Rabu, 17 Oktober 2012

Goresan Pena DJAa


Hari itu Senin, 14 November 2011 dari sebuah ruang kelas terdengar suara riuh-rendah. Canda tawa para siswa menggema kelas itu. Yah, itulah kelasku, X.I. Begitulah suasana kelas ketika guru yang biasanya mengajarkan mata pelajaran Biology berhalangan hadir. Namun sebagai gantinya kami diberikan tugas yang akan dikumpulkan pada akhir pelajaran nanti.
“ Teman-teman, kalian udah tahu kalau di sekolah kita di buka pendaftaran DJAa loh ???” kata Siti disela-sela kesibukannya mengerjakan tugas. Aku yang belum tahu sedikitpun tentang DJAa seraya  berkomentar “ Apa itu DJAa ?” kataku balik bertanya. Siti akhirnya menceritakan sedikit tentang DJAa.
Katanya sihh DJAa itu Diklat Jurnalis Abu-abu yang akan dilaksanakan di Makassar, pokoknya kegiatan yang berhubungan dengan dunia Jurnalistik lah.
Di benakku saat itu muncul tanda tanya besar. Sebenarnya apa itu Junalis Abu-abu ?. Rasa ingin tahu itu memuncak sehingga membuat aku tidak sabar ingin mengtahui apa yang sebenarnya. Saat mendengar kata Abu-abu yang terpikirkan saat itu adalah rahasia ( samar-samar ). Yahh, seperti warnanya, abu-abu itu abstrak. Tidak jelas. Sehingga pada saaat itu saya menyimpulkan bahwa Jurnalis Abu-abu itu wartawan rahasia.  Pikiranku melayang-layang di udara,namun suara nyaring lonceng pertanda bel pulang sekolah membuyarkan lamunanku.
Keesokan harinya, aku segera menemui kakak kelas yang kemarin menginformasikan mengenai DJAa itu. Kak Wawan Darmawan. Yah itulah namanya. Dia termasuk kakak kelas idola. Tinggi, Putih, Pintar. Kurang lebih begitulah gambaran seorang Kak Wawan. Selain Kak Wawan, ada juga Kak Taufan. Usia Kak Taufan  sedikit lebih muda dari kak Wawan.
Sesampainya di kelas XII. IPA 1, aku langsung menemui kak Wawan dan memberitahukanperihal keinginanku untuk mengikuti DJAa bersama teman-teman sekelasku yang lain. Nah dari penjelasan Kak Wawan inilah aku bisa mengerti tentang apa sebenarnya Diklat Jurnalistik Abu-abu itu (DJAa). Jauh berbeda dari pemikiranku sebelumnya. Ternyata Jurnalis Abu-abu itu adalaha Jurnalis yang merupakan siswa SMA. Dikatakan abu-abu mengacu pada warna rok sekolah SMA pada umumnya yaitu Abu-abu.
Satu minggu berlalu. Dan kemudian aku mendapat informasi bahwa peminat DJAa di sekolahku ternyata bukan hanya teman-teman sekelasku saja tetapi banyak juga dari kekas lain. 20 orang. Yah 20 orang. Angka yang cukup banyak. Namun bukannya berdampak positif tetapi jumlah peminat yang banyak itu malah memberikan dampak negatif  karena kuota maksimal untuk satu sekolah hanyalah 3 orang. What ?? 3 orang ?! Hmm...bakal banyak yang gugurr nihh.....???
Namun bagi Kak Wawan dan Kak Taufan peminat yang banyak itu tidak bermasalah karena mereka telah menyiapkan 2 macam test untuk menyeleksi para peminat dari DJAa itu.
Hari itu, Kamis 15 Desember 2011.....aku berangkat ke sekolah dengan perasaan yang biasa-biasa saja. Setelah tiba di sekolah, ada penyampaian kalau aku mendapat panggilan dari Bu Sri Ayu, Wali Kelasku. Aku bergegas menuju ruang Bu Ayhu. Setelah tiba disana ternyata aku disuruh menulis Raport Siswa. Segera ku kerjakan tugas itu dengan hati-hati. Namun di saat aku sedang asyik menulis Raport teman-temanku, pintu ruang Bu Sri diketuk. Dan muncullah , Laras, teman sekelasku. Ia memberitahukan bahwa  sekarang adalah hari dimana kita akan melaksanakan tes seleksi peserta DJAa. Astagfirullah,,, aku lupa. Mungkin karena kegiatan porseni yang sedang berlangsung di sekolah serta kesibukan lainnya akhirnya tes seleksi DJAa itu terlupakan.
Bu Sri Ayu ternyata tidak meberikan izin kepadaku untuk mengikuti seleksi itu.
“ Kerjakan dahulu baru boleh keluar” pinta Bu Sri Ayu. Dalam hatiku ada sedikit kekecewaan but not problem aku masih punya harapan.
Aku mengerjakan tugas dari Bu Sri Ayu dengan secepat mungkin. Perasaanku mulai tidak tenang.  Setelah setengah jam kemudian, tugas menulis Raport itu pun selesai. Hmmm....lega juga... Aku langsung menuju kelasku secepat mungkin. Aku berharap tes seleksi DJAa belum selesai. Selangkah sebelum memasuki kelas aku sangat deg-degan. Akhirnya ku beranikan diriku dan ahhh......alhamdulillah. Ka Taufan yaang melakukan seleksi itu  masih berada di dalam kelas. Aku segera menghadap ke ka Taufan dan ia segera mempersilahkan aku mengikuti tes.
 Ku baca soal-soal yang ada di lembar kertas itu sambil mengatur nafasku yang masih terengah-engah. Huhhhh...susaahhh....aku sama sekali belum mempunyai pengetahuan tentang itu semua. Pertanyaan-pertanyaan itu berkaitan dengan membuat artikel, membuat mading, tekhnik fotografi yang baik, dan lain sebagainya. Ku coba menjawab dengan sebaik-baiknya namun tetap saja sulit untuk kucerna.. Bahkan di salah satu jawaban...aku menulis “ saya tidak tahu tapi nanti saya cari di Google. Saya yakin Paman Google bisa membantu. Maaff yahh,,,tapi saya lebih suka sportif daripada benar tapi itu hasil contekan.”
Setelah menjawab semua pertanyaan dengan jawaban-jawaban unik bin aneh. Aku dengan percaya dirinya mengumpulkan lembar jawaban itu ke Kak Taufan. Lalu menghadapi test berikutnya yaitu Wawancara. Ku siapkan mental untuk menjawab pertanyaan itu dengan sebaik-baiknya. Setelah itu aku pulang ke rumah .
Keesokan harinya, mentari menampakkan sinar hangatnya menyinari seantero bumi. Kulangkahkan kaki menuju sekolah dengan semangat yang pasti. Dan akhirnya pada saat keluar main, bagai ketiban durian runtuh, terdengar kabar bahwa aku adalah salah satu siswa yang lulus dalam seleksi kemarin. Wahh bangeddddttt......
Kupersiapkan hari-hari berikutnya untuk mengikuti DJAa, tetapi sesuatu yang tidak ku sangka terjadi . Hmmm...aku tidak mendapat izin dari kedua oerang tuaku. Mereka berkata ini bukan acara sekolah. Aku hanya diam dan measuk kamaar lalu meeeeee......nangiiiiiizzz.....................Kuharap hari-hari kedepannya bisa lebih baik dari ini.
Tangggal 10 Januari adalah hari dimana kami para pesrta yang lulus harus mengumpulkan uang pendaftaran. Pada saat itu aku bingung karena orang tuaku tidak memberikan izin untuk mengikuti acara ini jadi darimana aku bisa dapat uangnya ??? Ohhh...no ! Saat itu aku hanya punya uang simpanan sebesar Rp 200.000,00 . Kuhela nafas panjang, kurang 25 ribu lagiii nihh....masa aku harus pinjam ? Aku  tidak mau menembah daftar bon utangku lagii.....hehehehehehh. Akhirnya dengan beberapa pertimbangan aku memberanikan diri meminta uang pada ayah.
“Ayah, hari ini hari pembayaran pendaftaran” kataku
. Ayahku lalu berkata “ itu bukan acara sekolah”.
 Setelah diam sejenak, aku berkata “Akan ada surat isin dari sekolah, Yah “ kataku.
Akhirnya ayah berkata “ Ohh...kalau begitu.....”pinta ayah. Belum selesai kalimat yang keluar dari mulutnya namun ayah bergegas ke kamar dan memberiku tralalalalall.......ia memberikanku uang Rp 225.000,00. Aku senang bukan kepalang. Alhamdulillah ternyata Allah SWT mendukungku untuk mengikuti acara DJAa ini. Aku pun berangkat sekolah dengan hati yang berbunga-bunga.
Tanggal 10 Januari 2012, hari keberangkatan kami. Namun malam itu hujan turun dengan derasnya. Sementara untuk menuju ke Perwakilan aku hanya menempuhnya dengan sebuah sepeda motor. Alhasil, setelah tiba di perwakilan pakaian yang melekat di tubuhku basah semua. Ibu menyuruhku untuk mengganti pakaian namun karena waktu telah menunjjukkan pkul 08.00 wita sehingga mobil harus segera berangkat. Dan bisa di tebak lagi di atas mobil aku kedinginan. Belum lagi mobil yang kami tumpangi untuk mencapai kota Angin Mamiri yang menjadi tempat pelaksanaan DJAa  adalah bus AC. Akibatnya flu yang memang sudah menjadi sahabat akrabku belakangan ini semakin parah. Tapi aku percaya semua hambatan yang menghiasi perjalananku menuju DJAa ini membuktikan bahwa DJAa memang pantas untuk diiikuti. Ingat kan kata pepatah semakin tinggi pohon maka semakin kencang angin menerpanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar