Hari itu Senin, 14 November 2011 dari
sebuah ruang kelas terdengar suara riuh-rendah. Canda tawa para siswa menggema
kelas itu. Yah, itulah kelasku, X.I. Begitulah suasana kelas ketika guru yang biasanya
mengajarkan mata pelajaran Biology berhalangan hadir. Namun sebagai gantinya
kami diberikan tugas yang akan dikumpulkan pada akhir pelajaran nanti.
“ Teman-teman, kalian udah tahu kalau di
sekolah kita di buka pendaftaran DJAa loh ???” kata Siti disela-sela
kesibukannya mengerjakan tugas. Aku yang belum tahu sedikitpun tentang DJAa seraya berkomentar “ Apa itu DJAa ?” kataku balik
bertanya. Siti akhirnya menceritakan sedikit tentang DJAa.
Katanya sihh DJAa
itu Diklat Jurnalis Abu-abu yang akan dilaksanakan di Makassar, pokoknya kegiatan
yang berhubungan dengan dunia Jurnalistik lah.
Di benakku saat
itu muncul tanda tanya besar. Sebenarnya apa itu Junalis Abu-abu ?. Rasa ingin
tahu itu memuncak sehingga membuat aku tidak sabar ingin mengtahui apa yang sebenarnya.
Saat mendengar kata Abu-abu yang terpikirkan saat itu adalah rahasia (
samar-samar ). Yahh, seperti warnanya, abu-abu itu abstrak. Tidak jelas.
Sehingga pada saaat itu saya menyimpulkan bahwa Jurnalis Abu-abu itu wartawan
rahasia. Pikiranku melayang-layang di
udara,namun suara nyaring lonceng pertanda bel pulang sekolah membuyarkan
lamunanku.
Keesokan harinya, aku segera menemui
kakak kelas yang kemarin menginformasikan mengenai DJAa itu. Kak Wawan
Darmawan. Yah itulah namanya. Dia termasuk kakak kelas idola. Tinggi, Putih,
Pintar. Kurang lebih begitulah gambaran seorang Kak Wawan. Selain Kak Wawan,
ada juga Kak Taufan. Usia Kak Taufan
sedikit lebih muda dari kak Wawan.
Sesampainya di kelas XII. IPA 1, aku
langsung menemui kak Wawan dan memberitahukanperihal keinginanku untuk
mengikuti DJAa bersama teman-teman sekelasku yang lain. Nah dari penjelasan Kak
Wawan inilah aku bisa mengerti tentang apa sebenarnya Diklat Jurnalistik
Abu-abu itu (DJAa). Jauh berbeda dari pemikiranku sebelumnya. Ternyata Jurnalis
Abu-abu itu adalaha Jurnalis yang merupakan siswa SMA. Dikatakan abu-abu
mengacu pada warna rok sekolah SMA pada umumnya yaitu Abu-abu.
Satu minggu berlalu. Dan kemudian aku
mendapat informasi bahwa peminat DJAa di sekolahku ternyata bukan hanya
teman-teman sekelasku saja tetapi banyak juga dari kekas lain. 20 orang. Yah 20
orang. Angka yang cukup banyak. Namun bukannya berdampak positif tetapi jumlah
peminat yang banyak itu malah memberikan dampak negatif karena kuota maksimal untuk satu sekolah
hanyalah 3 orang. What ?? 3 orang ?! Hmm...bakal banyak yang gugurr nihh.....???
Namun bagi Kak
Wawan dan Kak Taufan peminat yang banyak itu tidak bermasalah karena mereka telah
menyiapkan 2 macam test untuk menyeleksi para peminat dari DJAa itu.
Hari itu, Kamis 15 Desember 2011.....aku
berangkat ke sekolah dengan perasaan yang biasa-biasa saja. Setelah tiba di
sekolah, ada penyampaian kalau aku mendapat panggilan dari Bu Sri Ayu, Wali
Kelasku. Aku bergegas menuju ruang Bu Ayhu. Setelah tiba disana ternyata aku
disuruh menulis Raport Siswa. Segera ku kerjakan tugas itu dengan hati-hati.
Namun di saat aku sedang asyik menulis Raport teman-temanku, pintu ruang Bu Sri
diketuk. Dan muncullah , Laras, teman sekelasku. Ia memberitahukan bahwa sekarang adalah hari dimana kita akan melaksanakan
tes seleksi peserta DJAa. Astagfirullah,,, aku lupa. Mungkin karena kegiatan
porseni yang sedang berlangsung di sekolah serta kesibukan lainnya akhirnya tes
seleksi DJAa itu terlupakan.
Bu Sri Ayu ternyata tidak meberikan izin
kepadaku untuk mengikuti seleksi itu.
“ Kerjakan dahulu baru boleh keluar”
pinta Bu Sri Ayu. Dalam hatiku ada sedikit kekecewaan but not problem aku masih
punya harapan.
Aku mengerjakan tugas dari Bu Sri Ayu
dengan secepat mungkin. Perasaanku mulai tidak tenang. Setelah setengah jam kemudian, tugas menulis Raport
itu pun selesai. Hmmm....lega juga... Aku langsung menuju kelasku secepat
mungkin. Aku berharap tes seleksi DJAa belum selesai. Selangkah sebelum
memasuki kelas aku sangat deg-degan. Akhirnya ku beranikan diriku dan
ahhh......alhamdulillah. Ka Taufan yaang melakukan seleksi itu masih berada di dalam kelas. Aku segera
menghadap ke ka Taufan dan ia segera mempersilahkan aku mengikuti tes.
Ku baca soal-soal yang ada di lembar kertas
itu sambil mengatur nafasku yang masih terengah-engah. Huhhhh...susaahhh....aku
sama sekali belum mempunyai pengetahuan tentang itu semua.
Pertanyaan-pertanyaan itu berkaitan dengan membuat artikel, membuat mading,
tekhnik fotografi yang baik, dan lain sebagainya. Ku coba menjawab dengan
sebaik-baiknya namun tetap saja sulit untuk kucerna.. Bahkan di salah satu
jawaban...aku menulis “ saya tidak tahu tapi nanti saya cari di Google. Saya
yakin Paman Google bisa membantu. Maaff yahh,,,tapi saya lebih suka sportif
daripada benar tapi itu hasil contekan.”
Setelah menjawab semua pertanyaan dengan
jawaban-jawaban unik bin aneh. Aku dengan percaya dirinya mengumpulkan lembar
jawaban itu ke Kak Taufan. Lalu menghadapi test berikutnya yaitu Wawancara. Ku
siapkan mental untuk menjawab pertanyaan itu dengan sebaik-baiknya. Setelah itu
aku pulang ke rumah .
Keesokan harinya, mentari menampakkan
sinar hangatnya menyinari seantero bumi. Kulangkahkan kaki menuju sekolah
dengan semangat yang pasti. Dan akhirnya pada saat keluar main, bagai ketiban
durian runtuh, terdengar kabar bahwa aku adalah salah satu siswa yang lulus
dalam seleksi kemarin. Wahh bangeddddttt......
Kupersiapkan
hari-hari berikutnya untuk mengikuti DJAa, tetapi sesuatu yang tidak ku sangka
terjadi . Hmmm...aku tidak mendapat izin dari kedua oerang tuaku. Mereka
berkata ini bukan acara sekolah. Aku hanya diam dan measuk kamaar lalu
meeeeee......nangiiiiiizzz.....................Kuharap hari-hari kedepannya
bisa lebih baik dari ini.
Tangggal 10 Januari adalah hari dimana
kami para pesrta yang lulus harus mengumpulkan uang pendaftaran. Pada saat itu
aku bingung karena orang tuaku tidak memberikan izin untuk mengikuti acara ini
jadi darimana aku bisa dapat uangnya ??? Ohhh...no ! Saat itu aku hanya punya
uang simpanan sebesar Rp 200.000,00 . Kuhela nafas panjang, kurang 25 ribu
lagiii nihh....masa aku harus pinjam ? Aku tidak mau menembah daftar bon utangku
lagii.....hehehehehehh. Akhirnya dengan beberapa pertimbangan aku memberanikan
diri meminta uang pada ayah.
“Ayah, hari ini hari pembayaran
pendaftaran” kataku
. Ayahku lalu berkata “ itu bukan acara
sekolah”.
Setelah diam sejenak, aku berkata “Akan ada
surat isin dari sekolah, Yah “ kataku.
Akhirnya ayah
berkata “ Ohh...kalau begitu.....”pinta ayah. Belum selesai kalimat yang keluar
dari mulutnya namun ayah bergegas ke kamar dan memberiku tralalalalall.......ia
memberikanku uang Rp 225.000,00. Aku senang bukan kepalang. Alhamdulillah
ternyata Allah SWT mendukungku untuk mengikuti acara DJAa ini. Aku pun
berangkat sekolah dengan hati yang berbunga-bunga.
Tanggal 10 Januari 2012, hari
keberangkatan kami. Namun malam itu hujan turun dengan derasnya. Sementara
untuk menuju ke Perwakilan aku hanya menempuhnya dengan sebuah sepeda motor.
Alhasil, setelah tiba di perwakilan pakaian yang melekat di tubuhku basah
semua. Ibu menyuruhku untuk mengganti pakaian namun karena waktu telah
menunjjukkan pkul 08.00 wita sehingga mobil harus segera berangkat. Dan bisa di
tebak lagi di atas mobil aku kedinginan. Belum lagi mobil yang kami tumpangi
untuk mencapai kota Angin Mamiri yang menjadi tempat pelaksanaan DJAa adalah bus AC. Akibatnya flu yang memang sudah
menjadi sahabat akrabku belakangan ini semakin parah. Tapi aku percaya semua
hambatan yang menghiasi perjalananku menuju DJAa ini membuktikan bahwa DJAa
memang pantas untuk diiikuti. Ingat kan kata pepatah semakin tinggi pohon maka
semakin kencang angin menerpanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar