasa.
• Amatilah pikiran dan tahu anda buat beberapa waktu.
• Sampai kemudian anda menyadari bahwa:
• “ADA” yang menarok pikiran dan tahu kedalam otak anda.
• “ADA” yang meletakkan rasa ingin kedalam dada anda
• “ADA” yang menarok rasa ingat kedalam dada anda.
• Anda sebenarnya hanya diam…
• Anda tidak bisa membuat pikiran dan tahu itu.
• Anda tidak bisa membuat rasa ingin dan rasa ingat itu.
• Amatilah “ADA” itu buat sejenak.
• Ada itu bukan nafasmu.
• Ada itu bukan rasamu.
• Ada itu bukan pikiranmu.
• Ada itu bukan tahumu.
• Ada itu bukan rasa inginmu.
• Ada itu bukan rasa ingatmu.
• Tapi ADA…
• ADA yang menggerakkan nafasmu…
• ADA yang menarok rasamu.
• ADA yang menarok pikiranmu.
• ADA yang menarok tahumu.
• ADA yang menarok rasa inginmu.
• ADA yang menarok rasa ingatmu.
• Sekarang dongakkan kepalamu kelangit.
• Tutup sajalah mata anda untuk beberapa saat.
• Dagumu tengadahkan keatas.
• Dadamu dibusungkan sehingga dadamu pun seperti lebih lapang dan luas.
• Buanglah nafasmu agak panjang keatas, kearah langit…
• Hhaaaahhhhh…
• Ulangilah beberapa kali sampai anda menyadari bahwa nafas anda itu ternyata bisa menenuhi ruang angkasa.
• Hhhaaahhhh…, hhhaaahhh…, haahhhhh….
• Sekarang….
• Seiring dengan keluarnya nafas anda, panggilah sebuah nama yang sangat mengetarkan…,
• Panggilah dengan agak panjang…, panggillah dengan lembut…
• Panggillah…
• Jangan ragu-ragu..
• Panggillah… ya Allaaaaaaaaah…
• Lembut sekali…
• Ya Allaaaaaaaah…, Ya Allaaaaaaah…, Ya Allaaaaaah…!.
• Lembut sekali…
• Panggillah nama Allah seperti itu untuk beberapa kali dengan sungguh-sungguh.
• Pasti anda sedang mengalami suasana direspon dan dijawab oleh Allah…
• Jangan takut…
• Angkatlah tangan anda seperti sedang berdo’a..
• Angkatlah lebih tinggi lagi, dan lebih tinggi lagi dengan perlahan.
• Hantarkan dengan niat anda bahwa “ADA” itu adalah milik Allah.
• Sampaikanlah:
• Semua ini adalah milik-Mu ya Allah…
• “ADA” ini adalah milik-Mu…
• Panggillah… ya Allaaaaaaaaah…
• Ya Allaaaaaaaah…, Ya Allaaaaaaah…, Ya Allaaaaaah…!.
• Ya Allaaaah, ya Rahmaan…., Ya Allaaaaaah…, Ya Rahmaaaan…
• Ikuti saja apa yang anda dapatkan saat itu, jangan anda lawan sedikitpun.
• Tetaplah panggil Ya Allaaaahhh, ya Rahmaan…., Ya Allaaaaaah…, Ya Rahmaaaan…
• Ikuti saja apa yang anda dapatkan saat itu, jangan anda lawan sedikitpun.
• Ikuti saja…
• Ikuti…
• Karena anda akan bertemu dengan suasana demi suasana…
• Anda akan masuk kedalam keadaan demi keadaan…
• -
• -
• -
• -
Hasil Yang Mencengangkan..
Pada saatnya…, dengan sangat pasti kesadaran anda hanya akan tertuju kepada Allah…
Kesadaran anda akan ditarik…, DERR
Kesadaran anda akan dituntun…, DERR
DERR…, anda akan disadarkan akan Sang Maha Tinggi.
DERR…, anda akan dituntun menuju Sang Tanpa Batas.
DERR…, anda akan ditarik kearah Sang Maha Besar.
“ADA” Sang Tanpa Batas…
“ADA” Sang Maha Meliputi…
Tidak ada rupa dan bentuk lagi yang akan menghentikan gerak kesadaran anda..
Tidak ada kata dan aksara lagi yang akan menghalangi gerak kesadaran anda…
Tidak ada nada dan irama lagi yang akan menghentikan gerak kesadaran anda…
Saat anda menyebut dan memangil nama Allah…
Maka kesadaran anda jadi utuh tanpa halangan…
Pikiran anda akan diam tak bergeming…
Anda akan sadar dengan penuh kepada Allah…
Anda akan bertemu dengan separuh lainnya dari kalimat syahadat…
Illa Allah…., Illa Allah…, illa Allah…
Sehingga syahadat andapun menjadi lengkap:
Laa ilaha illa Allah…, laa ilaha illallah…, laa ilaha illallah…
Karena memang anda sudah tidak punya siapa-siapa lagi, kecuali hanya Allah…
Anda tidak akan mau lagi menghentikan pikiran dan kesadaran anda dibenda-benda…
Saat menyebut nama Allah…, pikiran anda, kesadaran anda, tahu anda, rasa
anda, ingin anda akan bermuara kepada Allah…, dzikir anda adalah kepada
Allah…
Maka anda akan dipahamkan tentang sesuatu yang sudah ratusan tahun DILUPAKAN oleh umat manusia:
Oooh…, Ada Wujud Yang Maha Meliputi Segala Sesuatu.
Ohh…, Ada Dzat Yang Maha Meliputi Segala Sesuatu.
Huu…, Ada Sang MUHIITHUN…
“Innahu bikullisyai in muhiithun…”
Sehingga:
DERR…, Dzikir anda menjadi dzikir yang hidup.
DERR…, Dzikir anda menjadi dzikir yang utuh.
DERR…, Shalat anda menjadi shalat yang utuh.
DERR…, Aktifitas anda juga akan menjadi aktifitas yang utuh.
Aktifitas seorang hamba dihadapan Allah…
DERR…, Anda akan diberi TAHU oleh Allah.
Tentang apa-apa yang tidak anda ketahui…
Tentang apa-apa yang harus anda lakukan…
Sehingga tahu itu akan menjadi petamu dalam perjalananmu…
Tahu itu akan menjadi makrifatmu…
DERR…, Anda akan diberi RASA INGIN oleh Allah,
Sebagai tanda bahwa DIA mengizinkanmu untuk mewakili-Nya…
Bahwa DIA mempersilahkanmu untuk beraktifitas dalam hidupmu…
Anda akan diberi DAYA oleh Allah…, DERR…, DERR…, DERR…
Agar anda bisa menjalankan rasa ingin itu…
Agar anda bisa merealisasikan rasa ingin itu…
Semua itu anda lakukan hanya dengan “menumpang” pada daya itu…
Anda seperti “mengapung” bersama daya itu….
Daya itu akan membuat anda tidak capek dan tidak lelah…
Daya itu akan membuat anda tidak takut dan tidak khawatir…
Daya itu penuh muatan Kesukacitaan…
Namun…
Kadangkala daya itu juga mengantarkan anda menuju kesulitan hidup…
Kadang daya itu juga menumpangkan anda menuju penderitaan hidup…
Kadangkala daya itu juga mengapungkan anda menuju kesusahan hidup…
Akan tetapi….
Anda seperti terpisah dengan kesulitan, penderitaan, dan kesusahan itu.
Kesulitan, penderitaan, dam kesusahan itu tetap terjadi pada diri anda…
Anda seperti disiapkan untuk bisa menghadapi kesemuanya itu.
Anda dibuat siap…
Dalam kesulitan itu anehnya tidak ada kedukacitaan…
Dalam penderitaan itu anehnya tidak ada kepedihan…
Dalam kesusahan itu anehnya tidak ada keperihan…
Yang ada tetaplah kesukacitaan…, dan tentu saja RIDHA, IKHLAS…
Suasana tanpa protes dan tanpa penolakan…
Dan akhirnya… DERR..
Daya itu menuntun anda menuju SANG PUNYA DAYA
Sebab Daya itu berujung pada Sang Punya Daya.
Sebab Daya itu hanya sebentuk cover atas Sang Punya Daya…
Dibalik daya itulah Sang Punya Daya sedang menunggu anda…
Anda tinggal memanggil-Nya dengan santun…
Allah…, Allah…, Allah…
Andapun akan direspon oleh Allah…
DERR…, DERR…, DERR…
Lalu dalam keseharian anda akan selalu berkata:
Laa haula wala quwwata illa billah…
Anda mengakui tentang kesempurnaan ketidakberdayaan anda…
Anda akan bersaksi tentang kesempurnaan keberdayaan Allah…
Sehingga…, dari waktu ke waktu tiada lain yang bisa anda lakukan….
Dengan mengucap “Bismillahirrahmanirrahim”, Atas nama Allah, mewakili
Allah, bersama Allah…, Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang:
DERR…, Anda akan bekerja sebagai seorang hamba Allah.
DERR…, Anda akan berkarya sebagai seorang hamba Allah.
DERR…, Anda akan berbagi berkah dan rezki sebagai seorang hamba Allah.
DERR…, Anda akan memimpin sebagai seorang hamba Allah.
DERR…, Anda akan dipimpin sebagai seorang hamba Allah.
DERR…, Anda akan meneliti sebagai seorang hamba Allah.
DERR…, Anda akan belajar sebagai seorang hamba Allah.
DERR…, Anda akan mengajar dan mewejang sebagai seorang hamba Allah.
DERR…, Anda akan mengobati sebagai seorang hamba Allah.
DERR…, Anda akan menjadi suami sebagai seorang hamba Allah.
DERR…, Anda akan menjadi istri sebagai seorang hamba Allah.
DERR…, Anda akan menjadi orang tua sebagai seorang hamba Allah.
DERR…, Anda akan menjadi anak sebagai seorang hamba Allah.
DERR…, Anda akan mengasihi dan menyayangi sebagai seorang hamba Allah.
DERR…, Anda akan memarahi dan menghukumi sebagai seorang hamba Allah.
Ya…, anda semata-mata hanya seorang hamba Allah saja…, DERR
Hamba yang diliputi oleh Allah Yang Maha Meliputi…, DERR
Hamba yang panggil oleh Allah sebagai RUH-KU…, MIN RUHI…
Allahpun kemudia berkenan memanggil anda dengan Ya Ruhi…, DERR
Allahpun berkenan menyapa anda dengan Ya Ruhi…, DERR
Ya Ruhi…, Ya Ruhi…. Ya Ruhi…, DERR…
Dan andapun akan membalas sapaan itu dengan lembut.
Ya Ilahi…, Ya Ilahi…, Ya Ilahi…. DERR
Karena memang anda adalah Milik-Nya.
Sehingga andapun akan sering-sering bercengkrama dengan-Nya:
DERR…, anda akan duduk dalam ruang kesukacitaan yang tinggi…, Aflaha.
DERR…, anda akan duduk dalam ruang rukuk yang dalam…, warka’u.
DERR…, anda akan duduk dalam ruang sujud yang dalam…, wasjudu.
DERR…, akan akan duduk dalam ruang sembah yang khidmat…, wa’budu.
DERR…, anda akan duduk dalam ruang kedekatan yang amat sangat…, waqtarib.
DERR…, sesekali andapun akan dituntun-Nya untuk TIADA TOTAL.
Akhirnya anda akan menjadi orang yang SELESAI dengan Allah…
Anda akan melambaikan bendera putih kepada Allah..
Anda tidak akan pernah protes lagi kepada Allah…
Anda akan menyerah total kepada Allah…
Anda tinggal DERR…, DERR…, DERR…
Karena anda telah menjadi orang yang sudah percaya utuh kepada Allah…
Anda telah menjadi Mukminin…
Dan Allah juga sudah percaya penuh pula kepada anda..
Sebab Dia memang adalah Dzat Yang Maha Percaya, Al Mukmin…
Dengan sangat mengherankan, anda akan banyak bercerita tentang Allah…
Entah kenapa…, sedikit-sedikit anda akan berbicara tentang Allah…
Anda seakan ingin meneriakkan kepada semua orang tentang Allah…
Wahai semua, ada Allahku lho…
Wahai sahabat, ada Allahku lho…
Ada Allahku lho…
Anda akan menjadi orang yang begitu KASMARAN dengan Allah…
Secara otomatis anda juga akan banyak bercerita tentang Nabi Muhammad SAW…
Karena ilmu yang anda dapatkan saat ini adalah Warisan Beliau, dan warisan Nabi Ibrahim…
Subhanallah…., Walhamdulillah, wa Laa ilaha illallah, Wallahu Akbar…
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad…
Kama shallai ta‘ala Ibrahim wa ‘ala ali Ibrahim…
Wa barik ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad…
Kama barak ta ‘ala Ibrahim wa ‘ala ali Ibrahim…
Fil ‘alamina innaka hamiidum majiid…
Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh…
Ah…, masih adakah realitas Iman yang lebih indah dan lebih mesra dari ini…?
Entahlah…, saya sungguh tidak tahu…
Ternyata BERIMAN atau TIDAK BERIMAN kepada Allah itu sebenarnya sama mudahnya…
Mau pilih yang mana…?
Wallahu a’lam…
Selesai Artikel “Sebenarnya Sama Mudahnya”
Wassalam
Deka
Cilegon, 21 Juli 2010
Jl. Kabel No. 16.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar